KTT China, Jepang dan Korsel; Bisnis Tidak Menyembuhkan Luka Lama

(Foto : CNBC)

Berita Baru, Internasional – Tiga ekonom besar Asia–China, Jepang dan Korea Selatan (Korsel)–mengadakan pertemuan minggu lalu. Pertemuan pimpinan tiga negara di kota Chengdu, China itu untuk mempercepat negosiasi perdagangan yang telah berlangsung sejak lama.

Dilansir dari CNBC, Senin (30/12), pertemuan tiga negara yang mewakili seperempat dari ekonomi dunia tersebut bisa dibilang sebagai suatu misi perdamaian (dagang) yang cukup mengagumkan. Pasalnya,  lebih dari $700 miliar dicapai ketiga negara itu dalam transaksi perdagangan selama 2018.

Namun, Michael Ivanovitch–seorang analis ekonomi dunia, geopolitik dan strategi investasi)–menilai para pemimpin tahu bahwa jalan ke depan dipenuhi dengan rintangan. Rasa sakit mendalam akibat luka sejarah yang ditinggalkan,–mungkin tidak bisa diobati dengan relasi bisnis atau perdagangan sekalipun.

Semua luka itu, menurut Ivanovitch, disebabkan oleh Jepang. Sampai saat ini, Tiongkok terus memperingati para martir di seluruh kota di tangan penjajah Jepang pada Perang Dunia II. Sementara Korsel tak bisa melupakan perbudakan rakyatnya oleh pemerintah kolonial Jepang dan Tokyo beserta tuduhan penolakan membayar ganti rugi perang.

Berita Terkait :  Raksasa Teknologi China Percepat Upaya Memerangi Corona

“Semua pusat masalah itu berasal dari Jepang,” ungkapnya.

Jalan Terjal Diplomasi

Selain itu, hingga kini China dan Korsel memiliki perselisihan dengan Jepang tentang klaim teritorial yang belum terselesaikan di laut China Timur dan di Laut Jepang.

Ketiga negara terjerat dalam persoalan yang mereka anggap sebagai masalah prinsip terkait dengan kedaulatan dan integritas teritorial.

Meski cukup silang sengkarut, jika masih ingin mempertahankan luka masing-masing, Jepang akan tetap menjaga stabilitas ekonomi negara dengan mesin ekspor miliknya.

Oleh karena itu, peringatan serius yang tak terduga muncul dari Jepang pekan lalu, bahwa stabilitas di laut China Timur diperlukan untuk hubungan yang lebih baik dengan China yang selama ini menjadi mitra terbesar Tokyo.

Dengan kata lain, untuk hubungan Tiongkok-Jepang yang stabil dan tetap mentereng, Tokyo meminta Beijing untuk melepaskan klaim teritorialnya atas Kepulauan Senkakudi laut China Timur yang saat ini dikelola oleh Jepang. Sebuah peringatan yang cukup menyebalkan bagi Tiongkok jika harus menyerahkan wilayah itu.

Berita Terkait :  Xiao Yaqing, Kepala MIIT China Baru Untuk Bersaing Dengan AS

Masalah Jepang dengan Koresel memang  tidak lebih sensitif dibandingkan dengan China, tetapi mereka ditekan selama 35 tahun oleh pemerintahan kolonial Jepang.

Ditambah dengan konflik terbaru soal pengadilan Korsel yang meminta kompensasi atas kerja paksa yang harus dibayar oleh perusahaan Jepang. Tokyo menolak keputusan itu, dengan alasan bahwa masalah seperti itu telah diselesaikan oleh perjanjian bilateral 1965.

Hubungan Jepang dan Korsel yang memburuk telah menyebabkan boikot produk-produk Jepang, sehingga menyebabkan penurunan tajam ekspor Jepang ke Korsel sebesar 11,6% dalam sepuluh bulan pertama tahun ini. Kemunduran perdagangan juga tidak bisa dihindari karena masalah tidak cukup diselesaikan dalam waktu dekat.

Pertanyaannya adalah, mengapa China mendorong kesepakatan perdagangan bebas dan perbaikan hubungan dengan dua negara tetangganya di Asia Timur Laut?

Dalam hal perdagangan dan keuangan, Jepang dan Korsel membutuhkan China lebih daripada China membutuhkan mereka. Tahun lalu, penjualan China ke Jepang dan Korea Selatan mencapai setengah dari yang dijual Tiongkok ke AS, dan kurang dari dua pertiga penjualan barang China ke Uni Eropa.

Berita Terkait :  Kepolisian Hong Kong Amankan Pendemo RUU Lagu Kebangsaan

Oleh karena itu, jawabannya terletak pada upaya Beijing untuk menjalin hubungan politik yang erat dengan Tokyo dan Seoul.

Jepang, yang terikat dengan aliansi AS, tidak memiliki ikatan semacam itu dengan China.

Kasus Korsel bahkan lebih sulit. Keamanan Seoul sangat tergantung pada kehadiran militer AS untuk menjaga Korea Selatan dari kehancuran dan menawarkan perlindungan nuklir dari Korea Utara.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan