Kinipan: Kisah Kehancuran Ekosistem Alam Indonesia

Foto: Istimewa/Watchdog

Berita Baru, Jakarta – Watchdog Documentary kembali menghadirkan film dokumenter kerusakan alam Indonesia sebagai kritik terhadap kebijakan lingkungan yang dikeluarkan pemerintah. Film tersebut berjudul Kinipan.

Sutradara Film, Dandhy Dwi Laksono (pendiri Watchdog) dan Indra Jati menyuguhkan Kinipan bukan karena penderitaan masyarakat Kalimantan Tengah yang kehilangan hutan adat akibat ulah perusahaan sawit. Tetapi karena problem kehancuran ekosistem alam juga terjadi di daerah lain.

Kinipan juga menguak persoalan lingkungan terjadi karena adanya aturan dan sistem dari pemerintah yang tidak mempertimbangkan keberlangsungan ekosistem dengan serius. Bahkan keputusan yang dikeluarkan justru dapat merusak alam dan menyinggirkan masyarakat dari tanah lahirannya, dengan mengatasnamakan bisnis dan invertasi.

Kinipan tayang serentak di berbagai daerah pada April 2021 dan didistribusikan secara luas ke publik. Film berdurasi 2 jam 37 detik ini, menurut Dandy sudah tercatat 430 lokasi nobar #KINIPAN di seluruh Indonesia.

“Filmnya 2,5 jam, kontennya bukan hiburan, cetak poster sendiri, bikin kopi sendiri, diskusi sampai tengah malam.,” tulis Dandhy Dwi Laksono dalam akun twitter pribadinya, Selasa (6/4/2021).

Sebagai karya visual, Kinipan menceritakan perjuangan masyarakat dalam mempertahankan hutan, persisnya di Provinsi Kalimantan Tengah, Jambi dan Bengkulu. Selain itu juga terkait pembukaan lahan untuk program terpusat (food estate) food estate di Kabupaten Pulang Pisau.

Untuk membantu penonton memahami benang merah dari kasus dan tema yang berbeda, film dokumenter panjang tersebut dirangkai dalam format bab per bab seperti buku.

Bahkan sutradara juga memilih menggunakan dua aktor berpengalaman dalam gerakan konservasi di tingkat tapak (grass root) sebagai penggerak cerita, agar lebih mudah dipahami penontonya. Mereka adalah Basuki Santoso dan Feri Irawan.

“Banyak model gerakan lingkungan. Ada yang fokus ke satwa. Ada yang fokus ke konservasi atau sains. Ada yang kebijakan, ada yang ke agrarianya. Nah, dua tokoh ini secara ideologi dan movement-nya, kami anggap lebih dekat dengan editorialnya Watchdoc dalam memandang masalah lingkungan,” ucap Dandhy seperti dikutip dari mongabay.co.id.

Dandhy juga mengungkapkan, ada dua judul yang sebelumnya dipertimbangkan, sebelum dipilih Kinipan. “Akhirnya kami pilih yang lebih soft untuk judul. Kalau fool estate sudah terlihat, plesetan dari food estate. Statemen film nggak perlu kelihatan dulu, karena akan lebih bermain juga di poster, ada karakter juga. Ada dua figur di situ. Akhirnya, Kinipan kami pilih,” ujarnya. (MKR)

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini