Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Muktamar NU
Ketum PBNU Said Aqil Siradj menyampaikan narasi menyambut Muktamar ke-46 PBNU (TV9 Official)

Muktamar NU ke-34 Menjadi Momen Refleksi Moderasi Beragama



Berita Baru, Nasional – Dalam pidatonya di acara Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) Ke-34, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj menyampaikan NU lahir untuk menjawab tantangan zaman.

Setelah akhir Perang Dunia II, konsep negara-bangsa mulai lahir di berbagai belahan dunia. Umat manusia seolah terjepit di antara dua pilihan, menjadi negara sekuler atau negara agama.

“Suasana zaman pada saat NU lahir diliputi pertanyaan besar, apakah lepas perang demi perang kita sebagai umat manusia bisa hidup untuk saling berbagi di atas bumi Allah? Kalau bisa bagaimana caranya?” ujar Kiai Said dalam pembukaan Muktamar tersebut.

Muktamar NU
Penyampaian pidato Ketum PBNU Said Aqil Siradj dalam upacara pembukaan Muktamar NU ke-34 (TV9 Official)

Di Indonesia, keragaman budaya dan kepercayaan yang ada membawa pada lahirnya sikap tawassud atau moderasi dalam beragama.

“Dengan segala hormat, di Arab, agama tidak menjadi unsur aktif dalam mengisi makna nasionalisme,” ujarnya. Di sana, menjadi nasionalis yang memperjuangkan bangsa dan negara tidak dianggap sebagai pejuang agama.

Sementara di Indonesia, NU meneruskan wasiat KH. Hasyim Asy’ari, bahwa nasionalisme dan agama adalah kutub yang tak boleh dipertentangkan.

Walau demikian, moderasi nasionalisme dan Islam yang sejak awal sudah menjadi khas NU merupakan pekerjaan berat. “Tawassud antara dua kutub bukanlah perkara mudah. Tawassud mensyaratkan kecakapan pengetahuan dan kebijaksanaan. Sementara untuk menjadi ekstrim, seseorang cukup bermodalkan semangat dan fanatisme,” tegasnya.

Dalam lanskap global, moderasi beragama tengah diuji. Beberapa negara sibuk berjibaku dengan problem lama yang belum sepenuhnya tertangani sedangkan masalah baru kian menerjang seperti perubahan iklim, kesenjangan ekonomi, polarisasi percakapan dan identitas, krisis energi, radikalisme dan ekstrimisme. Ditambah, laju teknologi bergerak masif dan menawarkan kemudahan praktis dengan risiko yang tak sepenuhnya bisa dipekirakan.

Jika jarak antara nasionalisme dan agama terbentang terlampau jauh dan tak direspon, maka akan berakibat pada munculnya pertentangan antara keduanya dan melahirkan konflik sektarian seperti yang terjadi di Palestina, Rohingya, Yaman, serta Afghanistan.

Karena itulah, titik temu Islam dan nasionalisme perlu digagas demi perdamaian dan peradaban negeri.

Kemandirian, tema Muktamar NU ke-34

Tema yang diusung pada Muktamar NU kali ini adalah “Menuju Satu Abad NU, Membangun Kemandirian Warga untuk Perdamaian Dunia.” Seiring dengan tema tersebut, K.H. Said mengungkapkan, sikap moderat mustahil tercapai tanpa adanya kemandirian.

Semangat NU yang hidup hingga saat ini antara lain disebabkan adanya kemandirian dalam arti setia kepada prinsip dan nilai dasar agama, mampu menyusun agenda sendiri, teguh pada semangat agama, nasionalisme, dan kebhinnekaan, mandiri dalam bidang politik, ekonomi, dan budaya, serta sanggup bergaul dan berbagi dengan siapa saja sembari menjaga harga diri.

Tentunya, kemandirian dalam berkhidmat untuk perdamaian dunia menjadi warisan untuk mengarungi abad ke-2 bagi Nahdhliyin.

Sebagai penutup, K.H. Said mengingatkan agar Indonesia mempertahankan martabat dan jati dirinya. “Sepanjang mengelola demokrasi didasari kemaslahatan bersama, kemauan untuk mendengar, akal budi, dan kelapangan hati menerima perbedaan, maka bangsa besar ini akan semakin bermartabat,” ujarnya.

Muktamar NU
Nampak Presiden Joko Widodo bersama Ibu Iriana dan Wakil Presiden K.H. Ma’ruf Amin (TV9 Official)

Muktamar NU ke-34 dengan tema “Menuju Satu Abad NU, Membangun Kemandirian Warga untuk Perdamaian Dunia” resmi dibuka di Lampung Tengah pada hari ini (22/12). Acara tersebut digelar secara offline bersama para undangan dan secara online melalui siaran langsung Youtube TV9 Official.

Turut hadir di sana Presiden Joko Widodo didampingi Iriana Jokowi, serta Wakil Presiden K.H. Ma’ruf Amin, Gubernur Lampung beserta kepala daerah dan pengurus wilayah NU setempat.