Ketika Perempuan Dibungkam, Sastra Harus Bicara

Sastra

Ketika Perempuan Dibungkam, Sastra Harus Bicara
(Membedah Pemikiran Aisyah Sulaiman, Sastrawan Feminis Abad Peralihan)


Nureza Dwi Anggraeni

Dosen Universitas Riau Kepulauan


Sastra adalah suara. Tidak hanya suara penulis, tetapi juga menyuarakan masyarakat, suara komunitas, dan suara lingkungannya. Sastra juga suara-suara dari orang-orang yang tak bersuara dan suara dari orang yang dilarang bersuara. Dengan demikian, menulis karya sastra adalah proses memberikan suara kepada orang-orang yang tak bersuara.

Hal ini sudah dilakukan para perempuan yang menyuarakan emansipasi sejak zaman Kartini, mereka dikenal sebagai pionir feminis Indonesia. Selain Kartini, ada banyak penulis emansipasi yang gaung namanya tak senyaring Kartini. Sebut saja cucu perempuan Raja Ali Haji, Raja Aisyah Sulaiman, yang sangat intuitif menuliskan keadaan perempuan di zaman peralihan abad ke 19 dan 20, melalui sastra.

Jika dibidik dengan teori Ginokritik, maka sasaran bedahnya adalah hubungan antara karya sastra dengan pengalaman yang dialami oleh pengarang perempuan. Disitu kita akan melihat bagaimana perasaan dan pengalaman pengarang perempuan dalam masyarakat patriaki.

Semisal dalam Syair Khadamuddin yang ditulis Aisyah, pada tahun 1926. Dalam syair itu, Aisyah Sulaiman menunjukkan tubuh perempuan adalah ladang pertempuran yang kerap kali para pelakunya bukan si perempuan itu sendiri;perempuan diajarkan untuk mampu memasak, piawai membersihkan rumah, jago mematut diri, dan harus bisa merawat tubuh untuk kepentingan laki-laki.

Tapi perempuan-perempuan yang hebat tahu bahwa mereka bukan sekadar hiasan, termasuk Asyah Sulaiman. Ia tahu bagaimana cara untuk melawan ketidakadilan. Dalam karyanya ia mengajarkan para perempuan untuk mampu menyeimbangkan antara tubuh dan akalnya.

Ide yang dimunculkan Aisyah Sulaiman dalam kutipan Syair Khadamuddin  bersumberkan dari tubuh perempuan yang lembut. Kelembutan itu menarasikan pemahaman bagaimana perempuan memberi konsep terhadap situasi mereka dalam masyarakat.

Meski tidak terdapat gerakan Romantisme dalam kesusastraan Melayu–karena faktor sosial politik yang berlainan di Eropa dan Nusantara–, pengarang Melayu sudah bersikap individualistik dan ekspresif semenjak zaman peralihan, sekitar abad ke-19. Pengarang Melayu sudah menjadi lebih bebas dan lebih berani menyatakan perasaan, keinginan, reaksi, bahkan protes terhadap sesuatu. Karekteristik tersebut menunjukkan bahwa Aisyah Sulaiman sebagai pengarang dari zaman peralihan memang berbeda dari pengarang sebelumnya.

Berita Terkait :  Semiotika Resistensi Puisi Dareen Tatour

Kepandaian Aisyah Sulaiman terlihat dari penggunaan kata dalam Syair Khadamuddin. Ia mampu mengungkapkan cerita dengan tepat dan indah. Menggunakan bahasa yang indah, Aisyah mencoba melindungi keinginan atau kebutuhannya. Penggunaan bahasa yang cenderung klise merupakan salah satustrategi bersuara tanpa harus terlihat dominan.  

Psikologi perempuan dalam penulisan, biasanya dapat terlihat dari pengalaman buruk yang dialaminya. Menyatir pernyataan Gilbert dan Gubar, pada abad 19, pengarang perempuan menggambarkan watak-watak perempuan dalam situasi kesakitan, kegilaan, hilang selera makan, dan gugup dalam teks-teksnya.

Gambaran psikologi perempuan dalam sastra dikaitkan dengan hidup pengarangnya, yang hidup dalam masyarakat patriarki. Perempuan sebagai kelompok ‘seks kedua’ dalam keadaan rendah diri sehingga mempengaruhi psikologi perempuan pada zaman tersebut. Psikologi pengarang perempuan berhubungan dengan pengalaman pribadi pengarang yang menentukan gaya, pemilihan persoalan dan cara melukiskan watak tokoh cerita.

Latar belakang kehidupan dan pengalaman pribadi sebagai keluarga Kerajaan Riau Lingga juga mempengaruhi Aisyah Sulaiman dalam bersikap. Selain itu, persoalan yang diangkat dalam Syair Khadamuddin juga berkaitan dengan psikologi Aisyah Sulaiman yang merasa kehidupan perempuan masih dijajah oleh kaum laki-laki.

Ada banyak faktor sosial, ekonomi, dan politik terlibat dalam pembentukan sikap individualistik pengarang pada masa dan tempat tertentu. Aisyah Sulaiman yang berasal dari keturunan bangsawan Riau membuatnya tidak memiliki masalah keuangan. Sedangkan tanpa kebebasan dan kemerdekaan dari pengaruh uang dan kuasa politik, sikap kritis tidak akan muncul dalam diri pengarang.

Hidup di zaman peralihan antara kesusasteraan lama dan baru antara akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, mempengaruhi Aisyah Sulaiman dalam mengarang. Perkembangan mengarang pada zaman Aisyah Sulaiman tidak lepas dari kegiatan tulis-menulis sebelumnya.

Berita Terkait :  Desakralisasi Kecak Bali

Dengan latar belakang seperti itu, ketertarikan penuh minat pada tulisan perempuan meningkat pada tahun 1970an sepenuhnya dapat dibenarkan. Para penulis perempuan benar-benar mengekspresikan hasrat mereka sendiri secara tertulis; Akhirnya, pembaca perempuan akan menemukan hasrat mereka sendiri tercermin dalam buku-buku yang ditulis dengan pemikiran perempuan. Maka tak heran bila banyak penulis wanita berkembang pada periode ini.

Dalam tradisi kepengarangan, Aisyah Sulaiman dapat digolongkan sebagai pelopor pengarang zaman peralihan atau transisi dari kesusastraan Melayu Tradisional ke kesusastraan Melayu Indonesia modern. Hal ini ditinjau dari sudut masa kepengarangan dan tema karya yang dihasilkan walaupun beliau masih menggunakan genre kesusastraan tradisional, yaitu syair dan hikayat.

Bentuk sastra yang dipilih Aisyah Sulaiman juga membuktikan bahwa, dalam bidang penulisan kreatif, puisi adalah bidang di mana perempuan telah mampu menciptakan tingkat kebebasan yang lebih tinggi dan memiliki kesempatan lebih besar untuk karya mereka dikenali.

Berlatarbelakang gambaran tentang suasana kesusastraan dan kehidupan di Riau Lingga, Aisyah Sulaiman lahir dan besar menjadi pengarang. Kesan ekspresif pengarang Melayu yang individualis terlihat dalam kesusastraan Melayu pada abad ke-19. Muncul karya otobiografi, otobiografi fiksi, kisah pelayaran, catatan harian, serta puisi lirik yang mengekspresikan diri dan reaksi pengarang.

Aisyah Sulaiman tidak lagi menunjukkan kesan pengarang tradisional sebagai hamba yang berbakti kepada raja dan tidak menghendaki adanya batasan yang berhubungan dengan kerajaan. Hal inilah yang membuat Aisyah Sulaiman lebih berani mengungkapkan diri. Perkembangan ini mempunyai kaitan dengan masuknya budaya barat ke Nusantara pada zaman peralihan di abad ke 19.

Peranan pulau penyengat sebagai pusat doktrin fundamentalisme Islam dan reformasi Islam di Asia Tenggara memainkan peranan yang penting dalam membentuk Aisyah Sulaiman sebagai pengarang yang bersikap individualis dan idealis.  Ide reformasi Islam yang bermula di negara-negara Arab tersebar di Riau Lingga.

Berita Terkait :  Ekonomi Normatif

Penyebaran itu dilakukan dengan berbagai cara, termasuk orang Riau sendiri yang membawa masuk ide reformasi Islam setelah mendapat pendidikan di Kaherah dan Mekah, seperti Raja Haji Abdullah, Raja Ahmad dan Raja Ali Haji pernah mendapatkan pendidikan di Mekah, setelah menunaikan haji. Raja Ali Kelana dan Tengku Uthman juga merupakan pengarang dan cendikiawan yang dihantar untuk belajar di Kaherah.

Dari penjelasan di atas, tampak bahwa terbentuknya pengarang Melayu di zaman peralihan karena disebabkan faktor sosial budaya, kemudian menyusul dengan masuknya budaya barat akibat kuasa penjajah Barat. Proses pembaratan bermula melalui hubungan orang Melayu dengan pegawai penjajah Barat pada kurun abad ke-19, mendorong beberapa pengarang Melayu menghasilkan kisah yang mengungkapkan diri serta menuliskan hal-hal yang saat itu terjadi.

Suasana sastra Melayu pada zaman peralihan  memiliki ragam warna, bukan saja karena kehadiran pengarang yang ekspresif, konservatif dan tradisional, tetapi juga terdapat perbedaan antara sikap dan nilai yang dimiliki pengarang golongan baru. Perbedaan ini menjadi tanda dan identitas antar tiap pengarang.

Kebebasan individu belum menjadi hak hidup orang Melayu dalam masyarakat feudal pada abad 19 hingga pertengahan abad 20, meskipun pengaruh budaya barat semakin kuat. Konsep kebebasan, kemerdekaan, radikalisme, individualisme, dan otonomi menjadi persoalan baru untuk sebagian pengarang. Hal ini tidak terjadi dengan orang Melayu yang mempunyai hubungan dengan pegawai penjajah Inggris atau pun Belanda.

Ketokohan Aisyah Sulaiman yang lahir dalam kondisi sosial tidak tentram membuat kegiatan mengarang menjadi medium untuk meluapkan emosi serta keinginannya. Dalam perspektif sejarah perkembangan kesusastraan Melayu di zaman peralihan abad 19 ke 20, Aisyah Sulaiman telah menjembatani dua zaman, yakni mewarisi kepengarangan tradisional dan juga memperkenalkan kepengarangan modern. (*)


Tulisan ini pernah terbit di TPI Pos Minggu Pagi, 03 Maret 2019

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan