Berita

 Network

 Partner

Pemahaman Ngawur tentang Berbakti Kepada Orangtua
(Foto Ilustrasi: Istimewa)

Pemahaman Ngawur tentang Berbakti Kepada Orangtua

Berita Baru, Tips – Dulu, aku tidak berani untuk nolak permintaan orangtua, takut durhaka, dosa. Jadi, apapun perkataan orangtua, aku mengikuti, sekalipun kadang hati kecil ku tidak setuju. Setelah belajar, jalanin hidup. Aku sadar, bahwa konsep berbakti dan konsep durhaka yang aku pahami salah besar.

Apalagi kalau belajar kisahnya Saad bin Abi Waqas, seorang sahabat nabi yang disuruh ibunya buat keluar agama. Ternyata, ya kita bisa nolak permintaan orangtua, selama caranya baik, dan tidak berniat menyakiti orangtua kita. Aku belajar, bahwa orangtua juga bisa saja salah, misal mengarahkan hidup atau karir kita, ya bisa saja ada kesalahan. Yang parahnya, kesalahan itu, bisa malah mendzalimi kita sebagai anak.

“Aku ngikut perkataan dan permintaan orangtua aja. Aku mau berbakti sama orangtua. Soalnya kalau nolak, takut jadi anak durhaka, takut dosa”

Pernah dengar kalimat ini atau pernah berprinsip seperti itu?

Sekarang pertanyaannya, kalau orangtua kita minta untuk mencuri, membunuh, meninggalkan Tuhan, apakah menolak permintaan itu membuat kita menjadi anak yang durhaka dan tidak berbakti?

Mari kita luruskan sejenak, sebuah pemahaman yang salah namun sudah sangat populer ini. Berbakti, bukan berarti mengikuti semua yang orangtua minta dan yang orangtua inginkan, bukan. Karena tidak semua yang diperintahkan orangtua, itu baik bagi kita, bahkan bagi dirinya.

Berbakti pada orangtua, artinya kita berbuat baik pada orangtua dan juga menjaga orangtua dalam jalan kebaikan dan kebenaran, menjaga orangtua di jalan yang Tuhan ridloi. Jika orangtua kita melakukan kesalahan atau melakukan hal yang keliru, lantas kita mengingatkannya, maka itu juga bagian dari berbakti pada orangtua, sekalipun itu harus dilakukan dengan cara berkonflik.

Berita Terkait :  6 Makanan Penguat Imunitas Tubuh untuk Melawan Covid-19

Karena itu, jangan asal mengiyakan dan mengikuti apa perintah orangtua, tanpa berpikir sama sekali. Pikirkan, apakah ini baik bagi saya, baik juga bagi orangtua? Apalagi kalau yang dibahas, tentang pilihan hidup, misalnya pilihan kuliah, karir, pasangan.

Selama kita menggunakan cara dan bahasa yang baik dan sopan, maka tidak durhaka seorang anak yang menolak permintaan orangtua, demi menjalani jalan yang benar. Tidak dosa seorang anak menolak perintah orangtua, jika perintah orangtua justru membawa pada kehidupan yang tidak baik.

Malah bisa jadi, anak yang durhaka itu, adalah anak-anak yang tidak berkonflik, tapi membiarkan orangtuanya melakukan kesalahan, yang membiarkan orangtuanya mengambil jalan yang tidak diridloi Tuhan, dengan alasan “Aku ingin menjadi anak yang berbakti bagi orangtua.”

Berita Terkait :  Sering Merasakan Toxic Parenting? Apa yang Bisa Dilakukan Sebagai Anak?