Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

kalahira | Puisi-Puisi Halim Bahriz
Ilustrasi: Susantrudinger

kalahira | Puisi-Puisi Halim Bahriz

kalahira

ia — yang tak diserap akar pagi
bambu dan lumut-lumut bebatuan
tak dirapal zikir keladi, tak terisap
pipa PDAM, tak dipetik ikan-ikan
paruh cekakak atau lajang dusun
lidah katak atau kawanan ternak

yang tak dapat memulasi dahaga pulau
tak menjelma mimpi kepompong, kuncup
bunga-bunga, tak diucap getar sayap capung
pidato montong pisang atau renyai kunyahan
nektar di sarang lebah, tak tersentuh tangan
penanam benih doa di petak-petak ladang
pada lidah cangkul, kaki dan sepasang
telapak yang dilumuri lumpur

: akan sampai kepada ngaben laut

terik matahari akan menerbangkan roh
ke selayang rebah ambang, keluasan langit
yang merahimi janin-janin ada

huruf-huruf pun berjatuhan serupa
tangis kelahiran, kata yang kelak rekah
melalui ketakjuban seorang pembaca
yang setiap kali mendengar

iqra! iqra! iqra!

mengetuk-ngetuk jantungnya, denyutnya
bersimpuh dan paru-parunya menengadah
sebab terngiang-ngiang betapa indah

pengetahuan
jarak antara hidup dan kematian

interupsi hijau

namun tak seorang pun pernah melubangidaun-daunku, beginilah kami mencipta rautmenumbuh-genapi rupa takdir kami sendiri

bukan sundal! bukan janda bolong!
tidak kawin dan tidak diperkawinkan
tidak bercerai tak pula diperceraikan

daun kami yang berlubang adalah rekah
cinta yang tak terluka, tumbuh dalam utuh
meskipun tak dipasang-pasangkan

tanpa penghulu dan cemburu
perselingkuhan atau rasa bosan
selalu hijau, senantiasa hijau
hanya hijau!

maka berhentilah menyematkan nama
yang tak kau gunakan untuk memanggil
mencatat semacam alamat untuk mengingat
maka berhentilah mentertawai sesamamu
mengolok-olok nasib yang sama sekali
tidak lucu

orasi lidah menantu

di sebelah pot kosong, di atas setelentang
bekas baliho pilkada, dekat setumpuk oplosan
gembur tanah, humus kotoran sapi dan sekam
seikat lidah menantu menjulur-julurkan api

“selamatkan para mertua dari olok-olok!”

sembilan pandan albino, lima kenanga akhirat
empat anggrek gerhana, tujuh monstera kundang
khusuk menyimak; menyahut tiap kali ia berteriak
mencipta kewibawaan pose-pose tropis yang rentan
diselewengkan: tidak, tidak, mereka tidak sedang
merayu siapa-siapa — mereka kompak bersorak
seumpama kepalan tangan demonstran meninju
ketidakadilan dan kuasa-kuasa brengsek

“butakan mata uang! butakan mata uang!”

sementara lumut lembap-hijau pada batu
dan keladi liar tetaplah talas pinggiran kali
si lidah menantu menjelma kobar kemuning
menjilat-kilapi kalimat-kalimat protes

“turunkan kami dari pot! bebaskan kami
dari belenggu gerabah-gerabah plastik ini!”

ada yang tetap diam meski tak sepaham
yakni rumput-rumput soliter tak bernama
di sela-sela deret polybag — yang merasa
bahwa dirupiahkan adalah satu-satunya
jenis takdir yang dapat menjamin martabat
atau ajal yang bakal datang dalam segan

“beri kami cacing tanah, angin benua
dan cinta di luar angka, harga-harga!”

di atas setelentang bekas baliho pilkada
di hadapan pot berisi oplosan gembur tanah
humus kotoran sapi dan sekam, seseorang
terus menanam dan ia memang mendengar
namun bukan teriakan, bukan sorak-sorai
melainkan renyai desir calon pelanggan

kaktus kamar

ia sendiri dan berduri
kadang tampak berharap
kadang terlihat sekarat

ia sendiri dan berduri
kadang tampak menunggu
kadang seperti berpamit

ia sendiri dan berduri
yang hijaunya kian redam
meskipun masihlah jauh
dari jemputan ajal

ia sendiri dan berduri
di pot kering dalam kamar
tak terjangkau pelukan hujan

ia sendiri dan berdiri
tegar di luar layu di dalam
berduri di luar berair di dalam

pemandangan yang menyenangkan

aku senang memandangi laut yang luas
dan biru, meskipun itu bukanlah milikku

aku senang mengamati warna langit pagi
dan petang, meskipun aku tahu, komposisi
awan tak bermakna dan keberlangsungan
yang sebentar itu, akan berulang kembali

aku senang menyaksikan para buruh kasar
(atau pengasong terminal) bersenda canda
meski bagiku, apa-apa yang bikin mereka
terpingkal-pingkal, terdengar kurang lucu

aku senang menonton dua peternak uzur
jatuh kagum kepada sapi berbadan tambun
berburu ingatan, pula berlomba menyebut
nama-nama jauh — tempat di mana dulu
mereka menemukan rumput untuk pakan
meskipun dalam kisah terengah-engah itu
tidak tersedia hikmah yang sepoi-sepoi

aku senang mendapatimu sampai di sini
meski tak terbayang adakah pemandangan
yang kau ingat dan catat dalam kepalamu
seusai kau baca ujung bait yang kepadamu
berharap tak menjadi larik terakhir puisi ini


Halim Bahriz, tinggal di Lumajang, Jawa Timur. Dua naskah pertunjukannya mendapat Rawayan Awards (Dewan Kesenian Jakarta: 2017). Pemenang pertama sayembara penulisan The 4th Asean Literary Festival dan esai seni rupa Kemendikbud (2019). Mengikuti Residensi Penulis Indonesia (2018). Debut buku puisinya, Igauan Seismograf, masuk longlist Kusala Sastra Khatulistiwa 2019.