Menanggalkan Jumawa | Catatan Ramadan: Ahmad Erani Yustika

-

25 tahun silam dikenang sebagai pencapaian terbesar Chicago Bulls, juga Michael Jordan. Pada 1994 Jordan sempat mundur dari basket (NBA) karena ayahnya wafat (tertembak). Ia terpuruk dan memilih meninggalkan lapangan ketika di puncak prestasi. Dunia basket berduka. Untungnya, masa 1995/1996 ia kembali lagi ke arena usai berdamai dengan keadaan dan langsung meraih piala. Pada final NBA periode itu Bulls melumat Seattle Supersonic 4 – 2 (sistem “best of seven”). Trio epik Bulls (Michael Jordan, Scottie Pippen, dan Dennis Rodman) melantakkan pertahanan Sonic. Jordan tetap tak pongah, meski sepanjang pertandingan Gary Payton, “point guard” Sonic, tidak henti mengoloknya.

Pada gelanggang yang lain, salah satu petenis terbesar dalam sejarah, Roger Federer, pernah terluka dalam dua kali final Grand Slam Wimbledon (di mana ia menjadi raja di turnamen lapangan rumput yang digelar sejak 1877 ini). Pada final 2008 Roger kalah lawan seteru abadi: Rafael Nadal. Pertandingan berjalan selama 4 jam 48 menit. Satunya lagi adalah pertarungan sangat dramatis pada laga puncak tahun lalu (2019) ketika berhadapan dengan musuh bebuyutan juga: Novak Djokovik. Pertandingan ini menjadi yang terlama dalam riwayat Wimbledon: 4 jam 57 menit. Pada kedua final itu Federer kalah, tapi selalu keluar pentas dengan kehormatan karena tak ada yang laik takluk.

Pada banyak medan lomba terjadi aneka peristiwa semacam itu. Terdapat ratusan bintang yang masing-masing memegang puluhan piala dengan tetap menundukkan kepala. Hatinya lembut dengan memperlakukan atlet lain sebagai orang super yang layak menjadi pemenang. Demikian pula, terdapat barisan figur keren yang kalah dalam banyak lapangan kompetisi (olah raga, musik, pendidikan, politik, dan seterusnya), namun memperoleh tempat di sanubari khalayak karena karakter kejujuran, pantang menyerah, dan hormat kepada aturan rinci. Mereka memang tidak memenangkan lomba, tetapi di sukma hati penggemar tetap dianggap sebagai jawara.

Dalam babad Islam terdapat 5 peperangan yang terjadi pada bulan ramadan yang bisa jadi teladan. Kelimanya itu adalah Perang Badar, Khandaq, Fathu Makkah (Penaklukan Kota Mekah), Ain Jalut, dan Tabuk. Pertempuran Fathu Makkah terjadi karena dilanggarnya Perjanjian Hudaibiyah. Rasulullah lantas memerintahkan sabahat untuk menyerang Mekah. Sebelum sampai di Mekah, para kerabat menyatakan tobat, termasuk Abbas (paman Nabi) dan keluarganya. Nabi menerima pertobatan mereka. Bersamaan dengan itu, Rasulullah membaca firman Allah: “Sesungguhnya kami memberikan kepadamu kemenangan yang nyata” (QS. Al Fath: 1).

Itulah akhlak yang diajarkan Nabi Muhammad: rendah hati. Bila perang terpaksa dilakukan, maka segala daya akan dikerahkan. Jika ikhtiar mempertahankan diri berakhir dengan kemenangan, maka sifat jumawa mesti ditanggalkan. Pihak yang kalah harus dihormati martabat dan kemanusiaannya sehingga tetap bisa berjalan dengan kepala tegak. Sifat itu pula yang telah diperagakan oleh Jordan dan Federer di palagan olahraga. Akhlak adalah inti dari Islam. Dijelaskan oleh Nabi dalam satu riwayat Hadis Sahih (HR. Bukhari): “Sesungguhya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq.”

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments