Mahasiswa Harus Aktif Kampanyekan Moderasi Agama di Medsos

    Mahasiswa
    Mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanudin photo bersama dengan para narasumber setelah selesai acara.

    Berita Baru, Kota Serang – Menyikapi maraknya ajaran radikalisme melalui media social, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, menggelar diskusi dengan thema “Peran mahasiswa menyikapi radikalisme di kalangan milenial melalui media digital” bertempat di Sekertariat Mahasiswa PTIQ, Jum’at (21/02).

    Menurut Ketua DEMA UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, Sigit Budiono, diskusi ini adalah cara kita mengajak mahasiswa-mahasiswi serta kaum milenial untuk memerangi radikalisme melalui media digital. 

    “Dengan diskusi ini kita ingin mengkampanyekan untuk mengajak  mahasiswa umtuk membasmi radikalisme melalui media digital. Kaum milenial tidak boleh terpapar radikalisme akan tetapi harus menjadi orang moderat,” ungkap Sigit dalam sambutannya.

    Untuk menjadi pemantik diskusi, DEMA UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, mengundang beberapa narasumber, diantaranya W. Hari Pamungkas, S.STP., M. SI, Ketua Diskominfo Kota Serang. Dr. Masykur wahid, M.Hum., Kepala pusat LP2M UIN SMH Banten dan Sabroni, S.Pd. MM, pengamat Radikalisme.

    Dalam paparannya, W. Hari Pamungkas, S.STP., M. SI menjelaskan teknologi masuk secara global di dunia termasuk Indonesia, dan 51% / 106 juta Indonesia pengguna internet, 47% di gunakan untuk chating.

    “Banyak anak milenial yang memakai internet sebagai rujukan belajar mereka,”tutur pria yang akarab disapa Hari.

    Hari pun mengungkapkan, Menurut hasil peneliatian ciri-ciri generasi milenial 45% matre, 35% egois, 34% pemales.

    “Ciri-ciri itu merupakan hasil penelitian,” imbuh Hari.

    Berita Terkait :  Akses Jalan Tertimbun Longsor, Jokowi Mendadak Tinjau Banjir Sukajaya

    Sebagai Ketua Diskominfo Kota Serang, lembaganya mengurus 3 tiga hal, yaitu Statistic, Informatika Dan Informasi. Dan keterkaitan dengan hal tadi Indonesia pengguna medsos seperti, Wa, IG dan lain nya. Di sadari dan tanpa sadari adanya media sosial bukan hanya merubah kemudahan namun secara psikologi manusia.

    “Medsos membuat kaum milenial spikologinya berubah,” pungkas Hari.

    Menurut Dr. Masykur Wahid, M.Hum., di kampus tugas mahasiswa untuk belajar karena kampus menjadi ruang bebas akademik. Sedangkan diluar sana, mahasiswa dituntut peka terhadap realitas yang ada.

    Berbicara isu radikalisme, orang kerap kali meributkan radikalisme dalam media digital, baik melalui WA, IG, FB dan lain-lain, tentang adanya radikalisme dikalangan milenial, dan survey menyebutkan bahwa kaum milenial sebesar 54% menjadikan media online sebagai sumber belajar agama. 

    “Anak-anak milenial sebesar 54% menjadikan media online sebagai sumber belajar agama,” tutur dosen yang sering disapa Masykur.

    Selain mempermudah akses informasi, ternyata adanya media sosial menjadikan distrubtis untuk melakukan penyaluran paham radikal, dan ini menjadi ancaman bagi otoritas agama sendiri. Dan sisinilah peran penting mahasiswa, mahasiswa jangan hanya memenuhi kebutuhan individualnya saja, seharusnya mahasiswa juga perlunya religious literasi dan ini menjadi tugas mahasiswa. 

    “Mahasiswa harus mengkampanyekan moderasi agama di media sosial, jangan hanya memiirkan kebutuhan dirinya saja,” imbuh Masykur.

    Narasumber terakhir, Sabroni, S.Pd. MM, menjelaskan saatnya mahasiswa itu bergerak bukan hanya pada forum diskusi namun kerja nyata. Karena anak milenial kini tidak mau ribet dan serba mau instan.

    Berita Terkait :  BUMN Watch, Sekitar 20 persen Pegawai BUMN Terpapar Radikal

    “Saatnya melakukan kerja nyata membangun literasi islam moderat di media sosial, karena generasi milenial Sukanya instan, belajar agama di media sosial,” ujar Sabroni.

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini