Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Konflik Krimea: Rusia dan Ukraina Sepakat Genjatan Senjata
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (depan) menyaksikan parade angkatan laut pada Hari Angkatan Laut Ukraina di Odesa pada 5 Juli. Foto: Selebaran Kantor Presiden Presidensi Ukraina via AP

Konflik Krimea: Rusia dan Ukraina Sepakat Genjatan Senjata

Berita Baru, Internasional – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyambut baik upaya Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menyelesaikan konflik semenanjung Krimea antara Ukraina dengan separatis yang didukung Rusia tak lama sebelum gencatan senjata mulai berlaku pada hari ini, Senin (27/7), Minggu (26/7).

Hal tersebut disampaikan melalui sambungann telfon beberapa jam setelah Paus Francis mengatakan pada hari Minggu bahwa ia berdoa agar gencatan senjata baru antara Ukraina dan Rusia bisa terjadi sehingga membuka jalan bagi rekonsiliasi yang sangat dibutuhkan dan telah lama ditunggu-tunggu.

“Sementara saya bersyukur atas tanda niat baik ini yang bertujuan memulihkan perdamaian yang sangat diinginkan di wilayah yang tersiksa itu, saya berdoa agar apa yang telah disepakati akhirnya akan dipraktikkan,” kata Francis.

Kini, baik Rusia maupun Ukraina sepakat untuk menerapkan gencatan senjata di wilayah Donbass, Ukraina timur selama negosiasi berlangsung sebagai prasyarat untuk penyelesaian konflik semenanjung Krimea yang lebih lanjut.

Sejak tahun 2014, Ukraina berjuang melawan kaum separatis yang didukung oleh Rusia di wilayah Donetsk dan Lugansk setelah aneksasi Rusia atas semenanjung Krimea.

Menurut SCMP, pada saat itu, lebih dari 13.000 ribu nyawa melayang sejak konflik meletus tahun 2014 meskipun perjanjian damai ditandatangani di Minsk.

Pernyataan Kepresidenan Rusia mengatakan bahwa dalam panggilan telepon itu, Presiden Putin dan Presiden Zelensky menyambut perjanjian tentang gencatan senjata yang lengkap dan komprehensif di Donbass.

Presiden Zelensky juga menyerukan upaya dua kali lipat untuk menjamin pembebasan warga Ukraina di Donbass, Krimea dan Rusia.

Pada gilirannya, Rusia menggarisbawahi pentingnya ketaatan tanpa syarat dari perjanjian-perjanjian ini oleh kedua belah pihak dalam konflik.

Selain itu, Presiden Putin menyatakan kekecewaanya atas rancangan undang-undang baru-baru ini di parlemen Ukraina yang membuka jalan bagi pemilihan regional pada tahun 2020. Presiden Putin mengatakan RUU itu bertentangan dengan perjanjian Minsk dan membuat ‘prospek penyelesaian dalam bahaya’.

Berbagai upaya perjanjian genjatan senjata telah dilakukan di Ukraina Timur namun selalu gagal. Tercatat sudah ada 20 lebih upaya telah dilakukan yang gagal dalam genjatan senjata lengkap.

Genjatan Senjata dan KTT G7

Genjatan senjata itu pun kini menjadi syarat penting bagi pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 yang direncanakan Amerika Serikat berlangsung pada bulan Juni kemarin, namun gagal karena pandemi COVID-19.

Dalam rencana pertemuan itu, Presiden Trump menyatakan keinginan untuk mengadakan pertemuan G7 berikutnya dalam format ‘yang lebih besar’, di mana ia ingin kembali mengundang Rusia, Australia, Korea Selatan, dan India.

Namun Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan mereka ingin Ukraina dan Rusia melakukan genjatan senjata sebelum pertemuan dilakukan.

Pada hari Senin (27/7), Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas mengatakan bahwa Rusia tidak dapat dimasukkan kembali ke dalam format G7 sampai krisis Ukraina diselesaikan. “Alasan untuk mengecualikan Rusia dari daftar [G8] adalah aneksasi Krimea dan intervensi di timur Ukraina. Sampai kita menyelesaikan masalah ini, saya tidak melihat kemungkinan [untuk memasukkan Rusia dalam format],” tegas Maas, dilansir dari Sputnik.