Nelayan Kodingareng Masih Diteror oleh Polairud Polda Sulsel

Berita Baru, Jakarta – Nelayan Kodingareng Lompo Sulawesi Selatan terus merasa diteror oleh Polairud Polda Sulsel. Sejak tanggal 12 intimidasi dan teror kerap dirasakan oleh nelayan pulau.

Bahkan keberadaan personel Polairud juga sangat memengaruhi psikologi warga. Secara psikologis, nelayan yang diincar mengalami ketakutan, apalagi pola penangkapan Polairud sebelumnya selalu dibarengi dengan pemukulan.

Misalnya, pada 12 September lalu peristiwa penangkapan 11 orang (7 nelayan, 3 aktivis pers mahasiswa, dan 1 aktivis lingkungan) pada proses penangkapan, terjadi terjadi pemukulan.

Pola intimidasi dan teror tersebut dikarenakan aksi nelayan yang menolak keras aktivitas tambang pasir laut oleh kapal Queen of Netherlands (Boskalis) yang menghancurkan wilayah tangkap nelayan tradisional di Pulau Kodingareng Lompo.

Berdasarkan catatan Aliansi Selamatkan Pesisir (ASP), jumlah nelayan Pulau Kodingareng Lompo yang sedang dicari dan diincar oleh Polairud Polda Sulsel sebanyak 12 orang. Para nelayan tersebut merasa ketakutan, karena merasa di intimidasi dan diteror dari oknum personil Polairud Polda Sulsel selama kurang lebih 3 hari ini (13 – 15 September 2020).

Berita Terkait :  Update Covid-19 20 Mei : 19.189 Kasus, 4.575 Sembuh, 1.242 Meninggal

Hal ini berdampak pada psikis beberapa orang nelayan sehingga mereka terpaksa meninggalkan pulau lantaran tidak tahan dengan intimidasi dan teror oleh oknum personil Polairud.

Bahkan salah satu istri nelayan yang diincar masih dalam keadaan sakit lantaran mengetahui suaminya di intimidasi dan diteror.

Selain itu, belasan nelayan tersebut sudah 4 hari tidak melaut lagi, karena merasa ketakutan. Mereka takut jika terjadi penangkapan di laut.

Oleh sebab itu, mereka mendesak Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) RI, Kompolnas, dan Komnas HAM untuk segera menyikapi persoalan yang dihadapi oleh nelayan Pulau Kodingareng Lompo.

“Polda Sulsel, Cq Dit. Polairud untuk menghentikan intimidasi dan teror terhadap nelayan pulau Kodingareng Lompo,” tegasnya.

Mereka juga menuntut agar Polda Sulsel segera menarik personel Polairud dari pulau Kodingareng Lompo.

“Gubernur Sulsel untuk segera menghentikan seluruh aktivitas tambang, dan mencabut izin terkait tambang pasir laut di wilayah tangkap nelayan yang merupakan wilayah Spermonde,” pungkasnya. (*)

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan