Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Ledakan Tangki Bahan Bakar di Lebanon, 20 Tewas dan 79 Luka-luka
(Foto: The Guardian)

Ledakan Tangki Bahan Bakar di Lebanon, 20 Tewas dan 79 Luka-luka

Berita Baru, Internasional – Setidaknya 20 orang tewas dan 79 lainnya luka-luka setelah sebuah tangki berisi bahan bakar meledak di wilayah utara Lebanon, Akkar, kata Palang Merah pada Minggu (15/8).

Seperti dilansir dari The Guardian, sampai saat ini penyebab ledakan masih belum diketahui.

“Tim kami telah mengangkut 20 mayat … dari ledakan tanker bahan bakar di Akkar ke rumah sakit di daerah itu,” kata Palang Merah Lebanon di Twitter.

Sumber militer dan keamanan mengatakan bahwa tentara Libanon telah menyita tangki penyimpanan bahan bakar tersembunyi di kota Tleil dan sedang membagikan bensin kepada penduduk ketika ledakan terjadi, lapor Reuters.

Menurut keterangan saksi mata, sekitar 200 orang berada di dekat lokasi saat ledakan terjadi. Namun, terdapat laporan yang berbeda mengenai penyebab ledakan.

“Ada serbuan orang, dan pertengkaran di antara beberapa dari mereka menyebabkan tembakan yang mengenai tangki bensin dan meledak,” kata seorang sumber keamanan, yang mencatat bahwa ada anggota tentara dan pasukan keamanan di antara para korban.

Saluran TV lokal Al-Jadeed melaporkan dari saksi mata bahwa seseorang yang menyalakan korek api adalah penyebabnya.

Abdelrahman, yang wajah dan tubuhnya ditutupi kain kasa saat terbaring di rumah sakit al-Salam di Tripoli, adalah salah satu dari mereka yang mengantre untuk mendapatkan bensin.

“Ada ratusan orang berkumpul di sana, tepat di sebelah tangki, dan hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi pada mereka,” katanya.

Palang Merah mengatakan, timnya masih mencari lokasi ledakan dengan membagikan foto ke Twitter yang mmeperlihatkan beberapa orang yang berjalan menyisir lokasi.

Penduduk yang marah di Akkar, salah satu daerah termiskin di Lebanon, berkumpul di lokasi dan membakar dua truk sampah, menurut seorang saksi mata Reuters.

Beberapa yang mengalami luka-luka telah dilarikan ke rumah sakit di dekat Tripoli, sementara yang lain dibawa ke Beirut, kata Rashid Maqsood, seorang pejabat Asosiasi Medis Islam.

Mayoritas korban luka berada dalam kondisi serius, kata Dr Salah Ishaq dari Rumah Sakit al-Salam. “Kami tidak bisa menampung mereka, kami tidak punya kemampuan. Ini situasi yang sangat buruk.”

Yassine Metlej, seorang karyawan di rumah sakit Akkar, mengatakan bahwa fasilitas tersebut telah menerima setidaknya tujuh mayat dan puluhan korban luka bakar. “Mayat-mayat itu begitu hangus sehingga kami tidak dapat mengidentifikasi mereka,” katanya kepada AFP.

Dia mengatakan rumah sakit harus menolak sebagian besar korban luka karena tidak mampu mengobati luka bakar yang parah.

Seorang karyawan di rumah sakit lain yang meminta untuk diidentifikasi hanya sebagai Mohammad mengatakan lebih dari 30 orang yang terluka telah datang ke fasilitas tersebut.

“Mereka semua mengalami luka bakar,” katanya, seraya menambahkan bahwa banyak yang ditolak karena rumah sakit tidak dilengkapi untuk menangani kasus-kasus seperti itu.

Berdasarkan video yang beredar di media sosial, kobaran api di lokasi ledakan sangat besar, melahap sisa-sisa logam. Agence France-Presse tidak dapat secara independen memverifikasi keaslian rekaman tersebut.

Lebanon, yang oleh Bank Dunia disebut sebagai salah satu negara yang mengalami krisis ekonomi terburuk sejak tahun 1850-an, telah bergulat dengan melonjaknya kemiskinan dan kekurangan bahan-bahan pokok seperti obat-obatan dan bahan bakar.

Pada hari Sabtu, tentara Libanon mengatakan telah menyita ribuan liter bensin dan solar yang ditimbun oleh distributor melalui pompa-pompa di seluruh negeri, dan minggu lalu telah menyaksikan beberapa insiden pembajakan kapal tanker.

Ledakan Akkar terjadi kurang dari dua minggu setelah Lebanon memperingati tahun pertama ledakan di pelabuhan Beirut musim panas lalu yang menewaskan lebih dari 200 orang.

Pada tanggal 4 Agustus 2020, stok pupuk amonium nitrat yang disimpan sembarangan meledak dan membuat sebagian besar ibu kota tampak seperti zona perang. Merupakan salah satu ledakan non-nuklir terbesar dalam sejarah.

“Pembantaian Akkar tidak berbeda dengan pembantaian di pelabuhan,” kata mantan perdana menteri Saad al-Hariri di Twitter. Ia menyerukan para pejabat Libanon termasuk presiden untuk bertanggung jawab dan mengundurkan diri.

Hariri adalah politisi Muslim Sunni terkemuka, agama dominan di utara Lebanon, dan secara terbuka menentang presiden Lebanon Michel Aoun.

Gebran Bassil, yang mengepalai partai yang didirikan oleh Aoun, menulis di Twitter bahwa “hati kami bersama keluarga di Altalil dan Akkar malam ini.”