Masyarakat Adat Brazil Lawan Kebijakan Presiden Bolsonaro

Masyarakat Adat Brazil
(Foto : Greeners.co)

Berita baru, Internasional – Sementara perhatian dunia sedang fokus dengan kebakarn hutan hujan terbesar Amazon di Brazil, masyarakat adat yang tinggal di sana tengah berjuang dengan kebijakan terbaru presiden Bolsanoro yang mengancam keberadaan dan ruang hidup mereka.

Dilansir dari BBC, Jumat (13/9), lebih dari 800.000 penduduk asli tinggal tersebar di 450 wilayah adat yang dibatasi di seluruh Brasil, atau sekitar 12% dari total wilayah Brasil. Sebagian besar terletak di wilayah Amazon dan beberapa kelompok masih hidup terisolasi.

Presiden Jair Bolsonaro, yang menjabat pada bulan Januari, telah berulang kali mempertanyakan apakah wilayah yang dibatasi ini cukup penting keberadaannya, dengan alasan bahwa ukurannya yang tidak sebanding dengan jumlah penduduk asli yang tinggal di sana. Itulah sebabnya, rencana Bolsanoro untuk membuka wilayah ini sebagai lahan pertambangan, penebangan, agribisnis dan pertanian kontroversial terus diperkuat.

Puluhan masyarakat pribumi yang tinggal di bagian terpencil Brazil berbondong-bondong untuk berkumpul. Pertemuan itu menyatukan masyarakat yang dulunya bermusuhan seperti kelompok Kayapo dan Panará.

Berita Terkait :  Deforestasi Amazon Mencapai Tingkat Tertinggi dalam Satu Dekade

Kebijakan itu membuat marah masyarakat adat yang berpotensi tereksklusi dari rumahnya. Kelompok-kelompok adat yang dulu bermusuhan itu kini berkumpul untuk sebuah perlawanan terhadap rencana pemerintah yang mengancam tempat tinggal mereka, seperti dilaporkan João Fellet dari BBC News dari desa Amazon, Kubenkokre.

Kedua kelompok itu berperang selama beberapa dekade, saling serbu antar desa. Pertempuran berakhir dengan brutal pada tahun 1968, ketika Kayapó melakukan serangan dengan senjata sehingga menewaskan 26 orang Panará yang hanya memiliki panah untuk mempertahankan diri.

Ketegangan diantara keduanya tetap terjadi selama bertahun-tahun. Namun kali ini berkumpulnya Kayapo dan Panara untuk sebuah tujuana yang lebih besar dan melupakan permusuhan.

“Hari ini, kami hanya memiliki satu musuh, pemerintah Brasil, presiden Brasil, dan mereka yang menyerang wilayah adat, kami memiliki perkelahian internal, tetapi kami bersama-sama untuk melawan pemerintah ini.” kata pemimpin Kayapo, Mudjire.

“Kami memiliki kepentingan bersama untuk berdiri bersama sehingga orang-orang non-pribumi tidak membunuh kita semua,” kata pemimpin Panará, Sinku, merujuk pada ancaman yang ditimbulkan oleh kedatangan penambang dan penebang kayu yang melakukan kegiatan ilegal di daerah mereka.

Berita Terkait :  Kebakaran Amazon Pengaruhi Kesepakatan Dagang UE-Amerika Selatan

Kelompok-kelompok pribumi itu menampilkan tarian dan nyanyian tradisional selama pertemuan. “Presiden lain lebih peduli pada tanah kami. Tetapi Mr. Bolsonaro tidak peduli tentang ini, ia malah ingin mengakhiri apa yang orang-orang miliki dan tempat hidup kami” jelas pemimpin Panará, Sinku.

Pemimpin adat Bepto Xikrin mengatakan dalam pertemuan itu sudah ada sekitar 400 penambang dan penebang liar memasuki wilayah Bacajá secara ilegal sejak awal tahun. Dia mengatakan bahwa anggota kelompok pribumi takut dan tidak tahu harus berbuat apa.

Menurut  24 jaringan kelompok lingkungan dan adat, Rede Xingu +, area yang setara dengan 69.000 lapangan sepak bola hancur antara Januari dan Juni tahun ini saja di wilayah sungai Xingu.

Sumber : BBC
- Advertisement -

Tinggalkan Balasan