Makna Menjadi Guru: Sebuah Refleksi

-

Sarah Monica


Tiap tahun, di tanggal 25 November, berbagai ragam poster dan kata-kata mutiara dengan kata kunci “guru” berseliweran di media sosial kita. Seolah-olah hendak menegur dan mengingatkan pentingnya memperingati Hari Guru Nasional. Namun, apakah ritual memuja-muji guru ini harus dilakukan hanya di tanggal 25 November? Lalu, guru macam apakah yang sesungguhnya layak untuk menerima ketulusan ungkapan terima kasih, kebaikan doa, maupun keindahan romantisme pengalaman dari tiap mantan “murid”?

Sudah sejak di masa sekolah menengah saya berulang-kali mempertanyakan arti ungkapan “Guru adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Dalam konteks periode kehidupan seperti apa aforisme ini muncul, serta bagaimana relevansinya dengan situasi pendidikan di masa kini, rasanya juga perlu dikritisi. Guru-guru yang bekerja di dalam institusi pendidikan jelas memperoleh “tanda jasa”, jika boleh merujuk ke tunjangan profesional yang diterima tiap bulan (baca: gaji). Apakah peranan guru-guru tersebut sedikit-banyak memang mampu mengantarkan para murid yang telah dididiknya di dunia sekolah ke kehidupan sehari-hari di mana ilmu mereka termanifestasikan? Manifestasi ilmu yang seperti apa, sehingga dengan demikian para guru tersebut berhak menyandang gelar “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”?

Tulisan ini barangkali sebagai upaya menularkan dialog yang selama ini hanya berkecamuk dalam kepala saya, menjadi percik renungan yang juga menyulut kepala pembaca. Semoga. Jikapun tidak, dari aspek batiniah setidaknya sebuah kegelisahan sudah teruraikan. Saya akan berangkat dengan membatasi diri pada perbincangan mengenai guru-guru sebagai gelar profesi dari sebuah institusi pendidikan. Kemudian mencoba menariknya ke pembacaan yang meluas di luar institusi tersebut. Semata-mata untuk membawa refleksi lebih jauh demi menemukan makna bersama apa itu menjadi seorang guru.

Dilema Mendidik di Tengah Pandemi

Kita telah memasuki fase peradaban paling buram, penuh dengan ketidakpastian, dan keruntuhan berbagai pranata dan rencana masa depan. Inilah periode liminal yang memaksa tiap diri untuk terdiam dan merenungkan kembali tentang hidup secara mendalam. Ketika wabah Covid-19 ini menghentikan seluruh aktivitas manusia, dunia pendidikan kita turut mengalami kebekuan, sehingga butuh pengaturan ulang. Solusi yang diberikan dan diberlakukan pemerintah selama ini ialah dengan mengubah pola pengajaran menjadi jarak jauh, via daring. Guru dan murid yang sebelumnya bertatap-muka, berinteraksi secara langsung, sekarang harus dijembatani dengan medium teknologi. Dengan demikian, metode transfer pengetahuan dan pola relasi pembelajarannya pun berubah total.

Perubahan medium dan metode belajar-mengajar tentu saja berimplikasi pada perubahan nilai dan cara hidup. Sekolah sebagai arena siswa mengenyam pendidikan telah berpindah ke ranah digital di mana siswa memperoleh materi pembelajarannya. Akan tetapi, proses transformasi ini menimbulkan banyak persoalan baru. Secara teknis, terdapat kendala akses internet, baik sinyal maupun kuota. Masalah tersebut terutama menjangkiti sekolah-sekolah di wilayah pedesaan terpencil yang jauh dari pusat pemerintahan lokal. Secara substansi, metode belajar tereduksi ke pemberian tugas-tugas semata karena penguasaan teknologi daring memerlukan fase adaptasi yang berbeda bagi tiap guru. Selain itu, sekolah jarak jauh membutuhkan pengawasan dan pendampingan terus-menerus dari pihak keluarga. Sebab kemandirian dan semangat belajar belum membentuk kultur dalam masyarakat kita. Alhasil, kerumitan rumah tangga di masa pandemi semakin kompleks dengan penambahan beban peran orang tua, terutama ibu, untuk membimbing anaknya belajar, lebih tepatnya mengerjakan tugas-tugas sekolah.

Permasalahan dalam sistem belajar mengajar via daring sebatas diterjemahkan oleh pemerintah hanya sebagai problem kuota. Sehingga lahir kebijakan-kebijakan baru yang menggandeng kepentingan bisnis di bidang platform pembelajaran daring dan perusahaan provider telekomunikasi, demi menghadiahkan kuota internet gratis bagi para murid sekolah di mana akses dan jumlahnya tentu saja terbatas. Di sisi lain, guru-guru pun mengalami kegagapan di tengah perubahan ekstrem. Mengajar langsung di depan murid dengan mengajar di depan layar ada keasingan tersendiri. Ikatan emosional yang mengiringi proses pembelajaran tatap muka tidak lagi terbangun, karena meskipun teknologi mampu mendekatkan jarak geografis, namun dalam kasus mengajar daring juga menjauhkan jarak psikologis.

Dalam pembelajaran yang menggunakan fitur teknologi video sekalipun, guru tidak lagi bisa membaca ekspresi dan gestur murid sebagaimana saat belajar di kelas. Kemampuan tersebut dibutuhkan untuk menilai apakah murid sudah cukup senang dan puas dalam memahami materi yang diajarkan. Atau menangkap apakah, misal, murid sedang dalam suatu kondisi yang membuatnya tidak fokus belajar. Saya pikir kepekaan empati semacam itu penting dalam relasi guru dan murid selama proses belajar-mengajar. Ketika melakukan transfer pengetahuan, guru juga perlu menempatkan murid dalam posisinya sebagai manusia. Mereka bukan mesin yang menelan begitu saja informasi dari guru tanpa distorsi latar belakang pengalaman dan kondisi emosi murid saat menerima materi pembelajaran. Perlu ada sentuhan psikologis dari guru ke murid untuk membangkitkan spirit belajar mereka, atau lebih jauh spirit hidup mereka. Hal itu sebagai langkah awal agar murid mulai terbuka, belajar mengenal, dan memahami dunianya sendiri. Di titik inilah sesungguhnya fondasi pendidikan terletak.

Bahwasanya proses belajar bagi murid harus mampu mengantarkan mereka ke kesadaran yang lebih tinggi atas hidup. Dengan demikian, peran mengajar guru pun tidak bisa semata-mata menyampaikan materi untuk ditangkap dan dihapal murid, melainkan bagaimana pengetahuan tersebut dapat dipahami hingga ke tahap memantik atau mendorong kesadaran serta praktik hidup sebagai manusia. Itulah mengapa bagi saya, transformasi pendidikan ke dunia digital justru semakin menjauhkan peran krusial ini dari seorang guru. Peran yang bahkan dalam pembelajaran langsung di sekolah pun belum tentu terpenuhi. Ketika mengajar di depan kelas, pada dasarnya bukan saja guru yang membaca murid, tapi murid juga membaca gurunya. Kebiasaan atau perilaku tertentu, sikap dan cara pandang guru terhadap hal-hal yang terkait atau di luar materi ajar, sedikit-banyak direkam dan dinilai oleh murid. Keselarasan dan kebaikan dalam laku seorang guru akan menginspirasi murid untuk menjadi pribadi yang lebih matang. Sayangnya, dalam situasi yang penuh ambiguitas dan ketidakmenentuan di tengah pandemi, tantangan guru di level itu menjadi terlampau tak terjangkau dalam gaya pendidikan daring.

Tugas Membangun Kemanusiaan

Kita sering menyaksikan atau bahkan berhadapan langsung dengan situasi di mana kecerdasan intelektual tidak selalu sejalan dengan kesesuaian dalam praktik berperilaku. Ada orang-orang yang pintar, tapi membodohi; berpendidikan tinggi, tapi sebagai aksesoris status belaka; memiliki ilmu, tapi hanya demi mempertahankan kekuasaan tertentu. Barangkali pernyataan ini beraroma normatif. Namun, barangkali juga hal-hal normatif dalam keseharian kita sudah begitu tergerus, karena tiap segi kehidupan telah dipolitisasi dan dikomodifikasi terus-menerus. Di sini, perlu dilakukan pengembalian fungsi pendidikan ke esensi akhlak. Dengan menyeimbangkan antara ilmu dan adab.

Adab, perlu ditempatkan mendahului ilmu untuk memberi batasan kaidah dan petunjuk sebagai pencari ilmu. Adab meletakkan landasan alasan dan tujuan mengapa ilmu penting bagi kebermanfaatan manusia. Sehingga, setinggi apapun ilmu yang dimiliki harus selalu dikembalikan pada landasannya. Akan tetapi, jika ilmu yang didahulukan daripada adab, maka ilmu tersebut menjadi kehilangan pasaknya. Ingat, bahwa kesombongan adalah dosa asal di mana Iblis diturunkan ke bumi. Dan kesombongan karena ilmu, justru mengkhianati hakikat manusia sebagai makhluk. Sebab ada Entitas Super Maha yang menguasai ilmu dan segala sesuatu.

Berangkat dari preposisi tersebut, kita melihat bahwa pendidikan berbasis sekolah mengandung keterbatasan untuk mengejawantahkan keseimbangan ilmu dengan adab. Meskipun secara fondasi, prinsip itu pasti termaktub dalam visi institusi. Umumnya dibahasakan dengan “pembangunan karakter”. Namun, pada implementasinya seringkali berbenturan dengan tuntutan kurikulum maupun target-target standar prestasi lainnya. Terlebih karena sekarang sudah memasuki dimensi pendidikan digital, kerja menjadi manusia melalui proses belajar-mengajar semakin sulit untuk diupayakan. Sekolah daring tidak lagi terbedakan dengan lembaga kursus yang terbatas pada capaian penguasaan materi pelajaran semata. Kegagalan semacam itu sudah dikritisi bertahun-tahun lalu oleh Ivan Illich dalam bukunya, “Bebas dari Sekolah”.

Memahami bahwa hakikat manusia yakni mencari ilmu, cakrawala belajar dan konsepsi guru-murid harus keluar dari penjara institusi pendidikan. Sebagian besar dari kita merujuk status metaforis guru kepada orang tua, meskipun untuk situasi pandemi sekarang status tersebut telah bermakna harfiah. Sebagian lainnya merujuk pada orang-orang tertentu yang secara langsung maupun tidak telah membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik. Ada contoh konkret ketika saya melaksanakan penelitian di salah satu wilayah perbatasan di Jawa Barat. Siapa yang menyangka saat sedang duduk santai sendirian di warung kopi pinggir desa, seorang kakek penjaga warung tiba-tiba bercerita banyak hal tentang pengalaman hidupnya. Secara substansi tidak ada kaitannya dengan apa yang sedang saya teliti, tetapi saya tetap mendengarkan cukup khidmat karena apa yang tengah ia sampaikan merupakan sebuah pelajaran tak ternilai.

Dari percakapan tersebut, saya menangkap prinsip hidup beliau antara lain kesadaran, kesabaran, dan iman. Bagi saya, ini sudah merupakan tingkatan ilmu hakikat di mana untuk memperolehnya harus melewati terlebih dahulu pengalaman hidup bertahun-tahun yang terjal dan berdarah-darah. Di titik itulah, meski hanya berdasarkan pertemuan pertama yang tak terduga, saya telah menganggap sosok tersebut sebagai guru.

Filsuf besar seperti Konfusius atau Kant, serta para pemikir eksistensialis, menjadikan pengalaman sebagai basis pengetahuan. Sebab itu merupakan sumber lahirnya kebijaksanaan. Keselarasan antara pengetahuan dengan praktik; antara ilmu dengan adab, harus bermuara ke sana. Murid adalah mereka yang tidak hanya menyerap pengetahuan dari guru, tetapi mengolahnya menjadi sebuah laku hidup di dunia yang ia maknai dan hidupi. Dengan begitu, guru adalah mereka yang mendorong kesadaran dan pengetahuan murid, sehingga menyatu dengan karakter. Dari pahatan karakter tersebut, berbagai praktik hidup akan mengarah pada dimensi kebijaksanaan manusia, atau lebih luasnya pada kemanusiaan itu sendiri.

Dengan mengemban tugas kemanusiaan, beban guru menjadi semakin tidak mudah. Akan tetapi, karena nilai universal dari kemanusiaan, guru di sini berarti bisa mengacu pada siapa saja. Seperti guru yang saya temui tak sengaja di lokasi penelitian, yang bahkan namanya saja saya lupa, namun ajarannya tentang prinsip hidup hingga kini terus bergema dan menggugah untuk dipraktikkan. Guru-guru semacam itu, yang menginspirasi hingga ke tahap manifestasi; yang mengajar hingga ke proses perbaikan akhlak dan laku; yang mendorong kesadaran lebih tinggi atas kemanusiaan, pada mereka ungkapan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” layak untuk dihaturkan dalam ketulusan doa. Pada akhirnya, proses belajar adalah proses menjadi manusia. Dan guru, ialah sosok yang berperan mengawal proses ini sebagai bagian dari tugas kemanusiaannya.

* * *

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments