Laut China Selatan Memanas, Beijing Minta AS Berhenti Provokasi

Berita Baru, Internasional – Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Mark Esper,  mengkritik kebijakan Beijing di Laut China Selatan dengan menyebut bahwa negara itu telah membahayakan stabilitas regional.

Ia juga menyampaikan akan mempertahankan kehadiran militer rutinnya di kawasan (sekitar laut China) untuk menunjukkan keseriusan komitmen.

Juru bicara Armada Ketujuh Angkatan Laut AS, Komandan Reann Mommsen, dikutip oleh Reuters, mengatakan bahwa kapal perang Angkatan Laut AS berlayar di dekat wilayah yang disengketakan di Laut China Selatan pada hari Rabu dan Kamis.

Operasi ‘Kebebasan Navigasi’ itu saat ini melibatkan Kepulauan Paracel dan Karang Mischief .

Namun, militer China mengatakan bahwa mereka telah melacak lintasan armada Angkatan Laut AS di dekat pulau-pulau dan mendesak Washington untuk menghentikan provokasi.

Bagian maritim di Laut China Selatan adalah titik mencuat dalam hubungan antara Washington dan Beijing, serta beberapa negara lain di wilayah tersebut, termasuk Vietnam, Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina dan Taiwan.

Mayoritas pulau di kawasan sengketa saat ini dikendalikan oleh Beijing, tetapi juga diklaim oleh Vietnam, Brunei, Kamboja, dan Filipina. Sementara China menuduh Filipina dan Vietnam menggunakan dukungan AS untuk meningkatkan ketegangan.

Washington sebdirimempertanyakan komitmen Beijing untuk menyelesaikan perselisihan maritim secara damai.

Pada tahun 2016, panel arbitrase internasional di Den Haag menolak klaim China untuk memiliki seluruh Laut Cina Selatan. China secara sepihak menolak keputusan itu dan membangun pangkalan militer di wilayah yang disengketakan di kedua sisi laut.

Tidak hanya itu, kegiatan militer AS di dekat pulau-pulau yang disengketakan telah membuat marah pemerintah China.

Pada bulan Mei, China memprotes jalur tidak sah yang dilintasi oleh kapal militer AS di dekat Karang Scarborough yang disengketakan di Laut China Selatan dan menganggapnya sebagai pelanggaran kedaulatan Tiongkok.

Sumber : Sputnik News
Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini