Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Putin
Presiden Rusia Vladimir Putin. (Foto: Sputnik).

Kekuasaan Putin Diusik Corona

Berita Baru, Internasional – Pemerintah Rusia telah melaporkan hampir 58.000 kasus corona virus disease 2019 atau COVID-19, dengan 513 kematian.

Situasi tersebut mempengaruhi tingkat kepercayaan publik terhadap Presiden Vladimir Putin yang lebih memilih bekerja dari kediaman resmi di luar Moskow, di mana ia mengadakan pertemuan melalui konferensi video.

Lembaga survei Levada mengungkapkan bahaw tingkap kepercayaan publik saat ini tinggal 63%, atau berada pada level terendah sejak 2013.

Covid-19 telah memicu timbulnya keresahan sosial, sebagaimana ditunjukkan dengan sebuah unjuk rasa anti-lockdown di Rusia selatan pada hari Senin (20/4), yang diikuti dengan protes secara online. Selain itu juga terjadi peningkatan keluhan oleh bisnis kecil bahwa pihak berwenang tidak membantu mereka keluar dari krisis.

Laporan Reuters yang disunting oleh Timothy Heritage pada Rabu (22/4) waktu setempat menjelaskan bahwa Putin memiliki media milik negara, polisi terlatih dan pengadilan untuk meredam protes, sebagaimana yang pernah ia lakukan pada periode 2011-2012 silam.

Pemerintah juga dilaporkan masih memiliki cadangan lebih dari 550 miliar dolar AS sebagai cadangan internasional. Kementerian Keuangan mengatakan, bahwa Rusia dapat mengatasi konsekwensi anjloknya harga minyak untuk jangka waktu lama.

Meskipun begitu, kubu oposisi menilai gejolak ekonomi dan ketidakpuasan atas penanganan krisis coronavirus bisa memanas.

“Tindakan represif oleh pasukan pengawal nasional tidak akan mampu berbuat banyak menghadapi ketidakpuasan rakyat yang asli”. Tutur politisi oposisi Vladimir Milov, dengan mengatakan situasi revolusioner sedang berkembang.

Akan tetapi ada juga yang masih mendukung Putin agar tidak tersandung gelombang ketidakpuasan publik, salah satunya adalah Prof Medvedev.

“Kerusuhan akan membuat orang mungkin lebih menderita. Tetapi hal-hal seperti itu tidak akan segera membawa perubahan dalam sistem politik”. Kata Profesor Medvedev.