Berita

 Network

 Partner

Khawatir Terjadi Serangan Susulan, Belanda dan Belgia Menghentikan Evakuasi di Kabul
(Foto: CNN)

Khawatir Terjadi Serangan Susulan, Belanda dan Belgia Menghentikan Evakuasi di Kabul

Berita Baru, Internasional – Pemerintah Belanda menghentikan penerbangan evakuasi dari Afghanistan usai  serangan bom bunuh diri mematikan yang terjadi di Bandara Kabul pada Kamis (26/8) malam waktu setempat.

“Amerika telah mengatakan kepada kami untuk menyelesaikan operasi kami di Afghanistan. Ini berita buruk. Dan faktanya, ini adalah berita buruk bahwa kita tidak dapat mengevakuasi warga Belanda dan keluarga mereka atau orang lain untuk saat ini,” kata Perdana Menteri Belanda Mark Rutte di televisi nasional.

Sejauh ini, Belanda telah mengevakuasi 1.500 orang, baik warga negaranya dan warga Afghanistan yang memenuhi syarat, sejak kejatuhan Kabul di tangan Taliban pada 15 Agustus lalu.
Meski begitu, Rutte menuturkan hingga kini belum jelas berapa warganya yang masih berada di Afghanistan.

Berita Terkait :  India Sebut Konflik dengan China di Perbatasan belum Membaik

“Situasi di Bandara Kabul telah memburuk dalam beberapa jam terakhir karena ancaman teroris. Orang-orang ketakutan,” papar Rutte seperti dikutip AFP.

Rutte mengatakan bahwa pihaknya telah berkomunikasi dengan Prancis, Belgia, Inggris, dan Jerman, untuk melihat apa yang bisa dilakukan dalam situasi saat ini di Kabul.

Selain Belanda, Belgia bahkan mengumumkan akan mengakhiri proses evakuasi dari Afghanistan menyusul ancaman teroris yang terus menguat di Bandara Kabul.

Perdana Menteri Belgia Alexander De Croo menuturkan keputusan itu dilakukan setelah ia mendapat informasi terkait bom bunuh diri di Bandara Kabul.

Seperti mengutip laporan Reuters, De Croo mengatakan sejauh 1.400 orang telah berhasil dievakuasi oleh Belgia dari Kabul.

Berita Terkait :  Pengunjuk Rasa Thailand Desak Jerman Usir Pulang Raja Maha Vajiralongkorn

Sementara AS dan Jerman masih tetap melanjutkan proses evakuasi di Afghanistan.

Kementerian Pertahanan AS menuturkan bahwa Washington bahkan akan tetap melakukan evakuasi sampai 31 Agustus jika diperlukan. 31 Agustus merupakan tenggat waktu yang disepakati AS dengan Taliban untuk menarik pasukannya dari Afghanistan.

Kanselir Jerman Angela Markel menuturkan negaranya akan melanjutkan penerbangan evakuasi sepanjang mereka bisa lakukan. Hingga Kamis (26/8) pagi, Jerman telah mengevakuasi 5.193 orang dengan 34 penerbangan.

Jerman menuturkan telah mengidentifikasi sekitar 10 ribu orang yang perlu dievakuasi keluar Afghanistan, termasuk staf lokal Afghanistan, jurnalis, dan aktivis HAM.

Sementara itu, Prancis berharap dapat menyelesaikan proses evakuasinya dari Kabul hingga Jumat (27/8) malam.

Berita Terkait :  Selandia Baru Tetapkan Pelaku Penembakan Masjid Sebagai Teroris

Kemlu Prancis menuturkan lebih dari 100 warganya dan lebih dari 2.000 warga Afghanistan telah dievakuasi ke negara Eropa itu.

Dengan begitu, AS dan negara sekutu telah mengevakuasi setidaknya 95.700 orang sejak 14 Agustus lalu, sehari sebelum kejatuhan Kabul ke tangan Taliban.