Kitab Suci Seekor Anjing | Cerpen Anas S Malo

Melukis dengan angka "Anjing" by ARTLVIV in Pinterst

Anjing itu masih tetap berada di posisi semula dan selalu menjulurkan lidahnya, berada di samping Sani, seorang gadis yang dalam keadaan menanak penantian, di kursi panjang menghadap senja di pinggir sungai. Sani bertemu pertama kali dengan anjing itu ketika anjing itu dikejar-kejar oleh warga untuk dihukum karena ia sudah berani menghina agama mereka.

“Anjing ini sudah melanggar peraturan yang sudah disepakati bersama, bahwa binatang najis dilarang masuk ke tempat ibadah. Kalau sampai melanggar, harus dihukum,” ucap salah satu warga.

“Benar. Hukumannya dipotong kemaluannya atau dipotong kakinya biar tidak menginjak tempat suci kita,” timpal warga yang lain.

Warga berbondong-bondong hendak meringkus anjing itu. Ada yang membawa balok kayu, ada yang membawa parang dan batu. Melihat kemarahan warga, anjing itu semakin ketakutan. Air matanya menetes karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Di situlah, Sani melihat keributan itu. Seekor anjing berlari dari kejaran warga. Anjing itu, dengan amat ketakutan, kemudian berlindung di belakang betis Sani.

“Jika kau menolongku sekali saja, aku akan ingat sampai mati dan menganggapmu sebagai majikanku seumur hidup,” ucapnya.

“Benarkah?” tanya Sani.

“Di bangsa anjing, kami diajarkan untuk selalu setia dan mengharamkan pengkhianatan. Dalam kitab suci kami, kami dilarang mencuri atau korupsi, bahkan kami dilarang untuk menjadi pemabuk,”

“Aku sangat tersinggung sekali, saat orang-orang mengataiku sebagai bintang najis dan kalaupun iya, aku sebenarnya tidak mau menjadi anjing,” sambung anjing itu.

Sani melihat bola matanya berkaca-kaca, membuatnya tidak sampai hati. Ada ketulusan di ucapannya, yang membuatnya iba. Setelah warga mendekat ke arah Sani, anjing itu membelakangi Sani. Ia berusaha bersembunyi di balik tubuh Sani. Sani pun mencoba menghadang warga yang ingin mengadili anjing itu.

“Apakah di kitab suci kalian tidak diajarkan bagaimana menyayangi sesama makhluk Tuhan?” hardik Sani kepada belasan warga.

“Tentu saja, tetapi bintang itu najis dan berani memasuki tempat ibadah kami,” jawab salah satu warga.

“Bukankah anjing ini juga termasuk makhluk Tuhan? Kalau hanya memasuki tempat suci kalian, lantas kalian mau menghukumnya?” ucap Sani semakin meninggi.

“Iya, kami akan menghukum anjing itu!”

“Semua kitab suci di muka bumi ini mengajarkan kebaikan dan Tuhan tidak membeda-bedakan kasih sayangnya!” ucap Sani.

Mereka saling menoleh satu sama lain. Saling pandang, kemudian menatap Sani dan anjing itu dengan penuh kekesalan.

“Diam kau. Jangan mengajari kami tentang kebaikan. Kami lebih tahu apa yang harus kami perbuat. Minggir atau kami paksa dengan kekerasan!” Ancam salah satu warga. Salah satu dari warga sudah bersiap untuk mendorong gadis itu.

“Tunggu dulu,” cegah salah satu warga yang lain.

“Apa yang dikatakan oleh gadis itu memang ada benarnya. Semua ciptaan Tuhan harus kita hormati, termasuk anjing,” sambungnya. Kemudian orang itu menatap Sani dan anjing itu.

“Kalau sampai kejadian ini terulang lagi, kami tidak segan-segan untuk menghukum, bahkan membunuh anjing itu!” ucap orang itu, bernada peringatan. Beberapa warga membuang batu dan parang dan balok kayu yang mereka bawa dan berduyun-duyun berbalik arah ke rumahnya masing-masing.

Tetapi, mereka tetap menyimpan kebencian terhadap anjing itu.
Setelah warga pergi, Sani dan anjing itu berjalan beriringan menuju sungai. Anjing itu berlari-lari kecil.  Sementara Sani berjalan santai menyusuri jalan berkerikil dikelilingi pohon-pohon jati yang senantiasa menjatuhkan daun kering karena diterpa angin.

“Kau pasti pernah mendengar kisah seorang anjing yang hampir mati karena kehausan, lalu ditolong oleh pelacur?” tanya anjing itu.

“Belum pernah.”

“Benarkah? Anjing itu akhirnya selamat dan pelacur itu mendapatkan surga.” Sani menghentikan langkahnya sejenak. Gadis berkacamata itu membisu. Lalu melanjutkan langkahnya menyusuri jalan berkerikil. Sementara, anjing itu tertatih-tatih berlari-lari kecil berusaha mengikuti langkah Sani.

***

Sani duduk di sebuah kursi panjang menghadap sungai, melihat senja yang mulai redup. ia ditemani oleh anjing yang tadi mengikutinya. Di posisi duduk menyilang dan bersandar ke belakang, ia mengeja kata demi kata mendalami khazanah ilmu lewat bukunya Yuval Noah Harari, berjudul Sapiens. Dan anjing itu tetap di sampingnya. Ia juga tidak mengerti mengapa anjing itu senantiasa mengikutinya.

Anjing itu menjulurkan lidahnya, bernapas pendek dan tampak memprihatinkan dengan bopeng-bopeng di sebagian tubuhnya, meskipun terlihat mulai mengering. Darah yang disebabkan oleh luka di kepalanya mulai mampat. Anjing itu memperhatikan Sani dengan menoleh ke arahnya. Sesekali menggonggong.

“Apa benar anjing lebih setia dari pada manusia?” gumam Sani. Sesekali Sani menyodorkan biskuit pada anjing itu dan mengelus-elus lehernya. Anjing itu begitu menikmati. Kemudian gadis berkacamata itu melanjutkan pembacaannya terhadap asal usul manusia dan prediksi kepunahannya. Ia juga tidak mau melewatkan senja begitu saja. Ia sesekali memotret panorama senja dengan kamera. Ia selalu terpikat oleh  pemandangan senja yang akan tenggelam.
Senja berangsur-angsur mulai kemerah-merahan, satu jengkal dari kandungan cakrawala yang diukur dari jarinya.

Sani selalu menunggu seseorang di kursi panjang itu sampai matahari terbenam. Esoknya ia kembali lagi dan begitu seterusnya. Menurutnya tidak ada yang lebih tabah dari pada menunggu.

“Kau menunggu siapa?” tanya anjing itu.

“Aku menunggu ketidakpastian,” ucap Sani.

“Mengapa kau menunggunya, bukankah menunggu hal yang tidak pasti akan membuat dirimu tersiksa?”

“Entahlah, aku cuma bisa berharap, seseorang yang aku tunggu sadar, betapa hebatnya cintaku untuknya?”

“Apa kau tidak sadar jika ada aku di sampingmu, kenapa kau malah menunggu seseorang yang mungkin sudah tidak mencintaimu lagi?” ucap anjing itu. Sani menoleh ke wajah anjing itu dengan perasaan getir.

“Sudah kubilang, anjing lebih setia dari pada orang yang kau cintai. Anjing akan setia sampai mati karena kesetiaan adalah perintah Tuhan. Di dalam kitab suci anjing, pengkhianatan adalah dosa besar,” sambung anjing itu.

“Bagaimana bisa kau mencintaiku, kau anjing sedangkan aku manusia? Bukankah itu hanya cerita legenda Tangkuban Perahu, yang menceritakan kisah cinta Dayang Sumbi dan anjing peliharaannya?” ucap Sani.

“Aku tidak ingin kau mencintaiku. Aku hanya ingin mengabdikan hidupku kepadamu. Itu saja. Pertolonganmu sangat berarti bagiku. Anjing akan setia seumur hidup meski ditolong satu kali.”

“Baiklah,” ucap Sani.

Bola mata Sani melihat matahari yang sebentar lagi akan tenggelam. Dan seseorang yang ditungguinya hanya seberkas bayangan di matanya. Ia menyimpulkan bahwa seseorang yang ditungguinya sudah tidak mencintainya lagi, buktinya ia tidak datang. Saat mereka masih saling mencintai, mereka menghabiskan waktu sore untuk duduk di kursi panjang, melihat matahari yang akan terbenam di hadapan sungai.

Akhirnya Sani pun beranjak dari kursi itu saat matahari mulai terbenam. Ia berjalan pulang, diiringi oleh anjing yang baru tadi dikenalnya.

“Apa kau akan menunggu seseorang itu lagi di kursi panjang itu yang jelas-jelas orang yang kau tunggu tidak mencintaimu lagi?” tanya anjing itu sambil berlari kecil mengiringi Sani.

“Entahlah,” ucapnya bernada putus asa.


Anas S. Malo, lahir di Bojonegoro. Bergiat di Lembaga Kajian Sastra Kutub Yogyakarta dan belajar di Universitas Nahdhlatul Ulama Yogyakarta Prodi Teknologi Hasil Pertanian. Sekarang ia tinggal di pesantren Baitul Kilmah, asuhan penulis dan Kiai Aguk Irawan. Karya-karyanya sudah tersiar di media lokal maupun nasional. Antologi cerpennya  diterbitkan Belibis Pustaka berjudul Si Penembak Jitu, 2020.

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini