JIIPE Gresik Masih Jadi Target Lokasi Pembangunan Smelter Freeport

-

Berita Baru, Gresik – PT Freeport Indonesia nampaknya belum memastikan lokasi pembangunan Smelter di Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera, Maluku Utara. Artinya, hingga saat ini pembangunan pabrik pemurnian atau smelter tembaga itu masih sesuai rencana awal yakni di kawasan industri Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) yang berlokasi di Kecamatan Manyar, Gresik.

Sejauh ini, Kementerian ESDM memastikan pembangunan masih tetap sesuai rencana awal di kawasan industri JIIPE Gresik. Hal itu disampaikan oleh Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Sugeng Mujiyanto.

Kendati biaya pembangunan smelter di Halmahera lebih hemat yakni US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 25 triliun, dibandingkan di Gresik yang mencapai US$ 3 miliar atau Rp 42 triliun.

“Sejauh ini ke JIIPE, masih komunikasi,” kata Sugeng sebagaimana dilansir dari Katadata, Selasa (13/4).

Bahkan jika menurut pernyataan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia Luhut Binsar Panjaitan beberapa waktu lalu, seharusnya sudah ada kesepakatan kerja sama antara Freeport dan Tsingshan untuk pembangunan smelter di Halmahera. Namun hingga kini proses diskusi antar keduanya belum juga rampung.

“Saat ini masih diskusi commercial agreement. Ini negosiasi business to business,” kata Juru Bicara Kemenko Marves, Jodi Mahardi.

Sementara itu, juru bicara Freeport Indonesia Riza Pratama mengatakan pihaknya masih menunggu keputusan pemerintah terkait lokasi smelter. Rencana awal, Freeport akan membangun pabrik pengolahannya di di Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur.

“Sesuai perjanjian dengan pemerintah dalam proses divestasi. Tapi keputusan akhir adalah di tangan pemerintah. Yang pasti, Freeport tetap berkomitmen untuk membangun smelter di Gresik,” ujarnya.

Dalam paparan Luhut sebelumnya, pada 31 Maret 2021 akan terjadi kesepakatan kerja sama antara Freeport dengan Tsingshan untuk membangun fasilitas pengolahan konsentrat tembaga menjadi katoda.

“Nantinya, ada dua pabrik smelter yang terbangun di lokasi tersebut. Satu untuk nikel dan satu tembaga,” ujar Luhut dalam Mining Forum Prospek Industri Minerba 2021, Rabu (24/3).

Di lahan seluas 12 ribu hektare (ha) tersebut, semuanya terintegrasi menjadi satu. Smelter tembaga ditargetkan akan beroperasi pada 2023, sedangkan smelter nikel sudah berproduksi.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments