Menziarahi Waktu | Cerpen Endri Maeda

Menziarahi Waktu

Menziarahi Waktu
(Cerpen, Endri Maeda)

Manisku, kita telah berhasil membangun sebuah musium sejarah yang menyimpang banyak hal, menyimpan jalan-jalan yang pernah kita lewati, juga jalan-jalan yang tidak ingin kita lupakan.

Manisku, di pojok sana di dalam ruangan tiga kali empat, ada sejumplah keresahan yang katamu harus kita simpan. Jangan sedih, aku menyimpannya di antara tagisku yang kutata rapi, di antara mala yang tak sempat kuceritakan di hari ulang tahunmu.

Manisku, terbuat dari apakah hitam itu? Adalah pertanyaanku yang tak pernah kau jawab serius. Aku suka bertanya kepadamu, seperti ini lagi misalnya, terbuat dari apakah kesedihan itu? Katamu terbuat dari kebahagiaan yang lupa hakekatnya. Katamu lagi, untuk mengetahui jawaban itu aku harus memelukmu. Ya, aku memelukmu untuk beberapa menit, tapi aku tak menemukan apa-apa selain diriku sendiri.

Aku juga sempat bertanya kepadamu sewaktu hujan masih suka curi pandang, ketika tanah masih memberi kesempatan untuk benih-benih tumbuh dengan subur

Kurang lebih seperti ini; apakah benar cinta tidak memiliki keinginan lain selain mencari dirinya sendiri? Dan kalau memang cinta dan keharusan menginginkan itu, biarkan diri ini kukorbankan saja denga senang hati. Oh, ya, perihal musium yang kita bangun, di sana menyimpan sebuah pendahuluan bagaimana keharusan itu.

Di sana diterangkan perihal keharusan itu datang. Dengan sayap yang panjangnya dua meter. Di dalam sayap itu ada sebuah pedang yang jelas-jelas pedang itu dikhususkan untuk mengupas kulit-kulit kita. Lalu diajaklah kita terbang setinggi kepahitan berwujud hitam dan lekat. Dijatuhkanlah kita dari ketingian yang hanya bisa diukur keharusan itu, keharusan itu adalah cinta, Manisku.

Berita Terkait :  Satu Menit di Neraka

Kita juga akan diperas hingga menyerupai tanah kering untuk mengetahui sifat keharusan itu. Dia datang dengan mala tak terhitung, dengan bermacam-macam luka, tangis, dan kau tidak akan asing lagi denga darah. Darahku, darahmu, darah semua orang yang menanggung keharusan itu. Ya, aku menyebutnya itu keharusan.

Begitulah cara mencapai sarinya. Cacing-cacing ikut merawat akarnya, memberi nutrisi, berjalan melewati srabut hingga ke ujung tangkai termuda. Buah keharusan itu sempurna.

Kau pernah bertanya mengenai musium yang kita bangun sejak lama itu,  musium pondasinya terbuat dari batu yang kita ambil di setiap jalan yang kita lalui, juga jalan-jalan yang belum kita lalui.

Perihal hakikat, bagaimanakah itu? tanyamu sambil menyingkirkan kepalamu dari pundakku.

Aku tidak menganggap berat pertanyaan itu, tapi aku terlalu dini untuk menjawabnya. Payahnya tidak ada alasan lain, aku harus menjawab pertanyaanmu itu. Oh ya, bagaimana? Bisakah kau mengulangi pertanyaanmu itu? tanyaku pura-pura. Kau memeluku  kembali, isyarat aku harus segera menjawabnya.

Manisku, perihal hakikat, seperti saat kita sedang minum kopi di sebuah warung murahan yang pelangannya hanya itu itu saja. Bagaimana cara kita meminum kopi itu, Manisku. Dengan tangan atau dengan mulut kita meminumnya? Siapa yang membuat lalu apa saja yang dicampurkan? Jika kita tahu bagamana cara meminum kopi yang benar, kita akan tahu hakikat itu seperti apa. Semua ada di musium kita. Kita hanya perlu mengunjunginya dan membukanya kembali.

Berita Terkait :  Kisah Cerita Horor KKN di Desa Penari, Ungkap Trailer Film

Manisku, dengarlah, hakikat adalah puncak pencapaian manusia. Apakah kita bisa melogikanya? Belum, Manisku. Tapi aku yakin bisa setelah melewati beberapa hal, rukun menuju hakekat itu sendiri. Seperti halnya keharusan yang kita jalani. Cinta terbuat dari beberapa rukun, atau cinta itu sendiri memili rukun yang harus dijalani manusia. Untuk mencapai cinta itu sendiri, maka mala, tangis dan sejenisnya itulah rukun yang harus kita jalani, kesedihan dari kehalusan, kehalusan yang memberikan kesedihan. Di situlah mungkin hakekat bisa kita rasakan. Manisku, aku harap kau mau menerima ini.

Ada satu hal yang tak pernah kau tanyakan. Perihal pernikahan. Aku tidak tahu kau membencinya atau tidak. Yang jelas aku ingin sekali kau menanyakan itu. Sering juga aku menyinggungnya di depanmu, tapi selau kau abaikan. Mungkin kau tidak mau tahu. Atau mungkin  juga kau tidak mau mengabadikannya di musium kita.

Ya, terkadang memang begitu. Sekedar pengakuan, orang-orang akan mengakuinya kalau bungkus itu hanya sebuah pernikahan belaka. Dan sekali lagi kamu benar-benar tidak terima keharusnya itu dibungkus dengan pernikahan. Katamu, keharusan tidak boleh dipenjarakan. Pernikahan membatasi keharusan. Kau membolakbalikannya agar aku paham, dan aku sangat memahaminya.

Manisku, terkadang bersatu juga memerlukan jarak. Seperti musium kita yang tiangnya berjauhan. Kita tidak mungkin menyatukannya. Keseimbangan ada pada tiang itu, sedangkan kekuatan ada pada pondasi yang kau tahu sendiri kualitasnya seperti apa. Memang ada beberapa tiang di situ. Dan aku tidak ingin kau mengibaratkan itu adalah anak dari tiang tertua. Sejatinya anak adalah sesuatu yang di titipkan. Zamanlah yang menitipkan. Kita tidak memiliki seutuhnya. Seutuhnya hanya milik zaman.

Berita Terkait :  Api Perlawanan

Manisku, senja sebentar lagi berpamitan. Seharian aku berada di sini. Sudah, Aku sudah membersihakan seisi ruangan ini. Aku sudah membersihkan kenangan-kenangan yang usam. Ada beberapa ukiran tawamu yang kupandangi, aku tak pernah bosan dengan itu. Sudah tidak ada lagi serangga yang bersarang. Aku sudah menyetubuhimu, seutuhnya. Aku sudah menjajaki tubuhmu, juga tubuhku sendiri di hari ulang tahunmu.

Endri Maeda, Mahasiswa UIN Sunankalijaga Yogyakarta, Pimred Tubanjogja.org dan pegiat sastra di Garawiksa Institute Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan