Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

M Jadul Maula
M. Jadul Maula

M. Jadul Maula dan Islam yang Kita Anut



Berita Baru, Jakarta – Marshall Hodgson dalam The Venture of Islam (Volume I: 146) mengatakan, dunia akan tetap berubah bahkan jika Islam tidak muncul di Jazirah Arab. Baginya, kodrat dunia membangkitkan kekuatan baru di samping dua kekuatan besar, Romawi dan Persia, yang kian terpuruk dalam perang berkepanjangan serta kemiskinan yang menyebar ke seluruh wilayah. 

Jazirah Arab, yang jauh dari pusat peradaban sekaligus tak tersentuh oleh perang, diam-diam mendengarkan seorang lelaki, Muhammad, berkata, “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.” Satu-persatu jalan dilapangkan, dari Syam ke Yaman, dari India terus ke timur. “Ke China, ke China,” sayup suara-suara itu terdengar dari Jazirah Arab, dari orang-orang yang sepanjang sejarah tak pernah melahirkan kekaisaran kuat, di tengah orang-orang yang memperebutkan tanah di utara dan selatan mereka. 

Tiba di sebuah pulau, seseorang menyapa, “Kalau pergi ke negeri China, pastikan singgah dan mampir di Nusantara, semoga ada hikmah untuk kita semua.” Suara itu datang dari seseorang yang hidup lebih dari satu milenium kemudian, Mas Jadul Maula. Entah adakah seseorang sepanjang abad ketujuh hingga lima belas yang betul-betul berkata demikian, atau mungkin juga dalam pelayaran yang jauh itu orang-orang Arab singgah dan beristirahat di sebuah pulau yang kemudian dikenal sebagai Nusantara. Niatnya singgah, tapi nyatanya mereka tinggal lebih lama di Nusantara, bahkan tak pernah sampai ke China. Atau bisa jadi mereka ke China namun kembali dan menetap di tanah ini.

Buktinya begitu nyata, tulis Mas Jadul dalam sebuah artikel, “Arab Digarap, Jawa Digawa: Kreativitas Hubungan Budaya antar-Bangsa,” yang kemudian dimasukkannya dalam buku pertamanya, Islam Berkebudayaan (2019). Dari sekian banyak ahlul bait, para habaib, yang merantau dan meninggalkan tanah kelahirannya, ke Nusantaralah mereka menuju. Tak ada negara yang menampung anak-cucu Nabi Muhammad sebanyak Nusantara.

Apa yang membuat para habaib dan pelaut Arab menetap di Nusantara? Bisa jadi mereka menemukan gambaran surga yang sepanjang hari hanya bisa mereka baca di dalam Al-Qur’an. Tetapi, lanjut Mas Jadul, Nusantara adalah satu-satunya “pintu” bagi kapal-kapal dagang Basrah, Siraf, Oman, Persia, India, dan Srilanka yang akan ke China dan sebaliknya. Dan lagi, posisi sentral Nusantara sebagai penyedia bahan baku untuk segala barang yang diperdagangkan sepanjang Jalur Sutra. Mereka membutuhkan hasil hutan, pertanian, tambang, rempah-rempah, lada, pala, gading, kayu gaharu, kayu cendana, kapur barus, timah, emas, permatam, talam, mutiara, sampai kulit penyu. 

Mobilitas yang begitu tinggi di sepanjang jalur laut di Nusantara menciptakan watak kosmopolitanisme yang lebih terbuka dalam menyikapi perbedaan ras, bahasa, agama, dan adat kebiasaan. Terutama, Mas Jadul menukilkan dari Sejarah Melayu: orang-orang di Nusantara menguasai bahasa Arab!

Gelombang Kedua: Pembentukan Kebudayaan Islam

Itulah gelombang pertama orang-orang Arab-Islam datang dan memperkenalkan Islam ke Nusantara. Ketika beberapa malam yang lalu saya berdiri dan mengetuk pintu rumah Mas Jadul untuk kesekian kali, beliau mengatakan bahwa gelombang penyebaran Islam di Indonesia berlangsung berkali-kali. 

