Makhluk yang Bersemayam dalam Tubuh

-

Saat matahari karam ke balik rimbun daun lengkeng yang terlihat dari jendela, atau saat tiba pukul 00:00 di tanggal tua bulan Qomariyah, kerap aku kehilangan diriku yang sesungguhnya. Tubuhku seperti dihuni dan digerakkan makhluk lain. Lebih dari separuh pikiranku juga dikendalikan oleh makhluk itu. Saat seperti itu, aku hanya sadar bahwa aku sedang memukul-mukul tembok, membanting perkakas, menerjunkan tubuh ke atas meja makan hingga segala perabot jatuh berantakan, menyobek pakaian, menari-nari, menjerit-jerit atau kadang tertawa terbahak-bahak, tapi atas semua itu aku sebatas sadar, tak bisa mengendalikan segala ronta tubuh dan pikiranku.

Ayah hanya melihatku sambil menggeleng-gelengkan kepala dan mengelus dada, ia seperti takut untuk bertindak. Ibu menangis, kadang sambil memeluk bibi yang juga berurai air mata. Paman dan dua sepupuku sebatas bisa melihatku di balik jendela. Semua hanya menatap sedih, sebagian saling berbisik, mereka seperti takut kepadaku.

Ketika sosok makhluk itu pergi dari tubuhku, barulah aku sadar  sepenuhnya; tubuhku terasa lelah dan nyeri. Jemari yang memukul tembok sudah terasa sakit. Aku baru merasakan sayatan pedih dan merasa bersalah saat melihat perabot dan pakaian yang kurusak. Makhluk yang menghuni tubuhku itu sungguh telah memerdayaku menjadi boneka mainan yang seenaknya ia gerakkan untuk menghancurkan banyak hal yang sebenarnya kesayangan keluargaku. Sepasang mata yang sebelumnya selalu terbelalak dan serasa mengandung gelegak magma, baru bisa berurai air mata; aku terisak seiring dada yang pelan-pelan nyeri. Keluarga kami pun nyaris semuanya menangis. Ibu memeluk tubuhku sangat erat. Sesekali mencium kening hinggga tangis kasihnya kurasa menelusup ke ruang dada. Ayah juga duduk di sampingku sambil mengelus-elus rambut. Beberapa saat menatap wajahku penuh iba, lalu kembali menggelengkan kepalanya seraya menyebut nama Tuhan.

“Hamid pandhaba1, Ma. Harus segera kita mandikan,” bibir ayah bergetar lirih.

Ibu sejenak menjeda tangisnya hingga tinggal isak satu-satu. Ia mengatur napas sambil menyeka air mata.

“Buang mitos itu, Pak. Di sini kota, bukan desa seperti tempat kita dulu. Pasti bukan karena itu penyebabnya, Pak,” suara ibu agak nyaring. Setiap kali ayah mengajukan pendapat untuk melakukan ritual Pandhaba, ibu selalu menolak.

#

Aku tiga bersaudara, dua perempuan dan satu laki-laki. Kakak dan adikku semuanya perempuan, hanya saja adik meninggal saat berumur satu tahun ketika keluargaku masih tinggal di desa. Sedang Kak Fatma juga meniggal ketika kami pindah ke kota. Di hari ketujuh kematian Kak Fatma, aku jadi banyak termenung, sesekali mengenang kebersamaan yang pernah kami lalui bersamanya; dulu semasih kecil dan ketika masih tinggal di desa, kami terbiasa menyatu dengan alam, seperti saat mencari ciplukan di ladang dan menggencetkannya ke dahi hingga meletus lalu kami tertawa, atau ketika menangkap ikan di air parit yang bersih dengan rantang karet milik ibu.

Sedang sesudah pidah ke kota, kami hanya bisa bermain jual-jualan di pojok halaman yang terbatas, kami tak menemukan pohon dan udara segar. Para tetangga cenderung menutup pintu pagar sehingga membatasi hubungan pertemanan kami dengan anak-anak mereka. Sejak saat itu, Kak Fatma lebih banyak terdiam di taman kecil samping halaman. Dilihat dari raut wajahnya, ia seperti sedang stres dengan keadaan baru kami di kota. Hingga akhirnya ia jatuh sakit dan meninggal. Sejak saat itu, aku selalu teringat Kak Fatma bersama beberapa kenangan lainnya sejak masih di desa, akhir dari lesatan ingatan itu membuatku banyak termenung. Di saat termenung itulah aku mulai merasakan ada sosok makhluk yang seketika menyelinap ke dalam tubuhku, menempati sebuah ruang di sebelah dada dan menggerakkanku dengan liar. Ketika sadar, aku teringat percakapan kakek ketika masih di desa.

“Anak laki-laki yang punya kakak dan adik perempuan sepertimu, itu namanya pancuran kapit sendang, maka anak laki-laki itu harus melakukan ritual pandhaba. Karena anak laki-laki yang pancuran kapit sendang adalah sasaran empuk makanan Batara Kala.”

“Batara Kala itu siapa, Kek?”

“Ia adalah anak dari Bethara Guru. Dia lahirkan di tengah lautan. Tubuhnya tinggi dan besar. Selain itu, dia juga memiliki nafsu makan yang sangat tinggi. Dewa-dewa pun merasa khawatir seluruh jagat akan habis dimakannya. Sehingga ia diperintahkan untuk mengembara mencari bunyi-bunyian yang indah. Selama pengembaraan, kebiasaan makannya yang berlebihan juga dibatasi. Ia hanya diperbolehkan memakan makhluk-makhluk tertentu, di antaranya: anak tunggal atau ontang-anting, anak kembar atau uger-uger dan dampit, anak lelaki yang berkakak dan beradik perempuan atau anak perempuan yang berkakak dan beradik laki-laki yang disebut pancuran kapit sendang. Sebelum makan, biasanya makhluk itu memerdaya sasaran dengan merasuk ke dalam tubuhnya, setelah sasaran terperdaya, ia akan dimangsa hingga habis tanpa sisa,” tutur kakek mengakhiri ceritanya dengan wajah meringis. Aku bergidik mendengarnya. Tapi karena saat itu aku masih anak-anak, kemudian aku menganggap cerita kakek hanya bualan seperti Si Unyil di telivisi. Jarak masa dari cerita kakek hingga hari ini berkisar 17 tahun. Baru saat ini aku teringat cerita itu kembali, dan percaya cerita itu tidak fiktif seperti Si Unyil.

#

Sudah hampir setahun tubuhku dikuasai makhluk itu. Ada banyak perabot berharga yang telah kurusak hingga hancur lebur, lalu kutangisi saat aku sadar. Dua lemari yang kurobohkan semuanya rusak berat, isinya berhamburan ke lantai. Tembok penuh dengan liuk patahan dan bekas goresan. Pakaian robek berhelai-helai. Kaca jendela pecah semua. Daun pintu juga terbelah. Ayah dan ibu meninggalkanku karena takut nyawanya terancam. Mereka pindah ke rumah paman yang lokasinya bersebelahan dengan rumahku. Mereka selalu terdengar berdebat. Ayah ingin aku mandi pandhaba, sementara ibu tetap ngotot tidak mau mengadakan pandhaba karena dirinya sudah hidup di kota.

Aku hanya tersenyum, sebenarnya hendak kukatakan kepada mereka, bahwa aku merindukan kidung-kidung yang dibaca kakek. Aku juga mendamba makanan dan buah-buahan yang digantung di sekitar kakek saat ia membaca tembang macapat di desa. Ya, aku rindu itu. Mataku terpaku ke luar jendela, merindukan ritual-ritual desa, yang kadang meski tak bisa dinalar, tapi pengaruhnya dirasakan oleh batin.

#

Beberapa hari terakhir makhluk dalam tubuhku itu seperti mengembangkan kelihaiannya. Ia tidak hanya menggerakkan tubuhku untuk menjerit dan meronta di dalam kamar, tapi ia mulai menggerakkanku untuk keluar rumah, berjalan melintasi beling dan duri, memanjat pohon, menyeberangi jalan raya ketika lalu lintas padat. Apa yang ia lakukan pada tubuhku membuat orang lain menjerit iba, khawatir jatuh dan merasa kasihan. Kecuali ketika aku menyeberang jalan raya yang padat kendaraan, biasanya orang-orang akan memarahiku karena mengganggu lalu-lalang kendaraan. Terakhir kali, biasanya aku akan ia tinggal di atas onak sebuah rumpun bambu yang tumbuh di bagian timur perbatasan kota. Aku merasa bahwa kebodohan terbesar manusia adalah ketika ia tidak kuasa pada tubuhnya sendiri dan dikendalikan oleh kekuatan lain seperti aku saat ini. Di saat sadar, hanya bisa menangis dan merasakan banyak sakit pada tubuh.

