Merasakan Ramadan bersama Oman Fathurahman: Hari Pertama

-

Berita Baru, Ramadan – Oman Fathurahman Guru Besar Filologi FAH UIN Jakarta berencana menulis utas di Twitter secara rutin tentang #100TanggaRuhani yang disarikan dari manuskrip Tanbih al-Masyi karangan Ulama Nusantara Syekh Abdurrauf al-Sinkili.

Program ini menurut Oman dilakukan sebagai sebentuk upaya agar seseorang lebih bisa meresapi setiap amaliahnya di Bulan Ramadan.

“Dalam setiap harinya akan ada 3-4 #TanggaRuhani yang dilalui para sufi untuk mencapai rida ilahi yanh akan saya tulis sebagai utas di Twitter,” ungkap Oman melalui pernyataan tertulis pada Senin (12/4).

Di hari berikutnya, ramadan perdana (13/4), Oman memenuhi janjinya. Ia menuliskan #TanggaRuhani pertamanya, yakni al-Yaqzah.

Oman memahami istilah tersebut sebagai bangun atau terjaga. Pada satu sisi, “terjaga” merujuk pada suatu kesadaran yang dengannya kita bisa waspada, menjaga entah hati maupun diri dari perkara yang tidak produktif dan menunjuk pada aktivitas “bangun dari tidur” pada sisi lainnya.

Konotasi kedua Oman tidak mengungkapnya secara langsung, tetapi melalui imajinasi loncat—bahasa saya—yakni bagaimana di akhir utas, Oman mengajak jemaat daringnya untuk “bangun” dari tidurnya untuk segera bersahur. Waktu unggahnya pun menunjukkan pukul 04.03 WIB dini hari.

#TanggaRuhani kedua kemudian adalah al-Taubah (bertaubat). Oman menjelaskan al-Taubah sebagai sebagai upaya berulang-ulang untuk kembali pada Tuhan.

Tulus tidaknya seseorang taubat, lanjut Oman, bisa diukur dari tiga (3) hal, yakni adanya penyesalan (al-nadm), pengakuan kesalahan (al-i’tidzar), dan menjaga jarak dari penyebab dosa (al-iqla’).

Dengan ungkapan lain, kita tidak bisa menyebut diri kita sudah taubat misalnya ketika kita tidak merasa memiliki kesalahan, tidak menyesal, dan bahkan masih saja berlaku sama—kendati sebenarnya ketika poin pertama gagal, dua sisanya otomatis akan gugur.

Adapun #TanggaRuhani ketiga dalam Kitab Tanbih al-Masyi adalah al-Inabah. Menurut Oman ini identik dengan yang kedua, kembali pada Tuhan, hanya saja jika al-Taubah usaha yang dilakukan sebatas meratapi kesalahan, maka al-Inabah melampauinya, yaitu sampai bekerja keras untuk menebus kesalahan tersebut.

“Penebusan dosa seperti ini bisa dilakukan yang jelas dengan berbuat baik sebanyak mungkin dan berlaku maslahat,” ungkap Oman.

Terakhir adalah #TanggaRuhani al-Muhasabah, yaitu aktivitas membandingkan kebaikan dan keburukan dalam diri. Oman memandang, perbandingan semacam ini berhubungan pula dengan keseimbangan antara anugerah yang sudah kita dapat dan kejahatan-kejahatan yang kita lakukan.

Saat kita menyadari telah diberi anugerah sehat umpamanya dan kita justru menggunakan waktu untuk hal-hal jahat seperti merencanakan pengkhianatan, maka di titik itulah alarm al-muhasabah berbunyi dan seyogianya kita segera menyadari dan melakulan muhasabah.

Oman mengunggah utas ini di malam hari, pukul 20:49. Adalah pas kiranya antara tema dan waktu. Muhasabah lebih nyaman dilakukan di kala malam, menjelang tidur, ketika kita sudah menghabiskan satu hari bersama orang-orang dan lantas merenungkan kembali apakah hari ini tidak ada yang kita lukai hatinya baik secara sengaja atau tidak sengaja?

“Sekali-kali buruk sangkalah pada diri sendiri!” Tutup Oman.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments