MUI dan Baznas Tandatangani MoU Program Bimbingan Rohani Narapidana Rutan Kelas II B Gresik

    Berita Baru, Gresik – Majlis Ulama’ Indonesia (MUI) bersama Badan Amil Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Gresik menandatangani MoU dengan Lembaga Pemasyarakatan Rutan Kelas II B Banjarsari Cerme untuk melanjutkan program bimbingan kepada para narapidana di Rutan Banjarsari, Kecamatan Cerme, Gresik. Program ini diharapkan agar para napi mampu mendalami persoalan agama.

    Perlu diketahui, program yang sudah berjalan selama lima tahun dengan melibatkan MUI Gresik, Baznas Gresik dan Lembaga Pemasyarakatan Rutan Kelas II B Banjarsari Cerme. Akibat pandemi Covid-19, program unggulan MUI ini sempat dihentikan.

    Ketua MUI Gresik KH Mansoer Shodiq mengatakan, kegiatan pesantren Attaubah harus tetap dilanjutkan. Mengingat selama pandemi program ini sempat berhenti. Melalui MoU ini diharapkan, kegiatan bisa berjalan lancar sesuai konsep dan modul pembelajaran bagi santri.

    “Tentu selama lima tahun perjalanan Pesantren Attaubah, sudah banyak pengalaman selakigus pelajaran yang kita raih. Mengantarkan para santi rutan ini bisa bertaqwa,” katanya, Jum’at (12/3).

    “Hal ini tentu kita upayakan MUI yang memiliki peran dalam melakukan pembinaan supaya bahagia di dunia dan akhirat. Beberapa waktu yang lalau, MUI juga sudah berusaha dalam pasa pandemi, yang sekiranya bimbingan rohani tidak mungkin kita lakukan,” imbuhnya.

    Lebih lanjut, Mansoer menjelaskan, dalam waktu dekat lembaganya akan menerbitkan sekumpulan do’a yang akan menjadi pegangan bagi santri rutan. Kumpulan do’a diharapkan untuk bisa mendekatkan diri kepada Allah.

    Untuk itu, Komisi Dakwah tengah menyusun SOP nya, dimana dalam masa pandemi tatap muka tetap berjalan. Baznas juga telah menyiapkan dananya untuk bimbingan rohani.

    Dalam kesempatan yang sama, Kepala Baznas Gresik Drs Abd Munif menjelaskan bahwa sinergitas lembaganya dengan MUI harus tetap dijalankan. Apalagi program yang dijalankan sangat bermanfaat sekali untuk santri Attaubah di Rutan Gresik.

    Ditambahkan perwakilan Rutan Banjarsari, Anis berharap agar program kerjasama ini tetap dilanjutkan. Mengingat selama pandemi Covid-19, kegiatan keagamaan dilakukan secara mandiri. Tidak ada pengajaran maupun pendalaman keagamaan.

    “Sekarang ini, warga binaan kami ada sebanyak 901 orang, dengan kapasitas normal 200 orang. Ini tentu membutuhkan kerja lebih bagi Pesantren Attaubah dalam bimbingan rohani,” tuturnya.

    Sementara Pembina Pesantren Attaubah Dr Abdul Choliq menyebutkan, harus ada formulasi pengajaran model baru. Karena mengingat target dari satntri rutan rata-rata berusia 25 tahun keatas.

    “Mengajar anak-anak dan orang dewasa apalagi mereka yang dalam tahanan tentu modelnya harus berbeda. Walaupun materi pembelajarannya sama-sama ilmu fiqih dan qur’an,” pungkasnya.

    Ia berharap selama pengajaran tatap muka ini, tetap mematuhi protokol kesehatan. Mengingat penyebaran Covid-19 masih menjadi ancaman.

    Facebook Comments
    - Advertisement -

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini