Kebijakan Migran, AS Kirim Ribuan Orang Kembali Ke Meksiko

(Foto : Gatra.com)

Berita Baru, Internasional – Sejak Januari, pemerintah AS telah memerintahkan 16.000 migran di bawah usia 18 tahun, termasuk hampir 500 bayi, untuk menunggu bersama keluarga mereka di Meksiko dalam rangka pemeriksaan pengadilan imigrasi AS, penemuan atas analisis Reuters pada data pemerintah.

Di sepanjang perbatasan AS-Meksiko, bayi dan balita tinggal di kota-kota dengan tingkat kejahatan cukup tinggi, seperti di tempat penampungan, di tenda yang ramai atau di jalan-jalan selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan untuk mendapatkan pendengaran suaka dari AS.

Risiko kekerasan dan penyakit semakin tinggi dan menjadi perhatian khusus bagi para keluarga dengan anak kecil atau mereka yang memiliki kondisi kesehatan kronis, menurut wawancara dengan profesional kesehatan, migran, pekerja bantuan dan advokat.

Anak-anak, yang jumlahnya belum dilaporkan sebelumnya, adalah bagian di antara puluhan ribu migran yang kembali ke Meksiko di bawah kebijakan administrasi Trump yang dikenal sebagai Protokol Perlindungan Migran (MPP). Sebagian besar dari Guatemala, Honduras atau El Salvador.

Namun demikian, pejabat imigrasi AS tidak memberi tanggapan apapun atas temuan data dari Reuters.

Menurut departemen keamanan dalam negeri, keputusan tentang ditempatkannya para migran di MPP dibuat oleh agen perbatasan berdasarkan kasus per kasus dan termasuk konsultasi dengan profesional medis. Anak di bawah umur yang tidak didampingi tidak boleh dikirim kembali ke Meksiko, sesuai dengan pedoman program, tetapi anak-anak dapat dikirim kembali bersama orang tua mereka.

Administrator Trump mengatakan, mereka melakukan segala yang memungkinkan untuk mencegah para keluarga migran dari melakukan perjalanan berbahaya ke Amerika Serikat, karena seringkali para penyelundup justru mengatakan untuk tidak perlu mengkhawatirkan anak-anak.

Sekitar sepertiga dari hampir 50.000 migran dalam program MPP pada 3 Oktober adalah anak-anak di bawah 18 tahun, menurut data terbaru yang tersedia dari Kantor Eksekutif untuk Tinjauan Imigrasi (EOIR) yang mengawasi pengadilan imigrasi AS. Dari jumlah tersebut, Reuters menemukan sekitar 4.300 di bawah 5 tahun dan 481 di bawah 1 tahun.

Berita Terkait :  Dituduh ‘Manipulator Mata Uang’ oleh AS, China Menolak

Blanca Aguilar, seorang ibu berusia 27 tahun dari Guatemala, tinggal di perkemahan sementara dengan sekitar 40 tenda kecil yang berjejalan untuk tinggal bersama di belakang sebuah gereja di luar Tijuana, seberang perbatasan dari San Diego. Anak-anak terbatuk dan menangis sepanjang malam, kata para ibu kepada Reuters dalam kunjungan yang dilakukan baru-baru ini.

Ketika seseorang jatuh sakit, maka semua akan mengalaminya, kata Aguilar. Putranya yang berusia dua tahun, Adrian, mengalami batuk berulang karena mengi, dan juga diare, sejak mereka tiba di bulan Agustus.

“Dia sering sakit,” katanya, sambil menambahkan bahwa dia mencurigai dia menderita asma.

Seorang ibu lainnya di tempat penampungan yang sama, Marla Suniga yang berusia 34 tahun dari Honduras, mengatakan putrinya yang berusia 1 tahun, Montserrat, baru-baru ini mengalami kejang karena demam tinggi dan dehidrasi berat dibawa ke rumah sakit. “Dia tidak bisa bernapas,” ucapnya.

Suniga mengatakan dia melarikan diri dari kekerasan di negara asalnya, tetapi berencana untuk kembali ke sana karena dia khawatir akan nyawa putrinya di Tijuana.

DHS mengatakan tidak dapat mengomentari kasus-kasus individual. Pejabat Meksiko tidak menanggapi permintaan komentar tentang kondisi di tempat penampungan migran.

Reuters tidak dapat membenarkan diagnosis anak-anak Suniga dan Aguilar. Namun, para dokter dan perawat yang mengunjungi tempat penampungan dan kamp-kamp di kota-kota perbatasan Meksiko tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa mereka telah melihat adanya penyakit cacar air, kudis, infeksi pernafasan, ruam kulit, infeksi mata, dan masalah pencernaan di antara anak-anak dan orang dewasa.

Berita Terkait :  Luhut: Anggota Kongres AS Apresiasi Pertembuhan Ekonomi Indonesia

Anak-anak di bawah usia 5 tahun dan terutama di bawah usia 2 tahun, beresiko tinggi mengalami komplikasi flu yang serius, menurut Pusat Pengendalian Penyakit AS.

Para dokter dan perawat Amerika yang menjadi sukarelawan di Tijuana yang tergabung bersama Aliansi Kesehatan Pengungsi berharap untuk dapat memberikan suntikan flu di beberapa tempat penampungan di sana, tetapi upaya ini sulit untuk dilakukan, kata koordinator Phil Canete. Vaksin perlu disimpan dalam kondisi dingin dan teratur, dan pemerintah Meksiko mewajibkan dokter berlisensi di Meksiko untuk mengawasi upaya tersebut, serta menandatangani persetujuan untuk setiap pasien, katanya.

Pemerintah AS telah mengatakan dalam dokumen pedoman bahwa para migran dengan masalah kesehatan fisik atau mental yang diketahui bukan kandidat untuk program MPP. Namun demikian, para advokat tidak jelas mengatakan apa saja yang memenuhi syarat sebagai pembebasan medis dari MPP.

Jennifer Jimenez, seorang Salvador berusia 30 tahun, mengatakan bahwa dia tiba di perbatasan pada bulan Juli dengan anak kembarnya yang berusia 11 tahun dan putranya yang berusia delapan bulan, Yakub, yang dilahirkan dengan paru-paru yang belum berkembang sepenuhnya.

Meskipun dia menjelaskan kondisi Jacob kepada agen perbatasan, dia menyebut para agen mengirim dia dan anak-anaknya kembali ke Ciudad Juarez, di mana keluarga akhirnya tidur di lantai, sebuah tempat penampungan yang ramai.

Reuters menemukan bahwa 1% migran yang ditugaskan ke MPP sejauh ini telah dipindahkan dari program.

Pemerintah AS telah menandatangani serangkaian perjanjian bilateral dengan pemerintah Honduras, Guatemala dan El Salvador untuk mendorong lebih banyak orang mencari suaka lebih dekat ke rumah. Pada bulan Mei, hampir 85.000 unit keluarga (orang tua dengan anak-anak) ditangkap di perbatasan AS-Meksiko, merupakan sebuah rekor. Pada bulan Agustus, jumlah keluarga yang ditangkap turun menjadi 70% setelah pemerintah meningkatkan MPP dan langkah-langkah lain untuk mencegah migrasi.

Berita Terkait :  Unjuk Gigi, OPEC Akan Tahan Penurunan Harga Minyak

Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa hukum suaka AS yang lemah mendorong orang untuk muncul di perbatasan dengan anak-anak mereka. Sebelum MPP, adalah praktik umum untuk melepaskan keluarga yang datang ke Amerika Serikat untuk menunggu sidang pengadilan AS,  sesuatu yang Trump dan lainnya katakan memungkinkan banyak migran untuk menghilang ke negara itu untuk hidup secara ilegal.

Kelompok advokasi imigran mengatakan sebagian besar imigran yang dibebaskan muncul untuk sidang pengadilan mereka. Beberapa menuntut untuk menghentikan kebijakan MPP, dan pengadilan banding federal akan segera memutuskan kasus ini.

Menurut analisis Reuters, ribuan anak sedang menunggu sidang pengadilan di kota-kota perbatasan di mana risiko penculikan, pemerkosaan, dan penyerangan sangat tinggi.

Sekitar 5.600 anak-anak dalam program MPP membawa kasus-kasus mereka ke pengadilan imigrasi di San Diego, utara Tijuana. Sebagian besar yang lain ditugaskan ke pengadilan Texas: 6.800 ke San Antonio dan El Paso dan 3.400 ke Brownsville.

Jimenez, ibu Salvador, mengatakan bahwa ketika dia mendengar keluarganya dikirim dari El Paso ke Ciudad Juarez, sebuah kota yang dikenal dengan tingkat pembunuhannya yang tinggi, “mereka seperti melempar seember air dingin ke saya. Mexico bukan tempat yang saya percayai untuk pergi sendirian dengan ketiga anak saya. “

Warga Florida, Helen Perry, seorang perawat di Cadangan Angkatan Darat (AD) AS yang bergabung dengan kelompok bantuan sukarela menuju ke Matamoros pada akhir pekan Hari Buruh, ia mengatakan kepada Reuters bahwa dia melihat keluarga yang berkemah di tenda-tenda sumbangan, masing-masing dengan antara 5 hingga 10 orang yang tidur di dalamnya.

Satu keluarga, dengan empat anak kecil, meringkuk di bawah pohon, katanya. Orang-orang tidak memiliki akses air bersih dan toilet yang layak, sehingga harus mandi di sungai Rio Grande, katanya.

Satu bayi yang diperiksa Perry menderita infeksi mata kronis dan mulai mengalami jaringan parut yang mengancam penglihatannya. Perry juga mengatakan dia melihat ibu menyusui yang mengalami dehidrasi sehingga mereka tidak bisa menyusui bayi mereka dan orang tua yang mengunyah pizza supaya menjadi bubur untuk memberi makan bayi mereka. Beberapa anak menunjukkan tanda-tanda awal kekurangan gizi, katanya.

“Sebenarnya tidak ada apa-apa bagi mereka di sana,” tutup Perry.

Sumber : Reuters

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan