Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Musim Ketiga | Puisi-Puisi Kedung Darma Romansha
Ilustrasi puisi: Unalmario

Musim Ketiga | Puisi-Puisi Kedung Darma Romansha

Tentang Puisi yang Nyengir
di Toko-toko dan Kafe-kafe dan Jalan-jalan

kamu bayangkan mantan pacarmu nyengir
sambil bermesraan dengan pacar barunya.
di malam minggu yang gerimis
di malam minggu yang tidak romantis.

dan sekarang lihat di depan matamu
toko-toko, kafe-kafe, pedagang-pedagang yang berbaris,
seperti mantan pacarmu yang nyengir
sambil menggandeng pacar barunya.

kamu tak perlu menguras pikiranmu yang payah itu
kamu hanya cukup membayangkan senyum mantan pacarmu.

masih tak bisa juga?
baik, sekarang kamu datanglah ketika lapar
dan tak punya uang sepeser pun.
apa? ok, boleh punya uang
tapi tinggal seribu.
ini akan lebih dramatis.

nah, sambil berjalan kamu bayangkan toko-toko,
kafe-kafe, dan pedagang yang berbaris
seperti mantan pacarmu yang nyengir
sambil menggandeng pacar barunya.

bagaimana? kamu pasti bisa. apa kubilang.
“Tidak bisa, yang muncul malah kambing yang nyengir.”
setan!

Bibir Merah Cabe

pedasnya sampai ubun kepala
tapi selera cuma seujung lidah.

“Rasa tak pernah bohong
lidahlah yang pembohong.”

sebab tanah kering di lambungmu
jadi retakan di hatimu.
keringat yang keluar dari pedasnya
dan kita jadi merah yang hilang baranya.

Musim Ketiga

1)
kau dengar suara jam
terputus-putus di hatimu
sepanjang pantai utara
dan sawah yang tumbuh di kepalamu.

kau dengar bunyi tayub
terapung di tengah laut.
masihkah kau ingat?
rindu hanyut
berkabar bagi ombak
dan jalan basah di hatimu.

di malam yang sekerat
jalan-jalan air asin oleh keringat
menegurmu dalam cinta yang sekarat.

2)
bau kemarau tumbuh di bunga mangga
bunga hatimu yang lama basah.
adakah kau dengar
desah angin dalam nafasmu
kering dan bau asin?
dan suara organ tarling di gerobak traktor
mengantarkan kabar
di sepanjang jalan gersang, musim yang terbakar.

o, kampung yang bau asin dan kecut
kemana kau jual keringatmu?
pada setiap kota dan negara
tertinggal bangkai nafasmu
yang terapung-apung di udara.

Malam-malam Biasa

malam-malam biasa
menyergap kita.
malam-malam biasa
sekedar gelap usia mata.

malam-malam biasa
selalu ada entah apa
yang tak dapat dituliskan
selalu ada sisa
yang tak dapat diungkapkan.

Ada yang Menghambur dari Mulutmu

ada lalat berdengung di tong sampah.

Kelahiran #1

kelahiran adalah saksi, katamu
tapi kau lupa sumpah dalam dagingmu.

kau tahu sebelum ditagih janji
kita sudah berbaju dan bercelana.
pikiran kita digantung di toko-toko
sebab bagimu
kebenaran hanya mengenal salah.

baju dan celana sudah dijual di pasar
lalu kau menagih doa
rumah-rumah tuhan lebih banyak dikunjungi
seperti mall
kau bisa membeli ayat manapun
ukuran pendek atau panjang
tergantung kebutuhan.
jangan lupa beli buat anakmu
nanti ia menangis minta pulang ke rahim-mu.

Kedung Darma Romansha, kelahiran Indramayu. Ia bersama kawan-kawan muda Indramayu mendirikan komunitas “Jamaah Telembukiyah” yang bergerak di bidang sastra dan sosial. Salah satu yang pernah dilakukan oleh komunitas ini adalah mengajar ngaji anak-anak PSK. Hal tersebut sebagai cara sekaligus upaya pendekatan sosial sebelum kemudian dilakukan penyuluhan. Novelnya yang berjudul “Telembuk (dangdut dan kisah cinta yang keparat)” masuk lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa dan buku rekomendasi Tempo 2017. Buku kumcer pertamanya “Rab(b)i” masuk short list Kusala Sastra Khatulistiwa, 2020. Bisa ditemui di channel YouTube Kedung Darma Romansha Official.