Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

katastrofi
Ilustrasi: Langgar.co

Katastrofi, Tragedi Kosmis-Ekologis, dan Patahan Sejarah Kebudayaan

Katastrofi, Tragedi Kosmis-Ekologis, dan Patahan Sejarah Kebudayaan

Djoko Suryono

Penyair dan Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang


Langgar.co – Secara harfiah dan umum istilah katastrof(i/a) [catastrophe] bermakna bencana atau puncak malapetaka yang secara niscaya mengakibatkan atau menyebabkan pelbagai keguncangan mahadahsyat terhadap tata atau keteraturan (great disruption of order). Bahkan menimbulkan keterputusan (discontinuity), yang di dalamnya terkandung rangkaian krisis yang mulai terpetakan dan didapatkan jalan keluarnya.

Sebelum digunakan di pelbagai bidang seperti sekarang, setahu saya, istilah katastrofi tersebut sudah dipakai oleh Aristoteles dalam buku Poetics yang terbit Abad III Sebelum Masehi. Dalam Poetics, sebermula istilah katastrofi digunakan untuk menyebut tahapan alur cerita drama tragedi Yunani setelah klimaks atau puncak konflik pada satu pihak dan pada pihak lain sebagai tanda berakhirnya cerita.

Dalam drama tragedi Yunani, katastrof ditandai oleh ditemukannya jalan penyelesaian (resolusi) atas klimaks atau puncak konflik pada satu sisi dan pada sisi lain lazimnya ditandai oleh matinya tokoh utama secara tragis dan atau traumatis sebagai bagian akhir cerita (yang merupakan puncak bencana dalam drama tragedi). Inilah yang disebut katastrofi atau denouement dalam struktur dramatik tragedi Yunani.

Dalam drama tragedi Yunani, katastrof ditandai oleh ditemukannya jalan penyelesaian (resolusi) atas klimaks atau puncak konflik pada satu sisi dan pada sisi lain lazimnya ditandai oleh matinya tokoh utama secara tragis…

Lihat saja lakon-lakon Sophocles, sang maestro drama-drama tragedi Yunani, semisal Oedipus Sang Raja, Oedipus di Colonus, dan Oedipus Berpulang, bahkan juga Antigone dan Electra. Betapa tragis dan traumatisnya kematian sang tokoh utama Oedipus, bahkan jalan hidup Oedipus. Di samping itu, juga tokoh-tokoh lain terutama ratu Jocasta, Antigone, dan Eelectra. Struktur dramatik pentalogi tragedi masyhur tersebut sungguh-sungguh menyuguhkan rangkaian bencana dahsyat, mencekam, menegangkan, meremukkan, dan tragis yang harus dijalani dan dialami oleh Oedipus (selain Jocasta, Antigone, dan Electra, bahkan warga kerajaan Thebes).

Ujungnya, kematian Oedipus yang teramat menyesakkan dada dan traumatis. Jalan dan ujung kematian yang sungguh tak tertanggungkan. Namun, seiring dengan itu, kehidupan warga Thebes mengalami katarsis, yaitu sebuah pencucian diri yang membuahkan pembaharuan ruhaniah dan pelepasan diri dari ketegangan tak tertanggungkan. Inilah intisari siklus katastrofi dalam lakon Sophocles.