Menggeser Tenaga Manufaktur ke Industri Pertanian

Industri Pertanian

Galuh Candra Pertiwi
Mahasiswa Politehnik Ketenagakerjaan



Kini, kita hidup dalam dunia one world. Di mana teknologi telah mengantarkan kita menjadi begitu dekat seperti tak ada lagi jarak. Satu negara tidak akan dapat hidup sendiri tanpa negara lain. Pola demikian menciptakan hubungan yang komplek antar suatu negara, baik hubungan polik, ekonomi dan kebudayaan.

Dalam kenyataan demikian, kunci utama menguasai dunia adalah kualitas Sumber Daya Manusia. SDM unggul mampu menghasilkan teknologi untuk mendekatkan jarak, mempercepat produksi serta meningkatkan kualitas produk. Melalui SDM yang unggul maka terjadilah proses revolusi industri kesatu, kedua, ketiga dan kini sampai keempat.

Revolusi industri telah menggeser banyak hal sesuai dengan zamannya. Teknologi dan kebiasaan lama yang tidak lagi produktif akan ditinggalkan berganti dengan teknologi terbaru. Dalam industri manufaktur tenaga manusia digantikan oleh mesin dengan tetap menggunakan manusia sebagai operator. Kemajuan teknologi selanjutnya mulai mengurangi bahkan memangkas habis tenaga manusia karena digantikan oleh robot dan teknologi digital

Teknologi tinggi, efektif digunakan apabila produksinya bersifat masal. Sehingga dapat mengurangi beban biaya tenaga kerja, bahan bakar, listrik, serta memangkas waktu produksi. Produk yang dihasilkan melalui proses ini akan lebih murah dan kualitas lebih baik.

Itulah sebabnya jagung yang dihasilkan oleh petani Amerika lebih murah bila dibandingkan produksi petani kita di Jawa Tengah. Begitu pula harga daging sapi Peternak Australia lebih murah dibandingkan harga daging sapi peternak kita di Jawa Timur. Di industri manufaktur, garmen yang di produksi di Cina dan India bisa lebih murah dengan produk yang dihasilkan di Indonesia sehingga dengan leluasa menyerbu pasar Tanah Abang.

Dari Manufaktur ke Pertanian

Indonesia menyikapi revolusi industri, utamanya revolusy indutry 4.0 yang  secara berbeda. Sebagian pekerja dan pemerintah menganggap sebagai ancaman terhadap dunia kerja. Di tengah laju pertumbuhan ekonomi yang terus menurun akibat gejolak eksternal. Pergeseran tenaga dari manusia ke teknologi digital akan menimbulkan lebih banyak gelombang PHK. Meski tidak disebabkan adanya penggantian tenaga kerja secara digital,  gelombang PHK besar-besaran yang terjadi di Batam misalnya,  semakin memperparah kekhawatiran itu.

Di lain sisi, di tengah kekhawatiran efek negatif industri 4.0 minat tenaga kerja terhadap pertanian secara umum terus menurun. Mengutip data yang dikeluarkan oleh BPS Pada triwulan I/2017, penduduk yang bekerja di sektor pertanian dan kehutanan mengalami penurunan sebanyak 1,41 persen.

Menurunnya minat pekerja terhadap pertanian, secara umum karena menganggap pertanian tidak lagi menguntungkan untuk diusahakan. Disebabkan karena tidak mampu bersaing dengan produk-produk pertanian import. Perajin tempe lebih tertarik menggunakan kedele dari petani Amerika yang lebih murah.

Begitu juga dengan pengusaha pakan ternak yang lebih baik membeli jagung import dibanding produk petani lokal. Daging sapi yang dihasilkan oleh peternak Selandia Baru, Australia, dan Brazil jauh lebih murah meski harus dijual dalam keadaan beku.

Pertanyaannya mengapa para petani dan peternak di negeri-negeri itu bisa menghasilkan ragam produk lebih murah? Karena pola produksi mereka berbeda dengan model pertanian tradisional yang sehari-hari dikerjakan oleh petani Indonesia. Luas lahan dan modal yang cukup, management modern dan pola produksi secara industri memungkinkan produk yang dihasilkan menjadi sangat kompetitif.

Bila produk petani Indonesia ingin bersaing dengan produk mereka, kuncinya harus segera mengubah pola pertanian konvensional yang kini berjalan dengan model industry pertanian.

Selanjutnya bagaimana petani Indonesia akan mengatasi kebatasan sumberdaya yang ada mulai lahan, modal, teknologi, dan jaringan mengingat lebih dari 40 persen petani kita hanya lulus Sekolah Dasar dan tidak lulus Sekolah Dasar. Kolaborasi antara petani yang ada dengan para mantan pekerja industri manufaktur akan mampu menjawab berbagai tantangan.

Umunya mereka para pekerja di industri manufaktur memiliki tingkat Pendidikan Sekolah Menengah dan sudah melek teknologi. Keduanya bisa membentuk koloni membentuk sebuah kelompok besar yang saling menyokong.

Produk yang diusahakan harus yang memiliki multiplayer efek sehingga tidak terhenti pada sebatas produk bahan mentah. Agar produk yang dihasilkan memimiliki nilai kompetitif yang tinggi. Pilih komoditi yang memiliki nilai strategis, dengan berbagai ragam produk turunan dibawahnya. Ini akan mampu menyediakan lapangan kerja alternatif bagi mereka yang tidak tertampung di industri pertanian.

Pemerintah dapat mengambil peran lebih strategis, mulai dari penyusunan road map dan peta wilayah produksi unggulan sesuai dengan potensi masing-masing wilayah. Menyiapkan Balai Latihan Kerja dan pusat pelatihan vokasi yang dihitung berdasarkan kebutuhan real, serta daya dukung masing-masing daerah. Tidak kalah penting adalah memperluas jejaring baik pasar maupun modal.

Perguruan tinggi dan kaum akademisi bisa melakukan riset yang disesuaikan tingkat kebutuhan dilapangan sehingga hasilnya bisa membumi dan berguna bagi peningkatan produksi dan kualitas produk yang dihasilkan.

Sinergitas antar lembaga diatur dengan regulasi-regulasi yang sederhana, tidak berbelit dan menyulitkan.

Pola ini diharapkan akan mampu menekan efek negatif revolusi 4.0 dengan kekhawatiran meningkatnya tingkat pengangguran akibat PHK. Bergeser ke peningkatan produksi pertanian melalui industri pertanian modern.

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini