Mukus dan Childhood; Diskursus Masa Kanak yang Tak Mutu

Childhood
Lukisan yang menggambarkan kondisi Musa saat dihanyutkan di sungai.

Berita Baru, Opini – Permasalahan tentang penghinaan, perundungan atau apapun yang setaraf dengan pembacaan sebuah narasi sumber-sumber tulisan klasik tentang deskripsi biografi kenabian akhir-akhir ini seperti kekurangan bahan.

Bagaiamana tidak? Setelah menyimak beberapa video di Youtube tentang permasalahan tersebut, serta membaca beberapa tulisan yang gak jelas arahnya, maka saya pribadi cukup prihatin melihat gelagat persinggungan yang makin meruncing di antara sesama umat Islam itu sendiri.  

Bagi saya, membaca kenabian erat kaitannya dengan sisi kemanusiaan. Sebab, selain ada keajaiban yang merupakan mukjizat kenabian, pasti selalu ada masa anak-anak yang normal sebagaimana umumnya.

Jadi, ketika ditemukan teks-teks lingua sacra ataupun wacana tentang kenabian yang menonjolkan kenormalan pada masa tumbuh kembang nabi, ya, jangan lebay.

Tidakkah mereka yang berseteru tidak mengambil hikmah tentang perimbangan isi teks-teks lingua sacra semisal Alquran dan Hadis?

Baik Alquran ataupun Hadis sering memberikan perimbangan antara mukjizat kenabian dengan  keadaan norma(l). Di mana kenabian juga mengambil perimbangan sebagaimana sifat manusia biasa.

Riwayat masa kecil (childhood) Nabi Yusuf as misalnya. Ia pernah bertahan hidup saat dibuang ke sumur–yang bisa jadi hal ini merupakan contoh peristiwa dan perilaku di kehidupan manusia biasa–, serta bisa berlaku kepada siapa saja.

Pada kisah itu, keadaan dan kondisi fisik orang yang dibuang, sebagaimana masa kecil (childhood) akan beda dengan saudara nabi Yusuf as lainnya yang mungkin saja lebih terawat.

Sudah sunatullah, setiap ketidakterawatan akan bertemu dengan kekuatan mukjizat. Nabi Yusuf pun akhirnya terawat oleh seorang Amir di Mesir yang membelinya dari pasar budak.

Berita Terkait :  Hantu Itu Masih Bernama Komunisme

Masa kecil (childhood) Nabi Yusuf as yang berantakan, tak membuatnya hina ketika kisahnya diceritakan kembali. Tak membuat dirinya terdesakralisasi ketika diulang-ulang riwayat pembuangannya dan pernah menjadi budak.

Justru kita dapat mengambil hikmah dari kisah semacam itu; tidak merasa nista ketika mengalami keterbatasan dan berkekurangan

Pun begitu, tentang bayi Isa as yang tentunya saat partus (masa melahirkan) tidak mendapat kenyamanan sebagaimana bayi-bayi lainnya yang berbapak.

Kita lihat bagaimana Sayyidah Maryam dan bayinya Isa as berjuang dan bertahan–yang tentunya–dalam keadaan fisik dan rupa yang berbeda dengan mereka yang melahirkan dan terawat di rumah-rumah atau istana, pasca melahirkan. Apakah ini juga akan mengurangi keagungan mereka kalau diceritakan kembali?

Ada juga bayi Musa as yang dibuang begitu saja di sungai. Tentunya pembuangan tersebut paling sedikitnya memberikan perwakilan penderitaan dan kecompang-campingan sang bayi.

Pun begitu, Musa as yang keluh lidah akibat memakan bara di masa kecil (childhood), tidak menjadikannya hina kalau diceritakan kembali.

Pun, begitu dengan Rasulullah saw yang dalam penggambaran sirkumferensi masa kekanakan (childhood) bisa jadi bersinggungan atau mengambil bagian-bagian normalnya sebagaimana kelaziman kekanakan yang polos dan lugu.

Baik sama ataupun tidak, kesemuanya pasti akan terlewati dengan uluran mukjizat yang akan memberikan perbedaan dengan keadaan manusia pada umumnya.

Kenapa ini begitu dipermasalahkan hingga ada wacana hukum bunuh segala? Woi, man! Siapa yang mengajari ini semua?

Berita Terkait :  Walau AS-Iran Memanas, SBY Tak Ingin Perang Terjadi

Kebiasaan menarik kesimpulan hanya dengan statistika model deskriptif atau deduktif setiap permasalahan umat akan menambah runcing permasalahan.

Mereka enggan membuat analisis berdasar statistika inferensial yang sedikit telaten mengolah data dalam melahap setiap isu umat. Betapa tidak efektifnya umat ini jika permasalahan-permasalahan seperti makin meruncing dan sering muncul.    

Sungguh lucu, tentang mukus atau ingus saja begitu besar reaksi kebenciaannya terhadap yang mewacanakan. Ini tak sekedar diskursus biasa. Tak lebih terlihat sebuah persaingan dan singgungan antar kelompok yang sudah lama membara.

Tak tahukah kalian bahwa mukus atau ingus itu cairan penting yang suci. Masa kekanakan dengan ingus adalah sesuatu yang lazim.  Pernahkan itu yang mempermasalahkan membahas mukus atau ingus dalam sebuah tinjauan ilmiah yang mendalam?

Contoh lainnya, misalnya: apakah pula karena Rasul saw pernah menyusu cukup lama kepada Sayyidah Halimatus Sakdiyah di masa kanak (childhood) merupakan sesuatu yang memalukan?

Apakah juga kisah-kisah rompalnya geraham Nabi saw di perang Uhud juga merupakan sesuatu yang jelek untuk diceritakan? kemudian ada wacana: Loh, ini Nabi kok giginya rompal? Bagaimana pula tentang kisah Nabi saw yang kena tenung? Ataupun Kanjeng Nabi saw yang lupa ayat?

Tidak ada itu istilah desakralisasi kenabian hanya karena terjadi karena Beliau menampakkan kenormalan manusia biasa. Banyak ayat di dalam Alquran dan redaksi- redaksi hadis yang menjelasakan bahwa Nabi saw juga menduduki porsi sekian persen sebagai manusia biasa.

Berita Terkait :  Sastra Tetap Perlu Bicara: Ihwal Orang-Orang Oetimu

Apakah pula memalingnya muka Rasul saw dari Ummi Maktum yang buta huruf juga akan dijadikan wacana atau sesuatu yang mengurangi derajat kenabiaannya? Jelas tidak. Allah swt tak segan-segan memberi pembelajaran kepada umatnya lewat sesuatu yang manusiawi.

Teks-teks lingua sacra semacam sejarah atau tarikh yang berbasis persanadan hadis tentunya juga mempunyai nilai probabilitas keabsahan dan keotentikkannya.

Jika yang bermasalah ada pada sumbernya, dalam artian apa yang disampaikan seorang dai tentang sejarah Nabi saw, khususnya masalah masa kanaknya (childhood), ya monggo ditinjau dan dibeda kembali teks-teksnya.

Bisa jadi pula ini adalah permasalahan perspektif dan nilai probabilitas keabsahan persanadan sebuah Hadits yang menjadi dasar sejarah tersebut. Dimana sanadnya harus kembali ditinjau ulang atau dijelaskan oleh ahli hadits yang terkadang pula ada perbedaan pandangan akan status kesahihannya.

Hal lain yang menyangkut tetang sejarah atau tarikh di mana ada perbedaan bagaimana cara pandang sejarawan Islam mengumpulkan kisah-kisah tersebut dengan memakai sebuah persanadan.

Bisa jadi sanadnya sampai, atau kebalikkannya, sanadnya tidak sampai ke Rasul saw. Jadi tak sesederhana menghakimi tanpa meneliti lebih dalam lagi sumber-sumber lingua sacra-nya.

Itulah sebenarnya yang pertama harus dilakukan dulu, yaitu kaji teks-teks lingua sacra-nya sebelum melakukan penghakiman. Itu mungkin akan lebih baik hasilnya daripada langsung berkoar emosional yang tak jelas arahnya itu.

Marilah berpikir jernih. Jangan sampai ashobiyah mendahului rasa kasih sayang dan ampunan. Sesungguhnya muslim bersaudara dan saling mencintai. (*)

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan