Meniti Waktu Temaram Bersama Band Suede

Band Suede
Suede (imdb.com)

Berita Baru, Jakarta – Istilah britpop tidaklah asing di telinga para generasi 90’an. Istilah ini sebenanya mengacu pada band- band rock alternatif asal Inggris dengan lagu-lagunya yang memiliki lirik dan musik yang kental dengan ciri budaya pinggiran perkotaan Inggris. Britpop lahir sebagai tanggapan para pemusik Inggris terhadap musik-musik grunge dari Amerika Serikat.

Band- band britpop diantaranya adalah Oasis, The Verve, Suede, Blur, Supergrass, Pulp dan masih banyak lagi. Band Suede yang memiliki Brett Anderson sebagai vokalisnya ini, sering disebut sebagai band pelopor lahirnya britpop bersama dengan Pulp, Oasis dan Blur. Meskipun Suede sendiri menolak disebut sebagai band britpop, karena mereka merasa istilah tersebut justru akan mengkotak-kotakkan dan membatasi ruang gerak dan eksplorasi mereka dalam bermusik.

Suede adalah band beraliran rock alternatif yang terbentuk di London, Inggris pada tahun 1989. Album debut mereka yang diberi judul “Suede” diluncurkan pada tahun 1993 dan sejak itu lagu- lagu mereka terus hilir mudik di posisi atas tangga lagu Inggris.

Awalnya band ini hanya terdiri dari Brett Anderson, Justine Frischman, yang merupakan kekasih Brett saat itu, serta Mat Osman, teman masa kecil dari Brett Anderson. Bernard Butler bergabung dengan Suede sebagai gitaris pada akhir tahun 1989 dan digantikan oleh Richard Oakes pada tahun 1994. Pada bulan Juni 1990 Simon Gilbert bergabung di Suede untuk mengisi kekosongan posisi drummer di band mereka. Sementara itu Neil Codling mulai bergabung sebagai pemain keyboard Suede pada tahun 1996.

Sebelum mengeluarkan album debut, Suede telah terlebih dahulu mengeluarkan tiga buah single yaitu “The Drowners”, “Metal Mickey” dan “Animal Nitrate” pada tahun 1993. Single- single tersebut sangat disukai oleh penikmat musik dan sukses merajai tangga lagu di Inggris. Setelah itu barulah mereka mengeluarkan album perdananya yang berjudul “Suede” pada tahun yang sama, yang membuat band ini mendapatkan sorotan dari berbagai media.

Kesuksesan album pertama mereka diikuti dengan peluncuran album kedua berjudul “Dogman Star” pada tahun 1994. Album ketiga mereka yang berjudul “Coming Up” dikeluarkan pada tahun 1996, lagu-lagu pada album ini seperti “Beautiful Ones” dan “Saturday Night” sukses menjadi lagu- lagu yang ikonik dari Suede.

Album Suede berjudul “Coming Up” (thestudentplaylist.com)

Kesuksesan Suede tidak terlepas dari lirik- lirik buatan Brett Anderson yang mengalir, ringan dan intelek. Ia kerap mengangkat mengenai permasalahan-permasalahan yang terdengar romantis namun juga berkesan ambigu, satir dan bernuansa suram yang seolah menerangkan kenyataan akan kelelahan, harapan, kebosanan akan hidup yang telah dapat ditebak arahnya.

Selain itu musikalitas dari Suede yang menggabungkan intrumen musik dan tone elektronik garapan Neil Codling dengan kemampuan bermusik Richard Oakes dan tabuhan drum Simon Gilbert yang cakap ditambah dengan pembawaan Brett Anderson saat bernyanyi yang apa adanya, membuat lagu-lagu Suede terasa dekat dengan pendengarnya.

Pada tahun 2002 Suede mengeluarkan album “A New Morning” yang ternyata tidak begitu sukses dipasaran. Brett Anderson berkata bahwa album ini merupakan album terburuk yang tidak seharusnya mereka produksi. Karena bukan saja penjualan album yang tidak menguntungkan, namun lagu-lagu yang dijagokan pada album ini seperti “Positivity” dan “Obsession” bahkan tidak mampu mempertahankan posisinya di posisi dua puluh besar tangga lagu di Inggris. Menurut Suede kegagalan pada album ini terjadi karena pada saat pembuatan album, Suede sedang mengalami kebingungan mengenai arah bermusik band mereka.

Pada Oktober tahun 2003 Suede mengeluarkan album kompilasi berjudul “Singles” yang berisi lagu-lagu hits mereka, selain itu mereka juga menambahkan satu single baru berjudul “Attitude” yang hanya tersedia di album ini. Band Suede kemudian memutuskan untuk membubarkan diri pada November 2003.

Perjalanan Suede sejak awal terbentuknya band, perpisahan antara Justine Frischman dengan Brett Anderson, perseteruan antara Suede dan Blur, ketegangan antara Brett Anderson dan gitaris Bernard Butler, pergantian para personil band, perjuangan Brett Anderson untuk keluar dari kecanduan hingga keputusan band untuk membubarkan diri dirangkum dengan detail oleh  penulis David Barnett pada buku biografi “Suede : Love and Poison” yang dipublikasikan pada tanggal 3 November 2003.

Suede mengadakan tur reuni pada tahun 2010 dimana mereka bergabung kembali untuk melakukan pertunjukan musik di beberapa negara, salah satunya adalah di Indonesia. Reuni ini mendapat respon yang sangat positif baik dari para fans maupun dari dunia musik.

Suede kemudian memutuskan untuk bergabung lagi dan mengeluarkan album ke enam mereka pada tahun 2013, setelah vakum selama sepuluh tahun dengan mengusung album “ Bloodsports”. Pada tahun 2016 mereka meluncurkan album “ Night Thoughts” dengan lagu- lagu seperti “Outsiders” yang memiliki irama yang bersemangat.

The Blue Hour

Album terbaru Suede dikeluarkan pada 21 September, 2018 dengan judul “The Blue Hour”. Pada album ini, dari segi musikalitas, lagu-lagu mereka terkesan lebih kompleks dengan konsep album yang digarap lebih serius dibandingkan dengan album- album sebelumnya. Pada album ini Suede memang berkolaborasi dengan City of Prague Philharmonic Orchestra, sehingga musik pada album ini menjadi kombinasi yang tepat antara rock alternatif, musik orkestra, instrumental elektronik serta sentuhan paduan suara.

Beberapa lagu pada album ini seperti “Beyond the Outskirts” dan “Tides’ mengingatkan kita dengan musik- musik khas Suede terdahulu namun dengan kesan yang lebih lengkap. Lagu “Life is Golden” mengedepankan aransemen yang utuh namun mudah didengarkan, didukung dengan video yang diambil menggunakan drone di kota Pripyat, Ukraina dimana lokasinya berdekatan dengan lokasi tragedi Chernobyl sangat cocok dijadikan salah satu single perkenalan dari album ini.

Pada lagu “The Invisibles” dan “Don’t Be Afraid If Nobody Loves You” Brett Anderson dan kawan-kawannya mengkombinasikan lirik yang melankolis, yang menggambarkan keindahan samar dari suatu keterpurukan dengan musik yang cepat menjadi familiar di telinga. Sedangkan pada lagu “Roadkill”, Suede bereksperimen dengan menggabungkan kemampuan Brett bernyanyi secara bermonolog dengan musik elektronik yang menghasilkan kesan seram dan suram pada lagu ini.

“The Blue Hour” seolah mengajak kita bersama- sama menjelajah dan menyerap sisi lain dari kehidupan melalui musik. Lagu- lagu pada album ini memperlihatkan perjalanan bermusik Suede yang berbeda dari album- album mereka sebelumnya, yang kini terasa lebih dalam, kelam namun juga penuh kejujuran. Di satu sisi penggarapan album ini dapat menjadi bukti dari perkembangan bermusik Suede yang semakin baik, namun disisi lain musikalitas yang kompleks dari album ini dapat membuatnya terasa berjarak bagi telinga para pendengar awam.

Pada awal bulan September 2019 nanti, Suede akan bermain di suatu gelaran musik di Indonesia. Sudah siapkah kita untuk bernostalgia sekaligus menikmati musik-musik terbaru dari Suede? [Rizki Hasan]

Tinggalkan Balasan