Berita

 Network

 Partner

Lantai Pualam Dapur Rumah Kita | Puisi-Puisi Nanda Winar Sagita
Sumber ilustrasi: @triganavetyan

Lantai Pualam Dapur Rumah Kita | Puisi-Puisi Nanda Winar Sagita

Lantai Pualam Dapur Rumah Kita

sirna segala noda
tatkala kain pel menebar miliran kebenaran
dari air sabun berbusa
dan debu, ya debu
adalah bentuk kebijaksanaan lain
di lantai pualam dapur rumah kita

Yang Luput Dari Sejarah

sejarah tak pernah mencatat
jasa seorang ibu di kala pagi
membereskan seprai kusut
di atas kasur tidur
anak lelakinya
“lantas apa
yang dipedulikan sejarah?” tanyamu.
tentu saja perjuangan seorang ibu
yang terbunuh di tepi hutan
setelah turun ke jalan
demi membela uang jajan
anak lelakinya yang kelaparan
“tapi itu pantas!”

Kami Adalah yang Mustahil

kami adalah suara musik
yang menyusup ke telinga-telinga
orang tuli untuk menyimak pesan
tentang nada kebebasan
kami adalah irama lagu
yang memaksa pita suara
orang bisu untuk mengungkap rasa
tentang estetika perjuangan
kami adalah kumpulan gambar
yang terpantul ke mata-mata
orang buta untuk meraup makna
tentang arti kemenangan
kami adalah yang mustahil
menerobos otak para peragu
hanya untuk membuktikan
kami ada

Berita Terkait :  Obituarium Ayah | Puisi-Puisi Royyan Julian

Senandung Rindu untuk Bulan

matamu memang angkuh
tapi tiap matahari mati
tak lelah kuucap salam:
“selamat malam bulan yang mengambang di langit”
sekeras apapun aku merayu
kesabaranku terjaga meski sebatas
menatap kemerlapmu dari sudut jendela
aku tak yakin kau memperhatikan
tunggu saja sampai aku jadi astronot
biar aku datang dan bercumbu di atas badanmu
meski mahkotamu menggerai manja
pada seribu manusia yang ingin menyentuhmu
dan kalau hanya memujamu
aku selalu punya waktu
mungkin suatu abad
akan kucoba mendaki langit
kalau aku tidak sampai ke situ,
kau katakan saja:
“bumi memang lebih indah jika dilihat dari tempatku menggantung”

Adikku

adikku seorang presiden
kuasanya bangkit dari kegamangan
tangan-tangan mungil pemegang paku
yang tertancap di atas kertas buram kemasyhuran
kuasanya berhak meludahi kepala
para anjing penjilat yang kelaparan
suatu hari ketika kami sedang bersila
di atas tikar pandan anyaman nenek
adikku tertunduk lesu dan tak berani menatap mataku
waktu itu aku katakan:
“dik
aku adalah peluru yang siap
mengkudetamu suatu hari nanti …”

Berita Terkait :  Sebuah Surat yang Dilipat menjadi Perahu Kertas

Nanda Winar Sagita adalah seorang pengajar sejarah dan penulis lepas. Karyanya berupa cerpen dan esai telah tersebar di berbagai media. Tinggal di Aceh Tengah.