Kenapa Profesi Jurnalis Penting Bagi Kaum Perempuan

-

Opini: Edi Junaidi DS

(Jurnalis TIMES Indonesia)


Rentang pasca reformasi politik di negeri ini kran profesi sudah mulai diakses secara baik oleh sebagian kalangan perempuan. Namun tuntutan reformasi memang belum purna, pasalnya harus ada mode profesi yang berkesinambungan dengan peran strategis mengawal kepentimgan publik yang tercecer akibat banyaknya konsep ketidakadilan yang masih sering kaling mendiskreditkan perempuan. Kita ambil contoh dunia profesi jurnalisme, pekerjaan yang tidak hanya skill tetapi juga insting kemanusiaan. Profesi dianggap sebagai payung penyangga elemen penting dalam demokrasi yakni kebebasan berpendapat. Maka lumrah sekaligus menekankan betapa pentingnya perempuan masuk dalam profesi ini.

Kita tidak mesti berdebat bagaimana soal kontruk cara pandang perempuan yang melatarbelakangi dalam melihat potret masalah perempuan hari ini. Dalam artikel ini justeru mempersoalkan bahwa masalah pengawalan masalah publik kalangan perempuan sangat bergantung bagaimana media mengabarkan. Saat ini RUU PKS sudah mulai digulirkan kembali oleh Badan Legislatif di DPR RI dengan alasan mempertimbangkan masukan publik. Posisi juralis perempuan jelas sangat krusial agar sumbangsih pendapat publik bisa diluaskan dan ditegaskan kepada orang-orang di dalam parlemen. RUU PKS sangat urgen untuk kalangan perempuan mengingat kekerasan dan tindakan diskrimasi dalam publik masih menunjukkan tren yang selalu naik dari tahun ke tahun.

Lalu muncul pertanyaan besar mengapa perempuan mendominasi sekolah jurnalisme, tetapi ruang redaksi masih merupakan cerita yang berbeda. Apakah itu berarti bahwa perempuan keluar dari program jurnalisme ini dan pergi ke bidang lain, daripada memilih pekerjaan jurnalisme? Atau apakah itu berarti surat kabar terus mempekerjakan lebih banyak pria daripada wanita meskipun lebih banyak wanita yang tersedia? Padahal perempuan terdiri lebih dari dua pertiga lulusan dengan gelar di bidang jurnalisme atau komunikasi massa, namun industri media hanya sepertiga perempuan yang tertarik dalam dunia jurnalisme. Selain itu di seluruh dunia, perempuan jauh lebih kecil kemungkinannya dibandingkan laki-laki untuk terlihat di media. Sebagai subyek cerita, perempuan hanya muncul di seperempat televisi, radio, dan berita cetak. Dalam laporan tahun 2015, perempuan hanya terdiri dari 19% ahli yang ditampilkan dalam berita dan 37% reporter yang menceritakan kisah secara global. Sebagai ilmuwan perilaku yang mempelajari keterwakilan perempuan di tempat kerja, kita tahu bahwa gambaran masyarakat yang tidak seimbang gender ini dapat memperkuat dan melanggengkan stereotip gender yang berbahaya. Jelas bahwa media harus mengubah bagaimana ia mencerminkan dunia tetapi siapa yang dapat mengubah media itu sendiri?

Berita Terkait :  Belajar dari Desa Melawan Corona
Berita Terkait :  Meninjau Kembali Harga Vaksinasi Gotong royong

Sebagai contoh menarik di Amerika Serikan sejak tahun 1970-an, sebagian besar industri Amerika telah menunjukkan tren peningkatan dalam pekerjaan perempuan. Namun di bidang pekerjaan Jurnalisme justeru data presentasenyanya datar. Bahkan laporan Women’s Media Center di Amerika Serikat pria masih menerima 62 persen byline dan kredit lainnya di media cetak, online, TV, dan berita kawat dan memiliki 84 persen bahkan penghargaan bergengsi hadiah Pulitzer abad terakhir ini justeru masih dominan kaum lelaki.  Sebuah studi baru tentang posisi perempuan di industri media Inggris menunjukkan bahwa tiga perempat editor dan reporter yang bekerja di surat kabar nasional adalah laki-laki. Studi tersebut menemukan bahwa 33 persen editor adalah perempuan dan, mungkin yang lebih mengejutkan, hanya 30 persen reporter nasional adalah perempuan. Sebuah survei global yang diterbitkan tahun lalu menemukan bahwa 37 persen reporter di TV, radio dan media cetak adalah perempuan dan hanya 36 persen dalam kasus jurnalisme online. Jurnalisme bukan satu-satunya industri di mana perempuan menjadi minoritas di posisi senior

Peneliti media Anna Griffin menjelaskan dalam artikelnya September 2014 Nieman Reports “Where are the Women?” siklus laki-laki mempekerjakan laki-laki. Dia mencatat pria secara historis telah memegang peran sebagai editor dan cenderung mempromosikan pria lain. Ketika wanita gagal melihat peluang di tingkat yang lebih tinggi, mereka meninggalkan jurnalisme, membuat lebih sedikit wanita yang tersedia untuk promosi berikutnya.

Berita Terkait :  Pemprov Jatim Harus Evaluasi Rekrutmen Pengurus BUMD

Peluang Peran?

Posisi pekerjaan jurnalisme di negera-negara demokrasi sama pentingnya dengan pekerjaan membangun ekosistem hak-hak sipil. Sehingga ruang publik akan terasa terwakili jika pers dan jurnalisme diwakili oleh figure-figur yang tepat pula. Sangat berbeda memang jika dibandingkan dengan beberapa negara eks Uni Soviet seperti Bulgaria misalnya yang menganggap jurnalisme sebagai profesi biasa saja karena dianggap kurang serius pada persoalan masalah perempuan. Beratnya lagi, semua persoalan hak-hak perempuan di sana menjadi sulit dibagi dan diperjuangkan dan bebanpun akan semakin rumit. Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Berita Terkait :  Mujica; Sebuah Teladan Kepemimpinan | Opini: Fahmi Faqih

Dalam catatan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyebut, Indonesia belum mampu mewujudkan kesetaraan gender terutama dalam bidang pekerjaan jurnalistik. Berdasarkan data laporan AJI di Indonesia hanya ada 30 sampai 35 persen perempuan yang bekerja sebagai jurnalis secara profesional.Tahun 2012 silam, jumlah jurnalis perempuan yang merupakan anggota AJI sebanyak 347 orang. Sementara jumlah jurnalis laki-laki anggota AJI sebanyak 1521. Hanya sekitar 18,6% jurnalis perempuan dari total 1868 anggota AJI se-Indonesia tentu jumlah tersebut tentative bias naik atau turun. Secara umum, jurnalis perempuan yang bekerja di mediacetak tercatat dengan jumlah paling besar (41,80%) diikutijurnalis perempuan yang bekerja di media televisi (25,93%)kemudian jurnalis perempuan yang bekerja di radio (23,81%)dan terakhir jurnalis perempuan di media online (8,47%).Komposisi ini hampir serupa di semua kota yang menjadilokasi penelitian Data juga menunjukkan hanya sekitar 33% jurnalis perempuan yang masuk di organisasi wartawan. Dan hanya 6% jurnalis perempuan yang menduduki posisi sebagai redaktur maupun pengambil keputusan di redaksi.

Ada beberapa dimensi mengapa penting perempuan meramaikan profesi sebagai seorang Jurnalis; Pertama, keberadaan jurnalis perempuan dapat mengawal isu-isu keperempuanan yang masih tercecer dan masih kehilangan bentuk gerakan. Kedua, profesi jurnalisme bagi kalangan perempuan membukakan akses luas yang akan memperkaya insight seorang perempuan dalam berbagai aspek sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Ketiga, profesi ini memungkinkan perempuan terlibat dalam arus situasional masyarakat sehingga memberikan penguatan dimensi-dimensi sosial dalam dirinya yang pada akhirnya berguna dalam pada penguatan masyarakat di sekelilingnya.

Berita Terkait :  Mencermati Stereotip Wanita: antara Fiksi dan Aksi

Sekalipun juga penting memperhatikan masalah-masah internal kalangan perempuan seperti keputusan untuk merawat keluarga dan tekanan dalam sedikitnya pengalaman lapangan di mana dunia jurnalisme hampir lebih banyak dilakukan di sana. Saya kira cukup berasalan pada saat yang sama, ancaman terhadap jurnalis perempuan meningkat. Sebuah studi UNESCO terhadap 901 jurnalis dari 125 negara menunjukkan bahwa 73% mengalami pelecehan online. Dan dalam survei 2019 terhadap jurnalis perempuan dan gender non-conforming di Amerika Serikat dan Kanada, 70% mengalami ancaman dan 85% merasa mereka menjadi kurang aman dalam lima tahun terakhir.

Berita Terkait :  Sebaiknya para Gubernur Menaikan UM 2021

Tetap itu tak akan menjadi kekhawatiran untuk diratapi. Saat ini Platform digital tanpa hierarki dan budaya yang mapan seperti banyak ruang redaksi tradisional menawarkan fleksibilitas dan mobilitas bagi perempuan dan dan kalangan minoritas. Survei ASNE 2016 mendukung hal itu. Wanita di Amerika Serikat membentuk hampir 50 persen dari karyawan organisasi berita online saja. Bahkan persentase jurnalis wanita meningkat lebih dari dua kali lipat antara tahun 1900 dan 1971. Namun, setelah mencapai 37 persen pada tahun 1999, angka itu mendatar, menurut sebuah studi tahun 2009 oleh Scott Reinardy, seorang profesor di University of Kansas. Antara 1999 dan 2015, jurnalis perempuan tetap berada di antara 36,3 dan 37,7 persen dari total jurnalis, menurut Sensus 2015 ASNE.

Sebagai penutup, daya tawar perempuan dalam jurnalisme akan membangun ekosisitem yang baik bahkan dalam internail kantor media. Sebab dari awal perspektif padangan perempuan dan laki-laki memang khas. Selain itu sosok perempuan memang memiliki konsep manajerial yang baik hal ini akan menguntungkan perusahaan media jika menghendaki untuk memiliki tenaga kerja yang kompartibel dan bersaing dalam membangun perusahaan media.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU