Ketum IKA UB Nilai Pengambil Kebijakan Harus Miliki Perspektif Ekonomi Politik

Buku Ekonomi Politik Ahmad Erani
Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Universitas Brawijaya Ahmad Erani Yustika dalam Bedah Buku "Ekonomi Politik" Pijakan Teoritis dan Kajian Empiris, Senin (18/1).

Berita Baru, Jakarta – Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Universitas Brawijaya (Ketum IKA UB) Ahmad Erani Yustika meluncurkan buku berjudul Ekonomi Politik: Kajian Teoretis dan Kajian Empiris, pada Senin, 18 Januari 2021 secara daring.

Menurut Erani, sudut pandang semacam ekonomi politik menjadi salah satu pintu untuk bisa menelisik apa yang sebetulnya terjadi atas peristiwa-peristiwa maupun kebijakan ekonomi di suatu wilayah, termasuk dalam hal ini di Indonesia. 

“Itulah yang saya rasakan menjadi relevan kenapa ekonomi politik itu perlu didorong dan dialami. Terutama bagi yang bekerja sebagai pengambil kebijakan maupun mereka yang ada di gedung-gedung perguruan tinggi yang punya tugas menyemaikan ilmu pengetahuan di bidang ekonomi kepada mahasiswa khususnya,” kata Erani dalam Bedah Buku “Ekonomi Politik” Pijakan Teoritis dan Kajian Empiris yang disiarkan lewat kanal Youtube UBTV Livestream, Senin (18/1).  

Di dalam buku ini, kata Erani, secara singkat ia mencoba memaparkan tiga perspektif mengenai ekonomi politik. Pertama adalah political economy of classical and neoclassical economics

Berita Terkait :  Hadiri Bedah Buku IKA UB, Teten Masduki: Negara Memastikan UMKM Tumbuh dan Berkembang

“Jadi ekonomi politik klasik dan neo klasik yang saya kira ini lebih mudah dipahami oleh para mahasiswa ilmu ekonomi, karena mulai dari awal gagasan mengenai ekonomi klasik dan neoklasik sudah diketahui dengan sangat baik,” ujar Erani.

Kedua, political economy keynesian political economy, perspektif ekonomi politik dari garis pemikiran John Maynard yang selama ini menjadi salah satu titik tumpu analisis ekonomi. Terutama dari sisi kebijakan fiskal khususnya ketika ekonomi terjadi resesi atau depresi.

“Seperti dalam banyak sejarah perkembangan ekonomi termasuk saya kira dalam beberapa hal ketika pandemi terjadi ini serentak di semua negara, teori yang terkait dengan keynesian economics atau keynesian political economy jadi sangat relevan,” ucap Erani.

Ketiga, sekaligus yang terakhir adalah marxian political economy. Perspektif ekonomi politik dari Karl Marx yang selama ini tidak banyak dikonsumsi pemikirannya oleh para mahasiswa dalam banyak disiplin ilmu ekonomi maupun di luar ilmu ekonomi. 

“Kami atau saya ketengahkan disini sebagai suatu cara pandang untuk melihat relevansi teori tadi itu untuk melihat beberapa perkara spesifik termasuk yang ada di negara kita,” ungkap Erani. 

Berita Terkait :  Di Depan DPR, Gus Menteri Beberkan Program Prioritas Pembangunan Desa

Erani menyebut, secara garis besar tiga hal itu yang ia tulis dalam buku Ekonomi Politik: Kajian Teoretis dan Kajian Empiris.

Erani menuliskan penutup pada buku ini mengenai pentingnya untuk melihat realitas di Indonesia di mana etnisitas itu sedemikian kaya dan beragamnya. 

Tidak mungkin, lanjut Erani, kebijakan itu dibuat seragam tanpa menghadirkan dan mempertimbangkan kenyataan, bahwa di Indonesia itu ada sekian banyak identitas yang melekat.

“Dan itu bagian dari kerjasama yang mesti disedot oleh pengambil kebijakan diketahui dengan sangat baik, sehingga nantinya ketika kebijakan itu diambil bisa menjadi kekuatan yang beradaptasi dengan keanekaragaman tadi itu,” tandas Erani.

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini