Berita

 Network

 Partner

Aktivitas Militer NATO

NATO Meningkatkan Aktivitas Militer di Perbatasan Rusia

Berita Baru, Internasional – Dalam sebuah pertemuan pada hari Senin (1/6), Kepala Staf Umum Direktorat Operasional Utama Rusia, Sergey Rudskoy menyebut bahwa AS dan NATO telah melakukan aktivitas militer yang tinggi di dekat perbatasan Rusia.

“Kementerian Pertahanan Rusia terus-menerus memantau dan mendata aktivitas militer tingkat tinggi AS dan sekutu-sekutu NATO-nya di dekat perbatasan kami,” ujar Rudskoy dalam pertemuan itu mengutip Sputnik.

Meskipun tengah berada dalam situasi pandemi virus korona, NATO tetap meningkatkan jumlah latihan militer yang tampaknya menargetkan Rusia.

NATO juga memodernisasi stasiun radar GLOBUS III di Norwegia yang bertujuan untuk memperluas kemampuan pengintaian AS terhadap Rusia.

Menanggapi hal itu, dalam kesempatan yang sama, Sergey mengecam tindakan militer AS yang ‘agresif’ itu di wilayah Laut Mediterania, yang mana hal itu bertentangan dengan perjanjian wilayah udara Suriah.

“Secara sistematis, ketika terbang di atas Mediterania Timur, pesawat Angkatan Laut AS dari jenis Poseidon mendekati pangkalan militer Rusia di Khmeimim dan Tartus. Untuk mencegah gerakan pengintaian yang agresif, kami dipaksa untuk menghancurkan kapal perusak kami yang sedang bertugas. Kasus semacam ini di bulan April terjadi tujuh kali, sementara di bulan Mei tercatat ada 17 kali. Catatan ini menunjukkan adanya peningkatan lebih dari dua kali. Kami melihat penerbangan seperti itu bertentangan dengan perjanjian yang ditandatangani untuk mencegah insiden di wilayah udara Suriah,” tegas Rudskoy.

Berita Terkait :  Arab Saudi Kembali Buka Ibadah Umrah, Kurs Riyal Menguat

Tidak hanya di perbatasan wilayah Laut Mediterania, menurut Rudskoy AS juga meningkatkan intensitas pengawasan udara di daerah Laut Baltik, Laut Hitam dan bagian timur Laut Mediterania.

“Di samping kekuatan AS yang ada di Rumania, aktivitas dan infrastruktur pertahanan rudal di Polandia juga meningkat. Semua kekhawatiran terkait dengan kemungkinan penempatan rudal jelajah Tomahawak di sana tetap berlaku,” imbuh Rudskoy.

Proposal Deeskalasi Rusia Diabaikan NATO

Selain mengecam adanya peningkatan aktivitas di wilayah perbatasannya, Rudskoy juga mengecam rencana NATO untuk melakukan latihan militer di Baltik dan Kaukasus pada tanggal 9 Mei.

Namun karena waktu itu sedang diterapkan aturan karantina wilayah (lockdown), NATO tidak jadi melakukan latihan militer tersebut.

Berita Terkait :  China dan Rusia Gelar Latihan Militer Bersama Skala Besar, Ada Apa?

“Perlu dicatat bahwa latihan ini jelas bersifat anti-Rusia. Misalnya, operasi amfibi di Baltik dan Kaukasus, yang diperkirakan akan diadakan pada malam 9 Mei. Ini tidak terjadi hanya karena karantina. Hampir semua operasi latihan militer NATO dilakukan di tempat pelatihan yang terletak dekat dengan perbatasan kami. Objek yang terletak di wilayah Federasi Rusia dilihat oleh NATO sebagai target yang mungkin,” ujar Rudskoy.

Namun, sehari sebelum rencana latihan militer NATO tanggal 9 Mei, NATO melakukan latihan militer di Laut Barents yang mana dalam latihan tersebut mempraktikkan intersepsi rudal balistik Rusia.

Latihan itu merupakan latihan pertama kali yang dilakukan NATO di dekat perbatasan sejak Perang Dingin. Menurut Rudskoy, latihan tersebut adalah salah satu bentuk provokasi AS terhadap Rusia.

Menanggapi hal tersebut, Rudskoy lebih berharap untuk berpegang pada kebijakan deeskalasi. Rusia siap memindahkan tempat latihan militer besar-besaran Kavkaz-2020 tidak di dekat perbatasan negara-negara anggota NATO, tapi lebih dalam ke wilayah mereka, jika NATO juga bersedia melakukan itu.

“Kami akan melanjutkan dengan kebijakan deeskalasi. Tahun ini, Angkatan Bersenjata Rusia tidak berencana untuk mengadakan latihan besar di dekat perbatasan negara-negara anggota NATO,” tegas Rudskoy.

Berita Terkait :  Tur Bersejarah ke Irak: Paus Bertemu Tokoh Syiah Dunia, Ayatollah Sistani
NATO Meningkatkan Aktivitas Militer di Perbatasan Rusia
Pengarahan oleh Letnan Jenderal Sergey Rudskoy, Kepala Direktorat Operasi Utama Staf Umum Rusia

Rudskoy juga menegaskan bahwa Rusia juga siap untuk menyetujui pemberlakuan jarak minimal NATO dengan Rusia, baik itu terkait kapal militer, pesawat tempur, maupun aturan untuk interaksi personel.

“Hari ini, ketika dunia memfokuskan upayanya untuk memerangi penyebaran infeksi COVID-19, perlu untuk mengurangi konfrontasi, menahan diri dari kegiatan agresif dan unjuk kekuatan,” Rudskoy menambahkan.

Sementara itu, NATO belum menanggapi secara serius penawaran deeskalasi dari Rusia.

“Semua gagasan kami tentang meredakan ketegangan militer dituangkan dalam surat Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov kepada Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg. Proposal kami secara de facto diabaikan,” terang Rudskoy.

Terlepas dari pandemi global virus korona yang sedang berlangsung, batalion NATO Enhanced Forward Presence yang di Latvia telah mengadakan latihan militer pada bulan April. Latihan militer itu mengerahkan sekitar 600 tentara dan 100 kendaraan militer di dekat kota Daugavplis.