Kashmir Memanas, Pengunjuk Rasa Bentrok dangan Aparat Keamanan

Kashmir
(Gambar: @MRKHANho1)

Berita Baru, Internasional – Pasukan pengelola keamanan di Kashmir bentrok dengan pengunjuk rasa di kota Srinagar, Jumat, (23/8). Ratusan massa melakukan demonstransi tepat setelah shalat Jumat di lingkungan Soura, tempat yang menjadi pusat perlawanan terhadap pencabutan otonomi Kashmir.

Pawai yang pada awalnya tertib berubah menjadi aksi kekerasan ketika pengunjuk rasa melemparkan batu ke pasukan keamanan, yang kemudian dibalas dengan gas air mata dan pelet.

Ketegangan terjadi sejak pemerintah India mencabut otonomi sebagian wilayah itu tiga minggu lalu, tepatnya pada 5 Agustus 2019. Akses informasi sangan terbatas, karena jaringan internet dan seluler sebagian di blokir.

Koresponden BBC, Aamir Peerzada, yang berada di tempat kejadian mengatakan seorang pria terlihat berdarah di matanya dan seorang lainnya menderita cedera leher.

Hingga kini, belum diketahui secara pasti berapa jumlah korban luka-luka. Bahkan sebuah laporan mengatakan banyak massa aksi yang terluka karea pelet. Mereka juga tidak pergi ke rumah sakit karena takut ditangkap.

Sejak pemerintah di Delhi menghapus status khusus kawasan itu pada 5 Agustus, lingkungan Soura dengan cepat menjadi pusat perlawanan terhadap penghapusan status khusus wilayah yang dikuasai India di Delhi.

Berita Terkait :  Di Medan Perang atau Meja Perundingan, Turki Siap Berikan Solidaritas Penuh untuk Azerbaijan

Sementara itu, kashmir sendiri adalah wilayah Himalaya yang menurut India dan Pakistan sepenuhnya milik mereka. Sedang sisi yang dikuasai India – negara bagian Jammu dan Kashmir–adalah satu-satunya negara mayoritas Muslim di negara itu, dan sampai saat ini memiliki otonomi parsial berdasarkan Pasal 370 konstitusi India.

Pemerintah juga mengatakan akan memecah negara menjadi dua wilayah yang lebih kecil, yang dikelola pemerintah federal. Satu wilayah akan menggabungkan Kashmir yang mayoritas Muslim dan Jammu yang mayoritas Hindu. Yang lainnya adalah Ladakh yang mayoritas beragama Buddha, yang secara budaya dan historis dekat dengan Tibet.

Sumber: BBC
- Advertisement -

Tinggalkan Balasan