Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Kepolisian Thailand
Kepolisian Thailand saat melakukan operasi di pusat perbelanjaan (foto:istimewa)

Pelaku Penembakan Brutal di Thailand Karena Dipicu Dendam



Berita Baru, Thailand – Penembakan brutal di berbagai tempat yang terjadi di Thailand sejak Sabtu hingga Minggu dilaporkan sudah menelan korban mencapai 30 orang.

Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-ocha menggungkapkan motif penembakan dipicu dendam karena pelaku ditipu dalam penjualan tanah.

Pelaku bernama Sersan Jakraphanth Thomma tersebut sudah ditembak mati oleh pesukan keamanan khusus dari Datesemen Khusus Anti-Teror Thailand setelah di kepung di sebuah pusat perbelanjaan di Kota Korat, Nakhon Ratchasima.

“Tersangka dimotivasi oleh perasaan dendam atas kesepakatan penjualan tanah,” kata PM Prayuth Chan-ocha dikutip Russia Today, Senin (10/2).

Aksi yang dilakukan diawali dengan membunuh komandannya dan dua rekan sesama tentara, sebelum ia mencuri senjata, amunisi, dan Humvee di pangkalan militernya.

Kemudian ia pergi ke sebuah kuil Buddha dan selepas itu ia beraksi di pusat perbelanjaan. Di Mal itulah kemudia ia menembaki pengunjung sebelum ia menyandra banyak orang. Setelah 17 jam kemudia dia ditembak mati oleh pasukan khusus.

Selama aksinya, pelaku sempat memposting beberapa tulisan di halaman Facebook-nya, seperti “Tidak ada yang bisa lolos dari kematian,” dan “Haruskah saya menyerah?,”. Namun, kemudia postingan itu dihapus.

PM Prayut Chan-o-cha mengatakan dalam konferensi pers dia telah memerintahkan semua lembaga terkait untuk membantu para korban dan keluarga mereka yang menderita dari apa yang disebutnya “ledakan kekerasan” yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Saya harus mengakui bahwa situasi seperti ini tidak pernah terjadi di Thailand sebelumnya, Dan itu tidak boleh terjadi lagi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Menurutnya saat ini penyelidikan atas insiden itu sedang berlangsung. Pemimpin Thailand ini berterima kasih kepada anggota masyarakat karena telah menyumbangkan darah sebagai respons atas pembantaian itu.