Pangkas Utang, Perdana Menteri Libanon Dorong Reformasi

Perdana Menteri Libanon
perdana Menteri Libanon,Saad Hariri (Foto: wikimedia.org)

Berita Baru, Internasional – Perdana Menteri Libanon, Saad Hariri berjanji akan menstabilkan masalah ekonomi negaranya dengan defisit anggaran sekitar 7% tahun depan.

Saad Hariri mengatakan kepada CNBC di Beirut pada Rabu (4/9) : “Saya mengerti bahwa kami memiliki masalah tetapi saya sangat yakin bahwa kami dapat keluar dari masalah ini jika kami mengikuti semua langkah yang kami lakukan di depan kami.”

“Apa yang kami lakukan adalah untuk memperbaiki hutang kami ke PDB (produk domestik bruto), defisit dan anggaran kami menjadi 7,6% tahun ini, kami ingin turun ke 7% tahun depan, atau mungkin sedikit berkurang dan terus berupaya menstabilkan defisit ” tambahnya dalam wawancara yang disiarkan Rabu (4/9).

Hariri juga mengatakan dia berkomitmen untuk menjaga patokan mata uang pound Lebanon pada dolar AS.

Pada hari Senin, Libanon berada di ambang darurat ekonomi dan memulai rencananya untuk mempercepat reformasi dalam upaya untuk menyelamatkan ekonomi negaranya.

Libanon adalah salah satu negara yang paling berhutang di dunia, dengan hutang publik sekitar 150% dari produk domestik bruto (PDB), menurut Dana Moneter Internasional (IMF).

Berita Terkait :  Kemenlu Cina Klaim Virus Corona Dibawa Militer AS ke Wuhan

Parlemen mengeluarkan anggaran baru pada bulan Juli, yang berisi sejumlah langkah untuk memotong defisit negara menjadi 7,6% dari PDB, dari 11,5% tahun lalu. Langkah-langkah penghematan akan memungkinkan Lebanon untuk membuka $ 11 miliar dalam bantuan yang dijanjikan oleh donor internasional pada Konferensi CEDRE di Paris pada bulan April, 2018.

Banyak negara dengan tingkat utang yang sama dengan Lebanon biasanya akan mencari dana talangan, tetapi Hariri mengatakan itu tidak perlu bagi negaranya.

“Kami tidak masuk ke dalam program karena kami merasa prosedur dan reformasi yang akan kami lakukan adalah hal yang sama seperti yang disarankan IMF untuk kami lakukan.”

Sumber : CNBC
- Advertisement -

Tinggalkan Balasan