Kasus Kematian Covid di Brasil Meningkat, Kritikus Sebut Kebijakan Bolsanoro Sama dengan Genosida

-

Berita Baru, Internasional – Ruseff, mantan Presiden Brasil mengatakan kepada Guardian bahwa negaranya tengah menghadapi bencana paling parah dalam sejarahnya. Hal tersebut dilontarkan saat jumlah kematian akibat virus Corona meningkat tajam, dengan jumlah kasus kematian mencapai 12.000 jiwa dalam tiga hari terakhir.

“Kami hidup dengan situasi yang sangat dramatis di Brasil karena kami tidak memiliki pemerintahan, tidak ada pengawasan krisis,” kata Rousseff, mantan gerilyawan kiri yang menjadi presiden selama lebih dari lima tahun hingga pemakzulannya yang kontroversial tahun 2016.

“Kami melihat 4.200 kematian per hari sekarang dan menunjukkan bahwa jika tidak ada perubahan, angka itu bisa saja mencapai 5.000. Namun ada normalisasi yang benar-benar menjijikkan dari kenyataan ini yang sedang berlangsung. Bagaimana Anda bisa menormalkan 4.211 kematian yang terdaftar (pada hari Selasa)?” ungkap Rousseff.

Rouseff percaya bahwa kesalahan terletak pada Bolsonaro, Presiden Brasil yang sekarang. Ia populer dengan tanggapannya terhadap pandemi yang terkesan sangat menyepelekan, menyebutnya dengan “flu kecil,” yang kemudian dikecam oleh global. Jajak pendapat dan protes telah menunjukkan kemarahan publik yang meningkat padanya.

Rousseff mengklaim sabotase Bolsonaro terhadap upaya penahanan dan vaksinasi, penolakan untuk penguncian wilayah (lockdown), dan kegagalan untuk menawarkan dukungan ekonomi yang memadai kepada orang miskin telah berkontribusi pada “proporsi bencana”.

“Saya tidak mengatakan Brasil tidak akan menderita kematian (dengan respons yang berbeda) – semua negara terpukul,” katanya. “Saya katakan bahwa bagian dari tingkat kematian di sini pada dasarnya adalah keputusan politik yang salah, yang masih diambil.”

Kerusakan Brasil juga merupakan ancaman internasional. “Tidak adanya upaya efektif melawan pandemi di Brasil mengarah pada sesuatu yang sangat serius: munculnya varian virus baru, yang sangat menular dan telah meningkatkan jumlah kematian di negara-negara tetangga,” kata Rousseff, menunjuk tentang bagaimana tetangga Amerika Selatan menutup perbatasan mereka karena takut akan varian P1 yang lebih menular.

Banyak kritikus menyebut tindakan Bolsonaro sama dengan “genosida” – dan Rousseff mengatakan dia termasuk di antara mereka.

“Saya mengafirmasi sebutan kata itu. Yang menjadi ciri tindakan genosida adalah ketika Anda memainkan peran yang disengaja dalam kematian populasi dalam skala besar.”

“Bukan kata genosida yang menarik minat saya – itu konsepnya. Dan konsepnya begini: tanggung jawab atas kematian yang sebenarnya bisa dihindari.”

Pada hari Kamis, mahkamah agung Brasil memerintahkan penyelidikan kongres atas kebijakan pemerintah – sebuah langkah mengejutkan yang oleh para ahli disebut pukulan besar bagi Bolsonaro.

Bencana Brasil – yang menggunakan turbo oleh varian P1 – diperkirakan akan semakin dalam dalam beberapa hari mendatang. Lebih dari 66.000 nyawa orang Brasil hilang karena Covid pada bulan Maret. Korban tewas April diperkirakan melebihi 100.000. Pada hari Jumat, penasihat senior Organisasi Kesehatan Dunia Bruce Aylward menyebut wabah itu “neraka yang mengamuk”.

“Ini putus asa. Sejujurnya, saya tidak bisa tidur nyenyak. Saya pergi tidur dengan angka-angka dan simulasi di kepala saya dan saya tidak bisa berpikir jernih,” kata Miguel Nicolelis, seorang ilmuwan terkemuka tentang wabah.

“AS mencatat satu hari dengan lebih dari 5.000 kematian dan kami akan menyalip AS – dalam jumlah kematian harian dan mungkin dalam jumlah total kematian juga,” prediksi Nicolelis.

“Kami akan mulai melihat mayat menumpuk di klinik kesehatan kami dan orang-orang sekarat di jalanan segera di kota terbesar di Brasil,” katanya tentang São Paulo, menyerukan penguncian nasional selama satu bulan dan penutupan jalan, bandara dan sungai.

Rousseff juga mendesak penutupan segera, meskipun Bolsonaro telah berulang kali menolak gagasan itu. Penolakan tersebut didasarkan pada kekhawatiran lumpuhnya ekonomi dan harapannya untuk terpilih kembali pada tahun 2022. “Tidak akan ada penguncian nasional,” tegas Bolsonaro selama perjalanan ke Brasil selatan minggu ini.

 “Saya telah disebut sebagai homofobik, rasis, fasis, penyiksa… Sekarang saya genosida,” dia menyeringai. “Adakah yang tidak bisa saya salahkan di Brasil?” katanya pada hari Selasa.

Rousseff setuju Bolsonaro bukan satu-satunya penyebab bencana Covid yang mengguncang negaranya, dan dunia. Dia juga menyalahkan elit ekonomi, kepala militer, tokoh media, dan politisi yang membantu ekstremis sayap kanan memenangkan kekuasaan dengan mendukung pencopotannya dari jabatannya dan kemudian mendukung kejatuhan Lula dan kebangkitan Bolsonaro. Para pemimpin dunia termasuk Donald Trump juga menangani pandemi dengan bencana.

 “Orang-orang harus bertanggung jawab atas bencana yang telah direkayasa di Brasil,” kata Rousseff.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments