Langkah Benar Mustafa Kemal Membubarkan Kekhalifahan Utsmani

Kekhalifahan Utsmani
Mustafa Kemal (Foto: kitasama.or.id)

Langkah Benar Musthafa Kemal Membubarkan Kekhalifahan Utsmani
(oleh : Siti Fatkhiyatul Jannah)

Kekhalifahan Utsmani dibubarkan pada tahun 1922 yang mengakhiri kekuasaan sebuah sistem negara terkuat di zamannya sejak abad ke-14 M. Karena mendapatkan dukungan penuh dari majelis nasional yang dibentuknya Mustafa Kemal dengan kekuatannya sebagai presiden langsung menjadikan warga Utsmani menjadi bangsa baru dengan identitas baru, Turki. Pada saat itulah kekhalifahan Utsmani mulai berubah dan berganti nama menjadi Republik Turki.

Ustmani adalah sebuah bangsa yang besar yang disegani dan menjadi teladan peradaban di zamannya bagi orang Eropa, Arab, Persia, dan juga Amerika. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Dennise A. Spillberg melalui penelitiannya bahwa berdirinya negara Amerika Serikat yang baru (diawal berdirinya) dibentuk oleh gagasan dan pemikiran dari Ustmani dan al-Qur’an. Melalui stabilitas yang ada di negara kesultanan Ustmani dan ketinggian al-Qur’an sebagai kitab suci Thomas Jefferson memulai bangunan Amerika Serikat mengikuti model yang diterapkan oleh Ustmani.

Di zaman keemasan dan kejayaannya bangsa Eropa lebih bangga menjadi warga Ustmani, kendati itu harus diproses menjadi budak terlebih dahulu dengan cara bergabung dengan Jannisary. Orang Arab, Persia dan India juga merasa bangga dengan kebesaran kekuatan negara Muslim yang semakin memperkokoh eksistensi kehidupan bernegaranya tersebut. Semua bangsa di dunia datang ke kota-kota yang dipoles dan dipercantik di kawasan Utsmani, membentang dari Balkan, Kaukasia, Anatolia, Arabia dan Afrika Utara. Kota Istanbul, Izmir, Bursa, Sarajevo, Damaskus, Kut, Gazza, dan juga Tunis menjadi rujukan dalam belajar dan melihat kecantikan sebuah peradaban.

Kemajuan Kekhalifahan Utsmani tidak bisa lepas dari kepemimpinan para sultan yang cakap dan cerdas, memiliki insting politik yang tajam, analisis yang sesuai perkembangan zaman, dan didukung oleh birokrasi yang sehat dan profesional. Sejak Bayazid I, Muhammad al-Fatih, Sulayman al-Qanuni, hingga Abdul Majid perkembangan Ustmani senantiasa bisa dipantau dan dijadikan teladan oleh bangsa lain.

Ustmani Tua yang Sakit

Namun seiring berjalannya waktu kemajuan Kekhalifahan Utsmani semakin redup, dimulai dari korupsi, perebutan kekuasaan, orientasi jabatan dan harta, pesta pora, serta pembunuhan antar keturunan dan bobroknya institusi-intitusi tradisional yang sudah lama berkembang.

Saat Eropa bangkit melalui industrialisasi dan revolusi bentuk negara (sistem demokrasi, nasionalisme), kesultanan Ustmani masih berkutat pada ueforia kemajuan dan kekayaan yang dimilikinya. Tidak sadar dengan ancaman yang terus berdatangan, dari Rusia, Spanyol, Italia, Inggris dan juga pemberontakan dari dalam lambat laun memperlemah kepemimpinan Ustmani di beberapa tingkatan.

Berita Terkait :  Yunani Enggan Terima Simpatisan ISIS

Di Mesir, sejak dipimpin oleh gubenur Muhammad Ali merasa lebih independen alih-alih bagian dari Ustmani Raya di Anatolia. Di Afrika utara, beberapa tokoh sudah mulai membentuk kekuasaannya sendiri yang independent tanpa ada ikatan dengan Ustmani secara politik. Di Balkan, perpecahan dan balas dendam bangsa Slavia terhadap orang Muslim Turki terus menghantui dan menjadi ancaman nyata bagi kekuasaan Ustmani di Rumelia (Eropa Tenggara). Orang Yunani, semakin menunjukkan taringnya dan mulai menggerogoti Ustmani Raya yang kaya menjadi negara Tua yang sakit.

Dalam kesakitan yang dialaminya itu musuh-musuh Ustmani mulai kuat dan menjadi raksasa yang bangkit. Inggris dan Perancis berlomba-lomba menguasai lautan. keTsaran Rusia mulai menciptakan model kekuasaan yang lebih sesuai dengan lokasinya, dan beberapa kerajaan kecil mulai meminta wilayah yang lepas dari pengaruh Utsmani.

Perang Balkan I dan Perang Balkan II semakin menjadikan Ustmani bangkrut dan lemah. Tidak mampu membiayai kehidupan masyarakat dan pegawainya. Mulailah negara mengajukan hutang ke luar negeri dengan bunga yang cukup mencekik dari bangkir Yahudi. Tentara di garnisum-garnisum Ustmani di seluruh provinsi kehilangan pemimpin yang kharismatik, yang berpotensi menimbulkan pemberontakan dan pelemahan negara.

Di dalam pemerintahan Kekhalifahan Utsmani sendiri kekuasaan Sultan semakin lemah karena Janissray semakin memperkaya diri dan Syaikhul Islam tidak lagi menjaga harga dirinya sebagai lembaga yang berwibawa, menyebabkan sultan mudah dikendalikan dan digantikan oleh penggantinya yang tidak kalah lemah.

Puncaknya, ketika pemerintahan yang dibentuk oleh sekelompok komunitas yang menyatakan diri sebagai Utsmani Muda dan Turki Muda melibatkan diri dalam Perang Besar (Perang Dunia I) dengan mengikuti barisan di Blok Sentral bersama kekaisaran Prussia-Jerman, Kerajaan Bulgaria dan Kekaisaran Astro-Hungaria. Keterlibatan Amerika Serikat dalam perang tersebut menjadi blok yang diikuti oleh Utsmani kalah dan menjadikan posisi Utsmani sebagai negara yang harus menerima genjatan senjata.

Kekalahan dan Kehancuran Ustmani

Kekalahan Ustmani yang paling berpengaruh dengan kehancurannya sebagai negara besar tidak dikarenakan kalah dalam berperang. Pada beberapa kasus pertempuran pasukan Ustmani tergolong kuat dan sulit untuk ditaklukkan. Inggris-Prancis selama bertempur di front Timur Tengah cukup kesulitan menghadapi kegigihan pasukan Ustmani yang dipimpin dengan cukup baik oleh komandan yang cakap. Bahkan keganasan pertempuran di Gazza dianggap sebagai neraka yang lebih ganas dibandingkan di Front Barat.

Berita Terkait :  Di Tengah Kecamuk Kurdi Suriah, Putin Undang Erdogan ke Rusia

Adalah pemberontakan di provinsi Arab yang paling menjadikan Ustmani lemah dan tidak berdaya. Dengan dukungan Inggris, kaum Sa’ud-Wahabisme dan klan Hasyimiyah sangat berperan sekali membantu Inggris mengalahkan garnisum-garnisum Ustmani yang ada di Arab, baik di Suriah Raya, Hijaz maupun di Mesir.

Sebagai negara yang kalah dalam perang maka Utsmani harus menerima semua perjanjian yang dibuat oleh Etente atau Sekutu. Khalifah dan Saikhul Islam menerima segala perjanjian yang dibuat oleh Etente yang menyebabkan beberapa wilayah Ustmani menjadi hak bagi Italia, Rusia, dan Yunani. Alhasil, wilayah Ustmani semakin menyempit, hanya menyisahkan beberapa kawasan Istanbul, Anatolia tengah dan Timur. Pada intinya perjanjian yang dibuat untuk Ustmani merupakan sebuah kebijakan yang sangat menghancurkan Ustmani sebagai sebuah kesultanan Muslim yang besar.

Mustafa Kemal Pasha seorang pahlawan Galipoli, yang menggagalkan operasi amfibi terbesar angkatan laut Inggris-Australia di front timur (di zamannya), tidak menerima kepetusan Sekutu dan menolak semua perjanjian yang dibuat untuk Turki. Penolakan tersebut menyebabkan Mustafa dituduh sebagai penghianat negara dan dihukumi hukuman mati oleh Saikhul Islam.

Tuduhan dan vonis dari Khalifah tidak menyurutkan upaya Mustafa Kemal dalam mempertahankan tanah Ustmani agar tetap utuh. Mulailah dia bersama kawan-kawannya membentuk Majelis Nasional di Ankara, membentuk kembali pasukannya dan siap menghadapi segala kemungkinan tindakan dari para penjajah sekutu di tanah Ustmani, termasuk opsi militer.

Mustafa Pahlawan Turki

Langkah Mustafa Kemal mendapatkan respon dari Yunani, Italia dan Rusia. Di beberapa front yang dianggap sebagai rampasan perang oleh Sekutu Mustafa Kemal berperang dengan gigih yang menyebabkan semua negara-negara penjajah itu terlempar keluar dari wilayah Ustmani. Itali gagal memiliki beberapa wilayah di Anatolia, Yunani berhasil dilempar menuju ke tanahnya, dan Rusia angkat kaki dari kawasan Anatolia Utara.

Kemenangan Mustafa Kemal menguatkan posisinya sebagai pememipin negara Ustmani baru yang lepas dari perpecahan dan penjajahan. Mulailah narasi bangsa Turki dimunculkan untuk menggantikan narasi lama Ustmani. Dan untuk memperkuat keberadaan narasi baru, negara-bangsa Turki, maka narasi lama harus dihapus dan dijadikan sebagai kenangan yang harus dikubur dalam catatan sejarah. Mulailah dia memplokamirkan dirinya sebagai presiden negara Ustmani baru dengan nama Republik Turki, menghapus kesultanan, membubarkan Saikhul Islam, dan pada gilirannya di tahun 1922 kekhalifahan di hapus untuk selamanya dimuka bumi.

Berita Terkait :  Ultimatum AS, Turki Siap Operasi Sendiri di Suriah

Pembubaran kekhalifahan Ustmani oleh Mustafa Kemal bukan tanpa alasan. Ada banyak alasan yang menyebabkan Mustafa harus bergerak cepat mengubah Usmani menjadi Republik Turki. (1) Manajemen yang bobrok, (2) birokrasi yang kurang efektif, (3) militer yang kalah kuat dengan Eropa, (4) kemajuan tehnologi yang tidak dimiliki, (5) sistem pemerintahan tradisional (kesukuan) yang tidak lagi relevan, (6) maraknya nasionalisme di tanah Arab, dan (7) kekayaan yang semakin menyusut dengan mengandalkan pertanian adalah sederet alasan Mustafa harus membubarkan kesultanan Ustmani. Dan tentunya masih ada banyak fakta yang menyebabkan Mustafa harus membubarkan kekhalifahan.

Ancaman bagi rakyat Utsmani dan umat islam jelas, akan merugikan—jika saja langkah pembubaran kekhalifahn tidak dilakukan oleh Mustafa. Jika kekhalifahan tetap ada maka tanah Ustmani yang terjajah akan semakin menyempit (tidak seluas wilayah Republik Turki Modern saat ini), institusi kekhalifahan akan ketinggalan zaman, kemajuan Turki akan terhambat dan segala bentuk korupsi dan kebobrokan akan tetap menjadi penyakit bagi negara Ustmani yang karam itu.

Langkah Progresif Mustafa

Langkah Mustafa Kemal terbukti benar dengan membubarkan kekhalifahan Ustmani dan menggantinya dengan bentuk negara yang baru mengikuti model yang berkembang, Republik Turki.

Di tahun 1940 Pada saat Perang Dunia II semakin berkobar di beberapa front, para pemimpin Turki didekati oleh beberapa diplomat dari Jerman, Inggris, dan Amerika. Semua mengajak Turki untuk bergabung di masing-masing bloknya, antara Axis atau Sekutu. Atas wasiat Mustafa Kemal sebelum wafat, yang mencegah Turki agar tidak terlibat konflik dengan kepentingan segelintir penguasa Eropa maka Turki berhasil memposisikan diri sama sekali tidak terlibat dalam perang.

Bisa jadi, seandainya kekhalifahan masih ada pasti akan berpihak pada salah satu blok yang berpotensi menjadi perpecahan bagi wilayahnya. Hal itu juga akan melahirkan banyak kekhalifahan di negeri-negeri Muslim. Raja Ibnu Sa’ud di Jazirah Arab pasti mengklaim sebagai khalifah, syah Iran juga mengklaim sebagai khalifah, dan mungkin pula Mesir juga akan mengklaim sebagai khalifah.

Inilah pelajaran penting dari Mustafa Kemal yang sering dikaburkan oleh beberapa pengamat yang subjektif terhadap realita sejarah peradaban manusia. (*)

2 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan