Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Asma
Ternyata pekerja malam lebih rentan untuk mengidap penyakit Asma, Sumber : Dailymail.co.uk

Pekerja Malam Hari Lebih Rentan Mengidap Asma



Berita Baru , Inggris – Ternyata pekerja shift malam lebih mungkin akan mengidap asma daripada orang yang bekerja normal 8 jam setiap harinya.

Dilansir dari Dailymail.co.uk, Penelitian mengungkapkan, para pekerja waktu malam tampaknya memiliki risiko sepertiga lebih besar terkena asma daripada rekan mereka yang bekerja di waktu normal (pagi sampai sore).

Peneliti yang dipimpin dari Manchester – Inggris, menemukan bahwa kondisi asma sedang hingga berat lebih sering terjadi pada pekerja di waktu malam, terutama mereka yang bekerja secara permanen khusus di malam hari.

Menurut tim, implikasinya bisa sangat luas, dilihat dari dari hasil riset dimana satu dari lima anggota pekerja ternyata bekerja penuh waktu atau bekerja di malam hari.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa kerja di waktu malam dapat memaksa jam tubuh internal seseorang tidak sinkron dengan siklus harian sinar matahari dan masa gelap di malam hari.

Para ahli menyimpulkan, hal ini dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan metabolisme, penyakit kardiovaskular, hingga kanker.

Gejala asma, seperti kondisi nafas mengi sangat bervariasi dan dapat berubah sesuai waktu siang atau malam.

Mengingat hal ini, para peneliti ingin mengetahui apakah kerja di waktu malam mungkin juga terkait dengan peningkatan risiko asma serta peningkatan tingkat parahnya.

Mereka juga mulai mengeksplorasi peran kecenderungan genetik seseorang terhadap asma, serta kronotipe diri mereka (apakah jam tubuh individu mereka lebih menyukai menjadi aktif secara normal atau aktif dimalam hari)

Tim tersebut menganalisis data kesehatan, gaya hidup, dan pekerjaan, yang dikumpulkan dari tahun 2007 hingga tahun 2010, pada lebih dari 286.000 pekerja Inggris, yang dimana semuanya berusia antara 37 sampai 72 tahun.

Dari subjek penelitian, 83 persen pekerja bekerja pada jam kantor biasa. Sementara sisanya bekerja secara shift, sekitar setengahnya termasuk malam sesekali saja atau secara permanen.

Tim mencatat bahwa, dibandingkan dengan mereka yang dipekerjakan secara normal 8 jam di siang hari, pekerja shift malam lebih cenderung berkelamin laki-laki, perokok, dan dari perkotaan atau daerah yang lebih tertinggal.

Pekerja shift malam juga biasanya minum lebih sedikit alkohol, tidur lebih sedikit dan menghabiskan lebih banyak waktu di tempat kerja.

Pekerja shift malam tampaknya lebih cenderung menjadi “burung hantu”. Biasanya memiliki riwayat kesehatan yang lebih buruk dan bekerja baik dalam pekerjaan pelayanan atau sebagai pengolah, pabrik atau operator mesin. Sebaliknya, jam kerja normal cenderung lebih bersifat administratif.

Sekitar sebanyak lima persen dari peserta penelitian tercatat menderita asma, dengan hampir dua persen memiliki gejala yang sedang hingga parah.

Para peneliti membandingkan kejadian diagnosis asma, kondisi paru-paru dan gejala asma antara pekerja kantoran dan pekerja shift.

Para peneliti menemukan bahwa pekerja shift malam permanen ternyata 36 persen lebih mungkin menderita asma sedang hingga berat dibandingkan pekerja kantoran secara normal. Hal ini juga melihat faktor risiko lain seperti usia dan jenis kelamin telah diperhitungkan.

Demikian pula, kemungkinan gejala nafas sulit atau mengi dialami sebanyak 11-18 persen lebih tinggi di antara pekerja shift malam. Sementara risiko fungsi paru-paru yang buruk tampaknya 20 persen lebih mungkin di antara pekerja shift malam yang sesekali dan yang permanen.

Tim juga menemukan tipe  ‘kronotipe ekstrem’, yaitu mereka yang cenderung melek di malam hari atau bangun terlalu pagi, keduanya secara signifikan lebih mungkin menderita asma.

Pekerja Malam Hari Lebih Rentan Mengidap Asma
Gangguan asma sedang hingga tinggi cenderung terjadi di pekerja shift malam

Selain itu, tipe pekerja yang bangun terlalu awal, dan bekerja pada malam hari atau waktu secara acak, ternyata 55 persen lebih mungkin menderita asma sedang hingga berat, terlepas dari kerentanan genetik terhadap kondisi tersebut.

Para peneliti memperingatkan bahwa – karena penelitian mereka hanya bersifat observasi, mereka belum menetapkan alasan pasti mengapa pekerja malam memiliki risiko asma yang lebih besar.

“ Masuk akal bahwa ketidaksejajaran sirkadian (waktu tubuh manusia) menyebabkan timbulnya penyakit asma.” kata penulis makalah dan ahli pernapasan Hannah Durrington, dari University of Manchester, pada Senin (16/11).

Menariknya, kronotipe berubah seiring bertambahnya usia. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang lebih tua mungkin merasa lebih sulit untuk menyesuaikan diri dengan kerja shift malam daripada orang dewasa yang lebih muda.

“Implikasi kesehatan masyarakat dari temuan kami berpotensi menjangkau jauh, karena baik kerja shift dan asma adalah hal yang umum di dunia industri.”

“ Gangguan asma telah mempengaruhi 339 juta orang di seluruh dunia dan biaya layanan kesehatan dan perawatan lebih dari £ 1 miliar atau sekitar 18 Triliun Rupiah di Inggris saja”, tambah Hannah.

“ Tidak ada pedoman klinis nasional khusus tentang bagaimana mengelola gangguan asma pada pekerja shift malam” katanya.

Para peneliti telah menyarankan bahwa pengusaha harus mempertimbangkan untuk menyesuaikan jadwal kerja shift para pekerja agar sesuai dengan kronotipe individu.