Setelah pedagang, datanglah gelombang para wali yang sembilan. Ini sekitar abad kelima belas, bersamaan dengan peralihan peta dunia: Imperium Turki Usmani di Timur Tengah, Moghul di India dan Shafawiyah di Persia, yang gelombangnya terbawa ombak ke pesisir-pesisir Nusantara. Di Nusantara sendiri, pengaruh Hindu-Budha di lingkungan brahmana dan ksatria Majapahit menurun dan digantikan oleh Kesultanan Demak. Sebagian pindah memeluk Islam, sebagian lain kembali ke pemujaan-pemujaan kuno.

Para wali di dalam Dewan Walisanga banyak bermusyawarah untuk mengembangkan rumusan-rumusan ajaran dasar Islam secara tepat untuk diselaraskan dengan berbagai kecenderungan keagamaan, budaya dan kesadaran yang sedang saling bersaing silang sengkarut di tengah-tengah masyarakat. Tetapi, lanjut Mas Jadul, mereka tidak sekadar memodifikasi, namun juga menciptakan. Bentuk wayang, yang kita kenal sekarang, murni kreasi para wali. 

“Baju adat Jawa, yang kita kenal sebagai surjan, juga murni kreasi para wali. Namanya saja dari bahasa Arab, siraajan, artinya lampu.”

Surjan memiliki lima kancing baju, tiga terdapat di bagian depan dan tertutup, dua sisanya terdapat di leher. Lima kancing tersebut melambangkan rukun Islam yang jumlahnya lima. Tiga kancing di depan dan tertutup melambangkan rukun Islam yang tiga. Mengapa tertutup, karena seseorang tidak butuh dilihat orang lain ketika menjalankan ketiga rukun tersebut, yaitu syahadat, salat dan puasa.

Sedangkan dua rukun Islam sisanya, yakni zakat dan haji, dilambangkan pada dua kancing yang terdapat di leher dan terlihat. Dua ibadah ini perlu dipublikasikan kepada orang lain. Misalnya, ketika akan dan usai melaksanakan ibadah haji, tradisi orang Islam Indonesia adalah mengadakan tasyakuran atau walimatus safar.

Ketika baju surjan yang memiliki lima kancing yang melambangkan rukun Islam digabungkan dengan blangkon yang dikenakan di kepala, maka jadilah ia memiliki filosofi rukun Iman yang berjumlah enam. 

“Jadi kita tidak bisa menganggap baju yang paling Islami adalah jubah atau baju takwa (koko). Baju koko itu dari China. Jubah, bahkan Abu Jahal memerangi Islam dengan memakai jubah.”

“Justru surjan adalah baju yang memang diciptakan untuk mengakomodasi ajaran Islam.”

Itu juga berlaku bagi sesajen dan tumpengan yang sering kita anggap sebagai bidah dan khurafat. 

Islam vis a vis Jawa

Pada malam itu, di tengah suasana yang semakin sepi tersebab pandemi yang tak menentu, pandangan Mas Jadul mengarah jauh. Mungkin ke dalam dirinya, mungkin juga ke sekitar yang kian tak bisa dikendalikan.

“Orang-orang sekarang menganggap bahwa menggunakan bahasa Jawa itu sudah musyrik.” Dia lantas bercerita, ketika suatu kali mengisi sebauh seminar. Dia bertanya kepada orang-orang yang hadir, apa yang ada dalam pikiran kalian ketika mendengar kata sesajen. Serentak hadirin menjawab, syirik! Kalau mendengar kata sajian, apa yang kalian pikirkan? Makanan!

Begitu pula dengan tumpeng. Apalagi wayang. 

Inilah bentuk “bunuh diri sosio kultural” kita, tulis Mas Jadul dalam “Inikah Akhir Zaman Budaya Kita?” sebuah teks pidato yang disampaikannya di Gedung PBNU, 2013 silam. Ada kesan kita memandang Islam, secara keseluruhan, eksklusif, kaku dan tak berkembang. Bahwa Islam yang benar-benar Islam adalah segala yang ada di masa Nabi Muhammad dan empat khalifah hidup. Dan juga cara kita memaknai pernyataan Umar bin Khattab, al-Arab maaddatul Islam, Arab adalah akar, kandungan dan penyangga Islam.

“Kita tidak pernah bertanya tentang apakah Arab itu. Bukankah Arab adalah anak-cucu Ismail dan Ibrahim, bapak bagi banyak bangsa di dunia? Konon Ibrahim berasal dari wilayah Ur di negeri Persia, kemudian hijrah ke Palestina, lalu ke Mesir, lalu kembali ke Palestina. Dia penjelajah dunia, dan di tempat-tempat yang disinggahi, ia meletakkan dasar-dasar keislaman.”

Arab bukan satu-satunya unsur, terang Mas Jadul. Al-Qur’an, sebagaimana pendapat banyak ulama, banyak menggunakan bahasa selain Arab. Sejak kekhalifahan Islam pindah ke Damaskus pada zaman Dinasti Umayyah, proses prekawinan sosio-kultural tak terhindarkan lagi. Sistem administrasi pemerintahan misalnya, Islam banyak mengadopsi model kerajaan-kerajaan Romawi.

“Mengapa pesantren-pesantren sekarang tidak menggunakan kreasi para walisanga?” saya memberikan pertanyaan lain.

“Kebudayaan yang dikembangkan di pesantren sekarang adalah hasil dari gelombang ketiga, dari orang-orang Nusantara yang berguru ke Jazirah Arab, bertemu dengan ide-ide yang sedang berkembang di sana.” Ini berlangsung sekitar abad kedelapan belas, sekali lagi, ketika Islam memasuki fase berikutnya. Institusi tarekat didirikan, ajaran-ajaran tasawuf berkembang luas. 

Para ulama itu datang membawa kitab dan tarekat, memperkenalkan puji-pujian kepada Nabi Muhammad karangan ulama-ulama abad itu: Barzanji, Bushiri, dan lain-lain. Mereka membawa alat tetabuhan yang mengiringi pembacaan maulid, hadrah dan rebana, yang kemudian dikembangkan sebagai alat kesenian di pesantren. 

Jauh sebelum para ulama pergi ke Jazirah Arab, sebelum Imam Ja’far al-Barzanji mengarang syairnya, orang-orang di Nusantara telah melangsungkan Salawat Emprak, salah satunya, untuk memuji Nabi Muhammad, diiringi oleh gamelan dan gendang. 

“Apakah ini berlaku hanya di Jawa?”

“Di daerah-daerah lain juga mengembangkan puji-pujian kepada Nabi Muhammad, dengan kreasinya masing-masing. Di suku Bugis-Makassar, mereka memodifikasi pembacaan Sureq La Galigo sebagai pemujian kepada Nabi Muhammad.”

“Sejatinya Islam di Nusantara begitu lengkap. Tetapi kenapa semua ini bisa terjadi? Kenapa orang-orang sekarang, bahkan dengan bahasa Jawa saja memiliki stigma negatif dan selalu dibenturkan dengan ‘Islam’? Kenapa orang-orang pesantren justru meninggalkan gamelan dan tak bisa menggabungkannya dengan rebana dan hadrah?”

Pertanyaan terakhir ini saya simpan baik-baik. Biarlah dia menuntun langkah saya untuk terus membaca, membawa pikiran saya melewati batas-batas peta dan waktu, merasuki panca indra dan lebih peka pada segala yang terjadi di sekitar. Saya tahu Mas Jadul telah memikirkan jawabannya, dan saya tahu harus mencarinya sendiri. [Aswar]