Karena keganjilan yang kualami semakin mengkhawatirkan dan penuh risiko, akhirnya terselenggara juga ritual pandhaba di rumahku. Aku tidak tahu bagaimana prosesnya hingga ibu menyetujui ayah untuk mengadakan ritual itu di tengah-tengah kehidupan kota yang warganya sudah antimitos. Yang pasti, semua keluargaku—dan terutama aku—sangat bahagia ketika tiba hari pelaksanaan itu.

Dua orang penembang macapat yang diundang khusus oleh ayah, sudah khusyuk di beranda. Duduk bersila berhadap-hadapan. Satu orang membaca tembang, sedang satu orang lainnnya menjelaskan artinya, tapi penjelasan itu tetap dengan suara yang dikidungkan. Di sekitar keduanya ada rabunan2 berisi nasi dan panggang ayam. Sedang di atas mereka ada bidaran, koceper, leppet, kocor dan kopeng bali3 yang digantung. Suara tembang macapat yang dikidungkan melalui loudspeaker membaut jiwaku tenang, serasa sungai tandus dalam tubuhku dialiri air yang sejuk. Membuat bibirku tersenyum. Membuat orang-orang yang lewat dan tetangga sekitar menatap heran pada apa yang kami lakukan, atau bahkan mungkin  mereka diam-diam menertawakan.

Macapat yang dikidungkan dua orang itu terus mengalun, mengungkap kisah-kisah manusia terdahulu. Setelah sekitar enam jam mulai pagi hingga siang, akhirnya pembacaan macapat selesai. Selanjutnya aku dimandikan di depan teras. Aku duduk pada sebuah kursi kayu, berselimut selembar kain kafan. Beberapa keluargaku, termasuk ayah dan ibu memandikanku secara bergiliran, menggunakan air kembang dan gayung dari batok kelapa bergagang ranting beringin,  mereka juga tidak lupa memasukkan uang receh ke dalam wadah air. Setelah itu, kepalaku diberi tudung rabunan lalu dipecut perlahan dengan sapu lidi kecil sebagai simbol mengusir makhluk jahat. Kemudian aku dituntun menuju dapur dan disuapi nasi. Sedang uang di wadah itu diberikan kepada dua orang pembaca macapat beserta makanan dan ayam panggang.

Semua alat-alat yang digunakan dalam ritual pandhaba itu kemudian dibuang ke jalan simpang empat pada saat senja. Aku kebingungan saat hendak membuangnya, sebab semua jalan simpang empat yang ada di kota sangat ramai. Jika dibuang di jalan itu, pasti banyak yang marah. Beruntung beberapa saat kemudian, di jalan simpang empat sisi barat alun-alun, aku bertemu dengan petugas kebersihan yang sedang membawa gerobak. Aku minta izin kepada petugas itu untuk membuang alat-alat yang kubawa ke dalam gerobaknya. Tapi ia tak langsung mengiyakan. Ia bertanya perihal alat-alat yang kubawa, karena ia mengaku baru saat itu melihat alat-alat yang kubawa itu. Aku pun sepintas menjelaskan bahwa alat-alat itu berfungsi untuk mengusir makhluk jahat yang menghuni tubuh manusia. Mendengar penjelasanku, ia sejenak mengernyitkan dahi seperti berpikir. Lalu mengeluarkan kantong plastik dari saku celananya. Ia meminta alat-alat itu kepadaku. Katanya, ia akan mengusir makhluk jahat di tubuh para pejabat yang sering sewenang-wenang.

Rumah IbelFilza, 20

  1. Upacara mengusir roh jahat Batara Kala.
  2. Anyaman dari daun siwalan berbentuk kerucut.
  3. Kue tradisional Madura.

Warits Rovi

Lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media Nasional dan lokal . Juara II Lomba Cipta Cerpen ICLaw Pen Award 2019.  Buku Cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018). Ia mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments