Millenial dan Politik

Berita Baru, Opini – Millenial dan Politik seperti dua sisi mata uang. Rasanya tak ingin saling berpandangan tetapi tak mungkin juga untuk dipisahkan. Banyak yang mengatakan bahwa generasi millenial memiliki kecenderungan abai atau apatis terhadap politik.

Hal ini tentu sangat merugikan karena suka-tidak suka, politik terus bergulir. Politik jugalah yang ikut mempengaruhi setiap aspek kehidupan para millenial. Dari sekedar urusan mengakses nettflix dengan bebas hingga urusan kebebasan berekspresi.

Tak kenal maka tak sayang. Sebelum lebih jauh ngegosipin politik dan millenial, ada baiknya kita kenalan dulu nih dengan apa itu yang namanya politik dan siapa itu millenial.

Sederhananya, politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Jadi, siapa nih yang masih mau bilang kalau politik itu tidak penting? Hehe

Millenial adalah Generasi yang lahir pada kisaran tahun 1980 sampai tahun 2000-an. Saat ini generasi millennial memiliki rentang usia sekitar 20 hingga 40 tahun.

Berita Terkait :  Cegah Politik Uang, Ini 5 Hal Yang Harus Kamu Lakukan

Indonesia sendiri memiliki sekitar 80 juta orang yang berusia antara 20 hingga 40 tahun. Jumlah tersebut sangat banyak dan signifikan, mengingat populasi generasi millennial sudah mencakup 30 persen dari total penduduk Indonesia.

Dari dua pengertian antara Politik dan Millenial, kita dapat melihat sebuah hubungan romantis yang saling berkaitan. Bahwa yang akan melanjutkan pesta perpolitikan kita adalah para millenial. Waktu terus berjalan dan politik akan tiba menghampiri Millenial.

Kita tidak bisa menghindarinya. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah memahami lebih dalam lagi politik dan mulai belajar berpartisipasi menjadi subyek politik, agar tidak hanya menjadi objek politik.

Saatnya melek politik

Sudah saatnya millennial tidak apatis lagi terhadap politik. Politik tak melulu soal kongkalikong dan pemufakatan jahat. Politik hanyalah ilmu yang bergantung pada siapa penggeraknya.

Kalau kita membiarkan kepala lokomotif politik dikendalikan oleh orang yang pandir, ya otomatis politik kita tak sesuai jalur dan bau busuk. Tapi jika yang mengendalikan politik adalah orang yang baik, politik bisa menjadi alat untuk menolong tetanggamu.

Berita Terkait :  Pilkada: Upaya Meneguhkan Ruang Demokrasi

So, Saatnya memulai menjalankan roda politik sesuai pada jalurnya. Semuanya bisa kita mulai dari diri sendiri. Memangnya, kalau bukan kita, mau siapa? Naruto?

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan