Kanada Berada Dalam Situasi Dilematis Di Tengah Tekanan China dan AS

Kanada Berada Dalam Situasi Dilematis Di Tengah Tekanan China dan AS. Foto: AFP

Berita Baru, Internasional – Optical Valley Institute for Free Trade mengadakan webinar Forum Ekonomi Kanada-China yang membahas peran kedua negara dalam ekonomi dunia yang dinamis di tengah ketegangan yang semakin memuncak, menurut SCMP, Sabtu (1/8).

Webinar itu diadakan dalam rangka memperingati 50 tahun hubungan diplomatik antara China dan Kanada pada bulan Oktober. 

Dalam webinar itu, para pengamat mengatakan Ottawa sedang berada dalam situasi yang dilematis di tengah tekanan dua negara besar yang saling bersitegang dan bersaing sengit, yaitu AS dan Kanda. 

“Kanada benar-benar membutuhkan strategi besar dengan China. Mengingat lingkungan saat ini, lebih penting daripada sebelumnya bahwa kami memikirkannya,” kata Eugene Beaulieu, profesor ekonomi di University of Calgary.

Paul Evans, seorang profesor dari Universitas British Columbia, mengatakan Kanada berada dalam dilema: di satu sisi, Kanada mendapat tekanan langsung dari AS, di sisi lain, Kanada juga menghadapi ancaman ‘parah dan kredibel’ dari China.

“Lima tahun lalu, ketika kami merayakan peringatan ke-45 hubungan bilateral di sebuah acara besar di Vancouver, hi-tech adalah sektor yang sangat menjanjikan. Suasana sekarang, lima tahun kemudian, sangat berbeda. Ini bukan tentang apa yang bisa kita lakukan, tetapi apa yang tidak bisa kita lakukan bersama,” kata profesor Evans.

Berita Terkait :  Upaya Rekonsiliasi Perang Perdagangan China-Amerika

“Ada lebih banyak kecemasan tentang China yang lebih tegas dan kuat di Kanada. Ada kesedihan tentang agenda dan pandangan pendekatan administrasi ‘America First’ dari pemerintahan Trump,” imbuhnya.

Selain itu, Evans juga menekankan bahwa konflik Kanada dengan Huawei bukanlah akhir dari pertempuran, melainkan tahap pertama dari apa yang bisa menjadi kompetisi tekno-nasionalisme penuh. 

Dia juga mencatat ketidakpastian sejumlah faktor yang belum terjadi sebelum gambaran yang jelas muncul tentang hubungan masa depan antara ketiga negara: Kanada, AS, dan  China.

“Haruskah kita menahan napas selama 100 hari sampai pemilihan [presiden AS]? Akankah konsensus anti-China, anti-keterlibatan berlanjut ke administrasi [AS] yang baru? Haruskah kita melihat tekno-nasionalisme telah mencapai puncaknya atau benar-benar hanya tahap pertama?” tanya professor Evans.

Sementara itu, Daniel Shapiro, profesor strategi bisnis global di Universitas Simon Fraser, mengatakan Kanada berada dalam ‘posisi yang sangat canggung’ karena harus bergantung pada seberapa banyak tekanan yang diberikan oleh AS dalam hal masalah keamanan nasional.

Berita Terkait :  Mantan CEO Google: Sangat Mungkin Huawei Merupakan Intelijen China

Partai-partai oposisi Kanada dan mantan pejabat telah meminta Perdana Menteri Justin Trudeau untuk memblokir usulan pengambilalihan TMAC Resources, penambang emas di wilayah Arktik Kanada, oleh Shandong Gold Mining, sebuah perusahaan milik negara China, karena alasan kepentingan nasional dan strategi.

Anjloknya Hubungan China dan Kanada

Hubungan antara Ottawa dan Beijing anjlok secara dramatis sejak Desember 2018 ketika Kanada menangkap Sabrina Meng Wanzhou selaku kepala kuangan raksasa teknologi China Huawei Technologies beserta anaknya, Ran Zhengfei, di bandara Vancouver, atas permintaan ekstradisi dari AS.

Dalam situasi itu, Ottawa terjebak di tengah-tengah tarik ulur perang yang semakin sengit antara Beijing dan Washington.

China kemudian menuduh Kanada berperan sebagai kaki-tangan AS. Dan sebagai balasan, China menangkap warga Kanada Michael Spavor dan Michael Kovrig atas tuduhan spionase yang belum diselesaikan. 

Selain itu, Kanada juga berada di bawah tekanan AS untuk memblokir Huawei dalam jaringan 5G di negaranya, karena Kanada adalah salah satu anggota dari aliansi intelijen “Five Eyes”, seperti yang dilakukan AS pada Inggris.

Berita Terkait :  Hindari Ketergantungan Ekonomi terhadap China, AS Siap Bantu Inggris Bangun Jaringan 5G

AS juga menyerukan sekutu internasionalnya untuk ‘bermain keras’ dengan China, termasuk membatasi pertukaran pelajar, kerja sama teknologi, dan tindakan pembatasan-pembatasan lainnya.

Pada tahun lalu, China juga memblokir impor kanola dan daging dari Kanada. Hal itu meningkatkan kekhawatiran bahwa komoditas atau industri lain juga bisa menjadi target dan mengarah pada meningkatnya ketidakpastian dalam bisnis.

Selain tekanan dari AS, Kanada juga mendapatkan tekanan dari North American Free Trade Agreement (NAFTA) karena perjanjian dan kententuan barunya, di mana anggota wajib untuk saling memberikan pemberitahuan enam bulan sebelum melakukan hubungan bisnis dengan non-anggota.

Para pengamat mengatakan perubahan ketentuan itu dimaksudkan kepada China.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan