Mencintai Kota dengan segenap Iman

-

Berita Baru, Tokoh – Ini adalah cerita tentang Adin. Adin Hysteria atau Ahmad Khairudin, co-founder Kolektif Hysteria, yang menaruh perhatian besar pada terobosan-terobosan di bidang kreativitas, seni, komunitas, anak muda, dan isu kota.  

Sejak berdirinya pada 11 September 2004, banyak kegiatan-kegiatan kolaboratif sudah dilakukan oleh Kolektif Hystoria dengan Adin sebagai kurator di baliknya.

Adin mengaku, mengapa ia bisa sebegitu jauh—sedari 17 tahun silam—sebab ia menemukan dirinya melalui Kolektif Hystoria, meskipun harus melewati tahapan-tahapan yang tidak mudah.

Mulanya, Kolektif Hysteria bukanlah organisasi yang menyasar masyarakat baik kota atau pun desa, tetapi lebih pada sastra. Kenyataan bahwa para pegiat awal di dalamnya adalah teman-teman dari lingkaran sastra di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Selepas tiga (3) tahun jalan dan situasi sosial-budaya-politik yang berubah, Kolektif Hysteria baru memutuskan untuk masuk ke kampung-kampung, kota-kota, guna membuka kemungkinan kolaborasi dengan masyarakat setempat.

“Ini pun masih sangat mentah dan bisa efektif baru pada tahun 2013, jika tidak 2014,” ungkap Adin dengan nada yang semi mengenang masa-masa itu.

Berita Terkait :  Aktif Berorganisasi, Aisyah Terpilih Menjadi Kadus Termuda di Jogja
Berita Terkait :  Wahyu Perdana dan Pemerintah yang sedang Merencanakan Bencana

Problem ketahanan komunitas

Di sela kerja-kerja kolaboratif dengan masyarakat untuk proyek pembangunan kreatif tertentu, teman-teman Kolektif Hystoria juga memberi perhatian khusus pada komunitas-komunitas yang setiap kota tentu memilikinya.

Menurut Adin, kendati mitos tentang “kota”—bahwa kota adalah begini, begitu, dan sebagainya—berhasil secara cukup baik menjadikan komunitas-komunitas di dalamnya survive, mereka tetap membutuhkan pendampingan. Paling tidak supaya daya tahannya bisa lebih kuat.

“Ya soalnya, sejauh pengamatan kami, komunitas memang banyak, tetapi itu linier dengan banyaknya dari mereka yang tiba-tiba hilang juga, sehingga inilah pertanyaan besar kami dalam hubungannya dengan pemuda, komunitas, dan kota, yakni mengapa mereka tidak bisa bertahan? Dan akhirnya, kami memutuskan untuk memberikan perhatian pada mereka,” jelas Adin.   

Untuk tujuan di atas, Adin dan teman-teman memberlakukan beberapa program, antara lain: pelatihan-pelatihan yang menyasar pada pentingnya membangun iman pada kota, fasilitas seperti kantor Kolektif Hysteria sendiri sebagai rumah bersama untuk berbagai macam komunitas, dan pendampingan.

Berita Terkait :  Naomi Marasian dan Dilema Kebijakan Perhutanan Sosial

Untuk yang pertama, soal iman, kata Adin, ini sangatlah mendasar, apalagi untuk konteks sebuah organisasi yang belum mapan secara ekonomi. Jadi, agar suatu organisasi—yang Adin mengaku bahwa ini pun berlaku untuk Kolektif Hysteria—bisa bertahan, basisnya harus terbangun secara kuat dulu dan basis ini tidak lain adalah iman.

Berita Terkait :  Silvya Makabori: Perempuan Adalah Pihak yang paling Dekat dengan Hutan

“Iman berkelindan dengan tujuan dan niat, sehingga ketika imannya kuat, tujuannya pasti baik, dalam arti tidak terjebak pada uang, dan jika dua ini selesai, maka segalanya akan menjadi menyenangkan,” tegas Adin.

Pembangunan kota

Belakangan, Adin fokus pada pembangunan kota. Kenyataan bahwa fokus dari Kolektif Hysteria mencakup pula isu kota merupakan alasan mengapa itu mungkin terjadi. Dalam pergerakannya, Adin mengoptimalkan strategi pengetahuan sehari-hari (everyday knowledge), yaitu bagaimana menjadikan sejarah suatu desa atau legenda-legenda yang beredar secara oral di masyarakat sebagai konten untuk melakukan rebranding.

Strategi ini bermanfaat ganda. Pertama, hanya dengan begitulah konsep yang ditawarkan oleh Kolektif Hysteria terkait proyek kreatif kota bisa diterima oleh masyarakat setempat. Sebab konsep tersebut merupakan representasi dari apa yang mereka rasakan sebagai warga kota atau pun desa.

Berita Terkait :  Silvya Makabori: Perempuan Adalah Pihak yang paling Dekat dengan Hutan

Kedua, itu bisa pula dianggap sebagai kerja sejarah atau melengkapi sejarah dari suatu daerah yang sebelumnya terabaikan. Pasalnya, bicara sejarah, lanjut Adin, maka bicara tentang sejarah-sejarah besar, para raja, para menteri, dan semacamnya. “Sejarah” tidak pernah mengulas tentang keseharian-keseharian kecil dari masyarakat di suatu desa, sehingga pada titik inilah, melalui everyday knowledge, Kolektif Hysteria sekalian melakukan pekerjaan “melengkapi” di muka.

Berita Terkait :  Naomi Marasian dan Dilema Kebijakan Perhutanan Sosial

“Ya sebenarnya ini kan kerja antropolog, tetapi saya rasa inilah yang paling dekat dengan sejarah dalam arti untuk keseharian masyarakat yang unik itu,” tambah Adin yang beberapa minggu ini sibuk dengan program Peka Kota Institute  ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU