Sri Mulyani: Perjuangan Kartini 100 Tahun Lebih Sebelum MDG dan SDG

-

Berita Baru, Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengungkapkan bahwa perjuangan dan pemikiran RA Kartini telah membuka kesempatan bagi perempuan Indonesia untuk mendapat hak pendidikan yang sama dengan kaum laki-laki.

Menurut Sri Mulyani, Perjuangan Kartini untuk membebaskan perempuan seratus tahun lebih sebelum Millenium Development Goals (MDG) dan Sustainable Development Goals (SDG) dideklarasikan.

“Perempuan generasi Ibu saya, perempuan generasi saya dan perempuan generasi yang akan datang untuk dapat menikmati pendidikan hingga jenjang tertinggi,” tulis Menkeru Sri Mulyani dalam akun Instagram Pribadinya, Rabu (21/4).

Dengan adanya kesempatan untuk mengenyam Pendidikan itulah, menurut Perempuan kelahiran Tanjung Karang, Lampung, 26 Agustus 1962 ini, perempuan Indonesia dapat mengambil bagian dalam membangun peradaban, dalam pendidikan anak-anaknya dan ikut memajukan bangsanya.

“Selamat menjaga dan memelihara semangat juang Kartini, untuk Indonesia yang beradab, bermartabat, berpendidikan, adil dan Makmur,” ujar Executive Director IMF (2002-2024).

Dalam memperingati Hari Kartini 2021, Menkeu Sri Mulyani juga mengutip surat Kartini kepada N.v.Z. yang dimuat dalam Kolonial Weekblad (Mingguan Kolonial) tertanggal 25 Desember 1902:

“Harapan kami : tolonglah, bantulah kami agar usaha kami berguna bagi bangsa kami dan terutama bagi kaum perempuan bangsa itu.

Tolonglah kami untuk membebaskannya dari beban berat yang diletakkan di atas bahunya oleh adat lama turun temurun. Tolonglah kami untuk menaikkan derajatnya, untuk menjadikan Perempuan dan Ibu sejati agar lebih siap menjalankan kewajiban yang besar. Kewajiban yang ditetapkan oleh ibu alam sendiri kepada perempuan yaitu : pendidik pertama umat manusia!

Bukan tanpa alasan orang mengatakan: kebaikan dan kejahatan diminum anak bersama air susu ibu. Kami yakin seyakin-yakinnya, bahwa pekerjaan yang mendatangkan banyak berkah itu tidak akan dapat maju dengan pesat, selama perempuan Jawa tidak mengambil bagian dalam pekerjaan peradaban, dalam Pendidikan bangsanya, betapa pun banyaknya orang-orang kulit yang berbudi luhur mencurahkan segala kasih sayang dan tenaganya terhadap pekerjaan itu…”. (MKR)

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments