Jatam sebut Antam Obrak-abrik Sumber Kehidupan Warga Halmahera

Dua orang warga barada hutan mangrove yang tercemari lumpur tambang PT Antam. (Foto: Twitter Jatam)

Berita Baru, Jakarta – Aktivitas eksplorasi dan eksploitasi bauksit akan memberikan dampak positif dan negatif terhadap aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan bagi masyarakat sekitar areal pertambangan. Seperti yang ada di Desa Buli, Kecamatan Maba, Halmahera Timur.

10 kilometer dari pusat desa ke utara, terdapat lahan yang menjadi titik kegiatan penambangan biji nikel oleh PT Aneka Tambang Tbk. Sementara di sisi selatan Buli, PT Antam membangun tempat pemurnian (smelter).

Namun demikian, meski berada di titik pusat sumber daya alam ekonomi, data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa warga Buli tetap hidup di bawah gari kemiskinan dengan pendapatan Rp.400 ribu per kapita, (Majalah Tempo, 28/3/20).

Kawasan ekosistem hutan mangrove yang tercemari tambang PT Antam di site Moronopo, Desa Maba Pura, Kec. Kota Maba, Halmahera Timur, Maluku Utara. (Foto: Twitter Jatam)

Bahkan, Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) menilai aktivitas tambang di Halmahera Timur itu telah merusak lingkungan ekosistem hutan mangrove.

“Aktivitas tambang PT Antam di site Moronopo, Desa Maba Pura, Kec. Kota Maba, Halmahera Timur, Maluku Utara, mencemari sungai, pesisir pantai, dan merusak ekosistem mangrove,” tulis akun Twitter @jatamnas, Kamis (8/4).

Menurut Jatam, masuknya Antam ke Halamahera telah mengobrak-abrik sumber kehidupan masyarakat Maba dan Buli. Kejadian itu bukan pertama, tapi sudah terjadi sejak 2006 dan tidak ada tindakan hukum yang tegas dari pemerintah.

“Kawasan Moronopo ini, adalah tempat warga Maba dan Buli menangkap ikan. Di sini ikan bertelur. Para nelayan pun menjadikan tempat ini untuk tambatan perahu atau tempat transit. Tapi, itu dulu, sebelum Antam masuk dan beroperasi mengobrak-abrik,” ujarnya.

Kawasan tambang PT Aneka Tambang Tbk. (Foto: Twitter Jatam)

Jatam melihat pencemaran itu terus berulang, lumpur-lumpur dari lokasi tambang mengalir jauh hingga ke laut, wilayah tangkap nelayan. Namun tetap saja tak ada evaluasi dan penegakan hukum.

“Aktivitas terus berjalan, bahkan tampak dilindungi,” tutur Jatam.

Kejahatan Antam, lanjut Jatam, tidak hanya terjadi di daratan/pesisir Haltim. Pulau Gee & Pulau Pakal sebelumnya juga sudah dibabat. Ekstraksi nikel di pulau kecil itu, meninggalkan jejak kerusakan yang tak terpulihkan.

“Jadi, kejahatan lingkungan oleh Antam itu banyak, terjadi di banyak tempat, telah berlangsung lama. Semua tampak dibiarkan, tak ada evaluasi, penegakan hukum, dan pemulihan,” tukasnya. (MKR)

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini