Memburu Hardo : Perburuan

Perburuan Hardo
Adipati Dolken dan Ayushita saat memerankan film Perburuan

Beritabaru.co, Jakarta – Bulan Agustus hanya tinggal menghitung hari. Pada tanggal 15 Agustus 2019 kita akan disuguhkan dua buah film yang diangkat dari buku karya Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya disebut Pram) yang berjudul Bumi Manusia dan Perburuan.

Perburuan merupakan film proyek rumah produksi Falcon Picture. Film ini di sutradarai oleh Richard Oh dan dibintangi oleh Adipati Dolken, Ayushita, Ernest Samudra, Khiva Ishak, dan Michael Kho. Dalam trailernya ditampilkan potongan adegan Adipati Dolken sebagai Hardo seorang komandan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) pada masa kependudukan Jepang yang memberontak, sehingga dia menjadi buronan tentara Jepang.

Perburuan adalah sebuah novel karya Pram yang memenangkan sayembara Balai Pustaka pada tahun 1949, dan kemudian diterbitkan di tahun 1950. Novel ini berlatar masa pendudukan Jepang di Indonesia. Cerita novel diilhami oleh pemberontakan PETA terhadap Jepang di Blitar, Jawa Timur pada 14-15 Februari 1945 yang oleh dipimpin Supriyadi.

Perburuan berkisah tentang sosok Hardo. Hardo adalah anak wedana yang hidup pada masa penjajahan Jepang. Dulu ia adalah seorang komandan pasukan PETA yang kemudian memberontak dan melawan, sehingga Hardo menjadi buruan pemerintah Jepang karena dianggap sebagai musuh.

Berita Terkait :  Terbukalah Melawan Diskriminasi: Film Purl

Dalam masa perburuan terhadap dirinya, Hardo harus menjalani hidup sebagai kere yaitu menjadi gelandangan agar tidak tertangkap oleh tentara Jepang. Dimasa perburuan itu pula Hardo kehilangan keluarga, menghadapi pengkhianatan, bahkan harus kehilangan kekasihnya demi perjuangan dan keyakinannya menuju kemerdekaan.

Foto Pramoedya Ananta Toer dan buku novel perburuan

Novel perburuan sarat dengan penggambaran nilai kehidupan seorang manusia dan keyakinan yang ia pegang teguh. Dalam novel ini Pram mengangkat jiwa manusia yang saling bertolak belakang, dimana manusia merupakan asal-muasal kejahatan tetapi manusia juga merupakan asal-muasal kebaikan. Pram mengkonfrontasikan jiwa manusia yang penuh kesewenangan, penindas, pengkhianatan dengan jiwa yang pemaaf, keyakinan, dan penentangan terhadap ketidakadilan.

Bahwasanya kebahagiaan, kebaikan, kehancuran, kehinaan, penderitaan manusia bersumber dari dalam dirinya. Seorang gelandangan dapat menjadi mulia karena kebaikan,keteguhan dan keyakinan hatinya, sedangkan seorang yang memiliki kekuasaan dan materi dapat menjadi hina karena keburukan sifatnya. Novel Perburuan menawarkan dan mengajak kita untuk dapat menjadi manusia yang memanusiakan manusia lainnya.

Disisi lain, keyakinan dan perjuangan Hardo mengenai kemerdekaan Indonesia, mengajak kita untuk merenung kembali makna perjuangan dan kemerdekaan. Kemerdekaan hanya sebuah titik awal yang akan membawa kita pada tantangan dan perjuangan lainnya. Rangkaian peristiwa sejarah Indonesia seharusnya cukup menjadi pondasi utama yang menggugah dan menumbuhkan rasa kebangsaan kita. Namun, sudahkah kita sebagai rakyat turut mengisi kemerdekaan?; dan sudahkah Negara menciptakan kondisi yang adil dan makmur bagi seluruh rakyatnya?.

Berita Terkait :  Dari Parasite Hingga Joker; Apakah Film Benar-Benar Berperang Melawan Orang Kaya?

”Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu” – John F. Keneddy. [Soe]

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan