Kritik Kalung Eukaliptus, Sherina Munaf: COVID-19 Itu Virus, Bukan Nyamuk

Foto: Instagram Sherina Munaf

Berita Baru, Jakarta — Salah satu aktris dan penyanyi cantik, Sherina Munaf turut bersuara—merespons mengenai adanya rencana Kementerian Pertanian (Kementan) untuk menjual kalung antivirus COVID-19. Kalung tersebut diklaim mampu membunuh virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 hingga 80%.

Akan tetapi, berbagai kalangan meragukan akan hal itu, salah satunya adalah Sherina. Dia sangat skeptis akan Kementan dan menunggu kajian ilmiah tentang kalung tersebut.

“Ditunggu jurnal ilmiah kalung eucalyptus VS Covid-19 nya. Saya terima kalau saya blunder,” kata Sherina, melalui akun Twitter pribadinya, @sherinasinna, Minggu (5/7).

Selain itu, bahkan dengan tegas dia menyebut bahwa kalung tersebut adalah takhayul yang diilmiahkan.

Putri dari mantan Kepala Badan Ekonomi Kreatif itu berharap tidak ada nyawa yang menjadi korban akibat klaim sepihak dari pihak Kementan.

“Semoga nyawa tidak melayang karena takhayul yang diilmiahkan,” katanya.

Sebelumnya, Sherina sempat mengawali cuitannya tentang kalung kontroversial itu dengan sindiran jika Covid-19 adalah virus, bukan sejenis nyamuk yang bisa dimusnahkan hanya dengan kalung eucalyptus.

Berita Terkait :  Masjid di Inggris Jadi Tempat Pemakaman Jenazah COVID-19

“Kalung Antivirus Eucalyptus Anti Corona mau diproduksi massal? Setahu saya Covid-19 itu virus. Bukan nyamuk,” lanjutnya.

Namun, ia meralat ucapannya karena menyebut Covid-19 sebagai virus. Yang benar, Covid-19 adalah jenis penyakitnya, sementara SARS-CoV-2 adalah nama virus yang menyebabkan penyakit tersebut.

“Saya salah. Covid-19 adalah penyakitnya, yang disebabkan oleh Virusnya: SARS-CoV-2. Tapi untuk memperjelas, tetap bukan nyamuk,” katanya.

Cuitan itu pun mendapat respons positif dari warganet. Bahkan mereka pun meragukan klaim Kementan yang mengatakan kalung tersebut bisa membunuh virus corona hingga 80%.

“Penelitiannya baru sebatas molecular docking kak (komputasi), jadi belum diuji keefektifannya pada hewan dan manusia (uji klinik dan klinik). Jadi kajiannya masih awal/pendahuluan banget. Tapi sudah dijadikan produk. So, ya begitulah,” tulis @kr_senda.

“Ya harusnya produk yang dipasarkan itu yang sudah teruji ke hewan/manusia. Ini lucu sih ya kalo keluar dari lembaga pemerintahan. Apa nggak ada satu orang pun di kementerian tersebut yang berpendidikan?” kata @ObbieNugraha.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan