Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Kakao Lembah Grime Berkualitas Ekspor
Eksportir Kakao yang juga sebagai penggerak Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Makassar, Asdar Marzuki saat menjadi pemateri dalam Market Gathering bertajuk Membangun Kolaborasi Pasar UMKM bersama “ASMAT”, Selasa (24/8).

Kakao Lembah Grime Berkualitas Ekspor



Berita Baru, Jakarta – Kakao dari Lembah Grime, Kampung Imsar yang dimobilisasi melalui BUMKAM berhasil menjadi cokelat Cendrawasih , salah satu produk unggulan cokelat Papua. Produk lokal asli Papua tersebut memiliki keunikan dan keunggulan khusus sehingga mampu bersaing di pasar logistik dan juga pasar internasional.

Eksportir Kakao yang juga sebagai penggerak Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Makassar, Asdar Marzuki mengungkap bahwa pada awalnya pihaknya mendapat tawaran dari PUPUK Surabaya dan Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat Agribisnis (PPMA) sebuah komunitas dengan memerhatikan skil ekonominya.

Asdar mengatakan bahwa pada tahun 2005 hingga 2010 Papua sempat memproduksi Kakao cukup besar sekitar 9.000 ton per tahun namun setelah itu mengalami degradasi karena beberapa faktor, di antaranya cuaca dan hama.

“Setelah berdiskusi, akhirnya kami ada ide dengan teman-teman pendamping maupun teman-teman PtPPMA dan BUMKam untuk membuat produk berbasis cokelat. Sehingga dapat memberi nilai tambahan yang baik terhadap masyarakat, terutama sekitar hutan. Selain itu juga menjadi kebanggaan terhadap daerah, bahwa kita juga bisa memproduksi produk lokal dan unik,” tutur Asdar dalam Market Gathering: Membangun Kolaborasi Pasar UMKM bersama ASMAT, Selasa (24/8).

Diskusi daring tersebut merupakan serial diskusi penutup dari Festival Torang Pu Para Para yang menjadi bagian dari Program PAPeDA, diselenggarakan oleh Perkumpulan Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) dan didukung The Asia Foundation (TAF).

Menurut Asdar, pohon kakao yang mereka kembangkan tetap memperhatikan dan mempertimbangkan kelestarian. Pihaknya hanya mencoba mengambil nilai dari kakao yang tumbuh di sekitar hutan dengan tidak merusak alamnya.

“Lembah Grime sebagai wilayah yang dijaga kelestariannya oleh masyarakat adat, berhubungan tanah, kesuburan dan sebagainya. Sehingga kami coba, mungkin ada biji-bijian yang bisa kami coba kita olah dan lakukan reset. Ada sebuah upaya dari kami, mencoba melestarikan hutan adat tetapi dengan mencoba mengambil nilai dari pohon kakao yang ada,” tuturnya.

Setelah melakukan banyak percobaan dan diskusi, lanjutnya, didapatkanlah sebuah formulasi dengan memanfaatkan fasilitas yang ada  mulai dari proses panen dan pasca panen pohon kakao. “Teman-teman bungkam mencoba melakukan proses panen dan pasca panen, kemudian melakukan langkah pengolahan tahap kedua yaitu fermentasi,” ujarnya.

“Hasil dari sana  itulah yang coba kita produksi. Sehingga didapatkanlah produk yang tidak kalah dari tempat lain, bahkan ada dua hal yang menonjol mulai dari biji yang cukup besar dan menghasilkan lemak yang cukup besar, lebih banyak, kemudian hasil olahannya juga lebih bagus,” imbuhnya.

Menurutnya, selain menjaga gerakan menjaga lingkungan, keinginan masyarakat Papua untuk menciptakan produk lokal yang menjadi kebanggaan yang membuat pihaknya bersemangat mendukung pengolahan pohon kakao.

“Kebanggaan ini akan kita wujudkan dalam program, kebetulan Papua mendapat kesempatan untuk menjadi tuan rumah PON. Ini sebuah momentum yang baik dan pas untuk melakukan kampanye dan penetrasi pasar,” ungkapnya.

Dengan didukung beberapa aplikasi platform ASMAT, PUPUK Surabaya, dan teman-teman Makassar, tuturnya, pasar yang paling terbaik adalah pasar lokal. Lebih-lebih didukung dengan event PON XX dan beberapa perusahaan yang ada di Papua.

“Kami kampanye bahwa selain ingin berkontribusi menjaga hutan papua, kami juga membuat tag line, kalau ingin tahu rasanya cokelat Papua, ya rasanya adalah rasa sayang sayange,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya juga melakukan beberapa langkah untuk menjaga kualitas cokelat Papua sehingga mampu bersaing di pasar domestik dan pasar internasional. Salah satunya adalah mengidentifikasi jenis pohon kakao.

“Yang terbaik itu yang kami kembangkan dengan menyesuaikan kondisi lahannya,” tukas Asdar.