MAAF

Maaf

Ahmad Erani Yustika

Guru Besar FEB Universitas Brawijaya Malang


Ujian yang dijalani Rasulullah untuk beribadah atau syiar Islam sungguh luar biasa. Syahdan, seorang nenek yang biasa melempari kotoran kepada Nabi sedang sakit. Mendengar itu, Rasul langsung mengunjungi rumahnya demi menyiapkan makanan dan menimba air (karena nenek tinggal sendiri). Tidak ada amarah, hanya terpancar sikap kasih. Nenek itu terkejut dan langsung meminta maaf. Sabda Rasul: “Iman yang paling utama adalah sabar dan memaafkan” (HR. Bukhari).

Seorang sipir penjara pada rezim Apartheid di Afsel punya ritual bengis tiap hari: menyiksa nara pidana. Suatu hari, salah satu napi digantung terbalik dan dikencingi mukanya. Hari berganti dan napi itu dilantik menjadi Presiden. Ia lekas minta ajudannya mencari sipir tersebut. Ketika sipir yang gentar itu telah ada di depannya, dia berujar: “Hal pertama yang ingin kukerjakan saat ini adalah memaafkanmu.” Presiden itu tak lain ialah: Nelson Mandela.

Indonesia juga punya teladan HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah). Beliau pernah dipenjara 2 tahun lebih karena mempertahankan prinsip yang diyakininya pada masa Orde Lama. Sebelum wafat, Bung Karno berwasiat: “Saya minta agar jasadku kelak ketika meninggal disalatkan yang diimami oleh Hamka.” Hamka menunaikan amanat mulia itu dengan rasa hormat. Tak tersimpan dendam, yang terpancar cuma muamalah berhias maaf.

Berita Terkait :  Ekonomi Normatif

Islam adalah agama pengetahuan dan akhlak. Ayat Alquran yang pertama tiba adalah perintah membaca. Islam diturunkan juga untuk menyempurnakan akhlak. Rasulullah SAW bersabda: ”Orang perkasa bukanlah yang menang dalam pergulatan. Sesungguhnya orang hebat adalah yang (mampu) mengendalikan nafsunya kala marah.” Memaafkan adalah perbuatan tertinggi dari cermin akhlak mulia dan diperintahkan Allah.

Laku manusia tiap saat dilumuri oleh ragam kesalahan karena keterbatasan. Kerap perilaku itu melukai hubungan persaudaraan dan kemanusiaan. Bernard Meltzer benar belaka: “Memaafkan tak akan pernah bisa mengubah masa silam, tapi pasti akan memperbaiki masa depan.” Kehidupan yang menjanjikan kebajikan di masa depan ialah harapan yang layak diperjuangkan. Selamat Hari Raya Idulfitri1441 H. Mohon maaf lahir dan batin atas seluruh kekhilaf.

Memaafkan tidak akan pernah mengubah masa silam atau sekarang, tetapi pasti akan memperbaiki masa mendatang.

Bernard Meltzer

SumberFacebook Ahmad Erani Yustika
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini