Krisis Iklim Ancam Setengah Lebih PDB Dunia

(Foto : CNBC)

Berita Baru, Internasional – Lebih dari setengah PDB (produk domestik bruto) dunia terancam oleh risiko perubahan iklim yang semakin meningkat, menurut sebuah laporan.

Lautan dunia mencapai rekor terpanas pada periode 12 bulan terakhir dengan suhu global berada di titik terpanas kedua. Keadaan ini di susul dengan terjadinya kebakaran hutan AS, Amazon dan Australia.

Dilansir dari CNBC, Minggu (19/1), laporan yang dirilis oleh WEF yang bekerja sama dengan PwC UK menyatakan bahwa sejumlah $ 44 triliun nilai ekonomi – lebih dari setengah PDB dunia – sangat bergantung pada hasil alam. Perincian dana tersebut diantaranya konstruksi ($ 4 triliun), pertanian ($ 2,5 triliun), makanan dan minuman ($ 1,4 triliun) merupakan tiga industri terbesar yang paling bergantung pada alam.

Jumlah tersebut kira-kira senilai dua kali ekonomi Jerman, menurut hasil perkiraan. Industri-industri itu mengandalkan ekstraksi langsung sumber daya dari hutan dan lautan beserta penyediaan jasa ekosistem seperti tanah yang sehat, air bersih, penyerbukan, dan iklim yang stabil.

Berita Terkait :  Para Ahli: Mutasi D614G Sangat Menular Tapi Mungkin Kurang Mematikan

Artinya, ketika alam kehilangan kestabilan dalam menyediakan layanan yang dibutuhkan, industri-industri itu secara signifikan terganggu.

Industri yang dinilai sangat tergantung pada alam itu menghasilkan 15% dari PDB global ($ 13 triliun) dan menghasilkan 37% ($ 31 triliun) secara keseluruhan.

Pemangku kebijakan dan pimpinan bisnis seluruh dunia akan tiba di Davos, Swiss, untuk membicarakan Forum Ekonomi Dunia (WEF) pada hari Senin (20/1) dengan fokus pembahasan pada krisis iklim yang semakin intensif.

“Kita perlu mengatur ulang hubungan antara manusia dan alam,” Dominic Waughray, direktur pelaksana WEF, mengatakan dalam laporan itu.

“Kerusakan alam akibat kegiatan ekonomi tidak lagi dapat dianggap sebagai ‘eksternalitas.’ Laporan ini menunjukkan bagaimana paparan terhadap kerugian alam bersifat material bagi semua sektor bisnis dan merupakan risiko yang mendesak dan tidak linier bagi keamanan ekonomi kolektif kita di masa depan.” Katanya menimpali.

WEF menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membantu pemerintah dan lembaga internasional dalam melacak kemajuan menuju Perjanjian Paris dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB.

Berita Terkait :  Peneliti: 1 dari 5 Orang Positif COVID-19 Memiliki Virus Pernapasan Lainnya

PBB telah mengakui perubahan iklim sebagai sebuah masalah dengan berbagai laporan yang menyatakan bahwa krisis iklim merupakan tantangan terbesar bagi pembangunan berkelanjutan.

Alan Jope, CEO Unilever, mengatakan, “kebutuhan akan laporan ini menunjukkan bahwa kita berada dalam kesulitan.”

“Para pemimpin bisnis dan pemerintah masih punya waktu untuk menindaklanjuti temuan-temuan laporan ekonomi alam teraru. Jika kita bekerja bersama, COP15 dan COP26 dapat menghasilkan komitmen yang kita butuhkan untuk memindahkan planet ini dari ruang gawat darurat ke pemulihan,” pungkas Jope.

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

3 × 3 =