Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Virus Corona Militer AS
Juru bicara kementerian luar negeri Zhao Lijian.

Kemenlu Cina Klaim Virus Corona Dibawa Militer AS ke Wuhan

Berita Baru, Internasional – Pada Jumat (13/3) pagi, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Zhao Lijian menulis cuitan di Twitter yang menuduh militer AS membawa virus Corona ke pusat kota Wuhan, tempat wabah dimulai.

Pada hari yang sama, Zhao mengajak lebih dari 287.000 pengikut Twitter-nya untuk membagikan secara luas dua cuitannya terkait tuduhan dari situs konspirasi yang berbasis di Kanada. Situs itu menyatakan bahwa virus Corona–yang yang telah menjadi bencana global–berasal dari AS, bukan dari pasar makanan laut Wuhan yang dianggap menjadi sumbernya.

“Ini sangat mencengangkan sehingga mengubah banyak hal yang dulu saya yakini,” cuit Zhao di akun Twitter resminya.

Seorang juru bicara Kedutaan Besar AS di Beijing menolak mengomentari cuitan Zhao tersebut.

Tuduhan itu tampaknya terkait dengan partisipasi Angkatan Darat AS dalam Permainan Dunia Militer internasional yang diadakan di Wuhan pada Oktober, dan melibatkan lebih dari 100 negara.

Tuduhan itu dianggap hanya penyulut isu dan tidak diverifikasi oleh Zhao. Cuitan itu kemudian menjadi subjek pembicaraan yang ramai dibicarakan akun Twitter lainnya secara internasional.

“Kapan virus Corona ada di AS? Berapa banyak orang yang terinfeksi? Apa nama rumah sakitnya? Mungkin Angkatan Darat AS yang membawa epidemi ke Wuhan,” tulis Zhao di Twitter pada hari Kamis.

Ia menambahkan, “Bersikaplah transparan! Publikasikan data Anda! KAMI butuh penjelasan!,” pinta Zhao, yang juga pernah dipromosikan menjadi Wakil Direktur Jenderal Departemen Informasi Kementerian Luar Negeri pada bulan Februari lalu.

Hingga Jumat siang, topik atau tagar “Zhao Lijian menulis lima cuitan berturut-turut yang menanyai AS” telah dibaca lebih dari 4,7 juta kali di Weibo, Twitter Cina. Cuitan itu banyak yang berkomentar memuji retorikanya.

Pemerintahan Cina dalam beberapa hari terakhir semakin mengkritisi gagasan bahwa virus Corona atau COVID-19 pertama kali berasal dari China pada bulan Desember. Virus ini telah menyebar ke lebih dari 100 negara, dengan lebih dari 130.000 kasus di seluruh dunia dan lebih dari 4.900 kematian.

Rumor bahwa virus Corona mungkin telah direkayasa di laboratorium kimia sebagai bio-weapon atau senjata biologis telah secara luas diberhentikan oleh para ilmuwan. Para ilmuan menunjukkan bahwa susunan genetik virus Corona tidak mendukung klaim semacam itu.

Pemerintah AS sendiri telah berjuang untuk memperlambat penyebaran virus di Amerika Serikat. Tidak hanya itu, para pejabat senior AS termasuk Presiden Donald Trump telah berusaha menggambarkannya sebagai “virus asing.”

Selain Donald Trum, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan para pemimpin Republik juga memberi julukan virus itu dengan sebutan yang menohok, “virus Wuhan” atau “Virus Corona Cina.”

Zhao pekan lalu mengatakan kepada wartawan pada sebuah pertemuan bahwa “belum ada kesimpulan tentang asal usul virus,” dan bahwa ada “motif tersembunyi” dalam pelabelan itu berasal di Cina.

Dia mengutip pernyataan Zhong Nanshan, pakar pernapasan Tiongkok terkemuka yang telah menjadi suara resmi tentang wabah itu, bahwa virus korona mungkin bukan berasal dari Cina.

Pompeo berpendapat minggu lalu bahwa Pemerintah AS memiliki “kepercayaan yang cukup tinggi bahwa pihaknya tahu di mana wabah ini dimulai.” Ia mengatakan: “Tidak kurang otoritas dari Partai Komunis Tiongkok mengatakan [virus korona] itu berasal dari Wuhan, jadi jangan mengambil kata-kata Mike Pompeo untuk itu.”

Di tengah persaingan strategis yang sudah tegang antara negara-negara besar, Pemerintah Cina dan media yang didukung negara Cina telah semakin berani dalam memberikan kritik mereka terhadap AS.

Pada awalnya, Pemerintah AS tidak cukup mendukung upaya Cina untuk memerangi virus, kemudian untuk “menstigmatisasi” wabah berasal dari Cina, dan sekarang karena langkah mereka yang salah dalam menangani epidemi di AS.

Zhao sendiri telah menarik perhatian sebagai salah satu diplomat Cina paling awal yang merangkul Twitter. Ia menggunakan retorika panas yang banyak disukai pengguna Twitter seperi gaya cuitan Trump.

Zhao sempat menghabiskan empat tahun sebagai yang kedua di kedutaan besar China di Islamabad hingga Agustus.

Lalu Zhao menjadi pusat kontroversi di masa lalu. Susan Rice selaku Mantan penasihat keamanan nasional AS menggambarkan kontroversinya tersebut sebagai “aib rasis” dan “sangat tidak tahu apa-apa” untuk memberi komentar tentang kategori rasial di AS.

Para pengamat terkenal Tiongkok termasuk Bill Bishop, editor buletin Sinocism, dan James Palmer, editor senior Kebijakan Luar Negeri, mengatakan mereka diblokir oleh Zhao di Twitter setelah mengkritik cuitan terbarunya tentang virus korona.

Perihal tentang pemblokiran bebera akun Twitter terkenal dari Cina, termasuk Bonnie Glaser seorang pengamat Cina dari Pusat Studi Strategis dan Internasional, Zhao mengatakan: “Jika Anda tidak menyukai komentar seseorang, Anda memiliki hak untuk memblokirnya.”


SumberSCMP